
5 menit berlalu, cium*an bibir mereka pun terlepas. Terlihat jelas bagaimana malunya Enza saat dia telah melakukan adegan di luar batasannya. Hanya saja, ini bukan kesalahan Enza, lantaran Thoms lebih dulu melakukannya. Enza hanya mencoba menyeimbangkannya, karena dia sendiri memang telah jatuh hati pada sosok Thoms.
Thoms tersenyum kecil, ketika melihat Enza menundukkan kepalanya. Lalu dia memberikan aba-aba pada Enza agar dia menghadap kebelakang sebentar saja, tetapi Enza menolak. Dia takut kalau Thoms akan pergi meninggalkannya, sementara dia tidak tahu persis alamat rumah Thoms.
Dengan segenap keyakinan yang Thoms berikan, akhirnya Enza pun menyetujui. Dia segera berbalik dalam keadaan detak jantung memompa sangat cepat, membuat napasnya mulai tidak beraturan. Wajah panik, khawatir dan penasaran benar-benar berhasil membuat Enza tidak tenang.
"Tu-tuan, Tuan tidak meninggalkanku, 'kan?" tanya Enza menggigit jarinya penuh rasa takut.
"Tidak, tenang saja. Aku masih ada di sini!" ucap Thoms, mempersiapkan semuanya.
"Apa yang sedang Tuan lakukan, apakah saya sudah boleh berbalik?" tanya Enza, hatinya mulai berdebar tidak karuan.
"Dalam hitungan ke-3 nanti, kamu langsung berbalik secara perlahan. Paham?" ucap Thoms, sudah siap dengan semuanya.
Enza menganggukan kepalanya, lalu dia mendengarkan aba-aba yang Thoms katakan agar tidak kesalahan.
__ADS_1
Hitungan dari angka satu sudah mulai Thoms lakukan, dan saat berhenti di angka tiga. Enza langsung berbalik dan matanya membola besar, di mana tangannya spontan menutup mulutnya yang terbuka sangat lebar.
"Will you merry me?"
Satu kalimat yang terdengar simpel, tapi penuh makna itu berhasil membuat Enza hampir saja pingsan. Bagaimana tidak kaget, Enza melihat Thoms berlutut tepat di depan Enza. Salah satu tangannya memegang sebuah cincin, dan satunya lagi memegang buket bunga begitu cantik.
Beberapa detik, Enza terdiam. Air matanya menetes penuh rasa terharu. Ini adalah momen terindah yang ada di dalam hidupnya, bahkan ketika Felix menyatakan cintanya saja tidak seindah ini.
Namun, Thoms yang baru mengenalnya beberapa hari sudah berhasil terjebak di dalam lautan cintanya. Padahal rencana Enza baru saja di mulai untuk memikat hati Thoms, tetapi sekarang tidak lagi. Tanpa melakukan rencana, kini Thoms sudah berada di dalam genggaman tangannya.
Thoms memberikan buket bunga terlebih dahulu, dan segera di peluk sampai di cium oleh Enza saking dia senangnya mendapatkan calon suami seperti Thoms. Kemudian, Thoms memakaikan cincin tersebut ke jari Enza secara perlahan sesekali menatap wajahnya.
Saat cincin sudah mengikat di jari manis Enza, Thoms segera menciumnya sambil berdiri. Enza yang tidak bisa mengabadikan momen bahagianya ini, langsung memeluk Thoms sambil sedikit melompat kegirangan.
"Aaa ... Tuan, terima kasih! Saya bahagia banget, malam ini. Ternyata cinta saya terbalaskan, meski saya belum menyatakannya. Saya kira, Tuan tidak akan mencintai saya, karena saya bukan wanita yang berasal dari orang kaya raya seperti Tuan. Nyatanya, saya salah. Tuan juga mencintai saya, maka dari itu sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Tuan. Terima kasih!"
__ADS_1
Perkataan manis itu terdengar di telinga Thoms, dia hanya memberikan senyuman miring dengan tatapan menyorot ke depan. Seakan-akan itu merupakan senyuman yang penuh arti. Entah apa yang akan Thoms lakukan selanjutnya pada Enza, setidaknya dia sudah membuat Enza berada di dalam genggamannya.
Thoms perlahan melepaskan pelukan Enza, lalu dia menaruh buket itu di atas meja. Dan mereka kembali melanjutkan dansanya sampai melodi musik berhenti. Senyuman, tatapan, bahkan sentuhan bibir bisa mewakilkan cinta mereka berdua yang baru saja bersemi.
Setelah semuanya selesai, Thoms mengajak Enza kembali ke rumah dalam keadaan status mereka bukan lagi orang asing. Melainkan pasangan kekasih yang nantinya akan menjadi sebuah keluarga.
Sifat manja Enza mulai keluar, seakan-akan dia tidak ingin kehilangan Thoms. Pria yang selama ini dia idam-idamkan, sampai Enza benar-benar telah melupakan masa lalunya bersama Felix.
Ya, walaupun Enza tidak lagi mengingat Felix, tetapi bayangan akan kesalahan terhadap Justin terus menghantui setiap kali dia memejamkan kedua matanya. Hanya saja, itu tidak membuat Enza frustasi. Dia lebih cenderung masa bodo, yang terpenting hidupnya sekarang sudah jauh lebih baik dari sebelumnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung