
"Lain kali, kalau mandi itu yang bersih. Lihatlah ini, masa ada daun menempel di rambut sampai tidak tahu. Apa jangan-jangan kamu tidak keramas?" ucap Ernest, cuek. Semua itu dia lakukan demi untuk menutupi kegugupan di dalam hatinya, karena melihat kecantikan istrinya yang luas biasa.
Padahal Moana sudah membayangi, betapa manisnya bibir suaminya itu. Seketika langsung hilang begitu saja, setelah mendengar perkataan darinya.
"Hyaak, enak aja. Aku itu mandi dari jam 5 sampai jam 6 lewat ya, artinya hampir 1 jam setengah aku mandi. Jadi, tidak mungkin kalau aku tidak keramas. Menyebalkan, hump!"
Kebahagiaan Moana berubah menjadi badmood akibat ulah suaminya. Dia langsung memasang wajah cemberut, kesal dan juga bete. Kemudian Moana pergi meninggalkan Ernest dan duduk di kursi sambil melipat kedua tangannya di dada.
Sementara Ernest hanya tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Di saat Moana sedang minum, tiba-tiba dia di kejutkan oleh sesuatu yang hampir membuatnya tersendak. Kedua bola mata Moana membola, dalam keadaan gelas masih berada di bibirnya.
Satu kotak berukuran kecil, terbuka menunjukkan sebuah cincin berlapis berlian yang sangat cantik. Yang lebih-lebih membuat Moana terkejut adalah, pantulan sinar indah dari cincin yang menyala terang.
Moana tercengak, dia tidak tahu harus berkata apa. Mulutnya seakan kaku melihat semua ini, hingga Ernest perlahan berjalan dan berlutut tepat di samping menghadap ke arah istrinya.
__ADS_1
Tatapan mata mereka langsung terkunci satu sama lain, bersamaan detak jantung keduanya yang seakan sedang senam.
Perlahan bibir Ernest bergerak, bersamaan dengan salah satu tangannya yang memegang tangan istrinya. Moana sedikit terkejut atas perlakuan suaminya, sampai matanya mulai berkaca-kaca dan bibirnya pun tersenyum lebar.
"Aku tahu, dan aku sadar. Selama 4 tahun ini, mungkin aku sudah banyak menyakiti hatimu dan juga Justin. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana caranya agar aku bisa mengungkapkan tentang perasaan ini kepada kalian. Terutama kepada istriku sendiri."
"Mungkin, kalau bicara tentang waktu. Ini adalah waktu yang sangat boros bagiku, karena aku menyiapkan semua ini kurang lebih 4 tahun lamanya. Sedangkan urusan pekerjaan, seberat atau sesulit apapun dalam hitungan hari aku bisa menghandle semuanya."
"Namun, entah mengapa. Untuk mengatakan kalau aku sudah mencintaimu, itu benar-benar berat untukku. Bukan berarti aku ini seorang peng*ecut, tetapi ketika aku sudah menyadari akan cinta di hatiku. Semua bayangan kejadian pada waktu itu selalu menghancurkan keberanianku, dan membuatku kembali menyakiti hatimu."
"Kamu tahu, Sayang? Aku sempat tidak pernah percaya sama yang namanya cinta, bagiku semua wanita itu sama. Sama-sama ingin bersama prianya hanya demi sebuah harta, bukanlah cinta. Sampai kejadian itu terjadi diantara kita, semakin membuatku percaya kalau wanita itu memiliki banyak cara untuk menjebak seorang pria, agar bisa menjadi miliknya."
"Pikiran negatif terus berputar di kepalaku, bahkan ketika aku melihat wajahmu selalu membuatku jengkel. Apa lagi sifatmu dan Justin benar-benar sama, semakin membuatku pusing. Hanya saja, aku tidak tahu kenapa. Ketika melihat kedekatan Justin dan Felix, malah berhasil menyadarkanku akan ketakutanku kehilangan kalian."
"Sikapku yang cuek dan masa bodo, pasti tanpa aku sadari berhasil telah memberikan jarak di antara kita. Jujur, aku tidak sanggup bila aku harus kehilangan kalian. Ini adalah cinta pertama bagiku, dan akan menjadi cinta terakhir yang akan aku bawa saat aku tiada nantinya."
__ADS_1
"Aku tidak peduli bila kamu mengatakan semua ini sudah terlambat, bagiku tidak. Selagi kamu dan Justin bersamaku, itu tidak ada yang terlambat. Lebih baik aku terlambat menyadari cinta ini, dari pada aku kehilangan kalian untuk selamanya. Bila kamu tanya padaku, sejak kapan aku mulai mencintaimu? Maka, jawabannya sejak Justin lahir. Disitu aku melihat perjuangan seorang istri untuk melahirkan anaknya, hanya demi membuktikan kalau dia benar-benar mencintai suaminya."
"Jadi, tepat di malam yang sunyi ini tanpa gangguan Justin. Aku berniat untuk kembali melamarmu, bukan menjadi pasanganku. Melainkan rumahku, dimana kamu akan menjadi satu-satunya tujuanku untukku pulang. Ya, aku akui. Aku bukan tipe pria yang romantis dalam mengungkapkan perasaan, tetapi aku adalah suamimu yang akan selalu menjagamu dalam keadaan suka maupun duka."
"Hidupku sekarang bukan lagi tentang kerjaan ataupun uang, melainkan tentang dirimu dan Justin. Untuk itu, aku hanya bisa bilang. Aku sangat-sangat mencintaimu, terlepas dari masa lalu kita. Aku tidak peduli, apa yang sudah terjadi pada waktu itu. Aku akan mencoba untuk berterimakasih sama Tuhan, karena kejadian itu kita bisa bersatu sampai detik ini."
"Apakah kamu siap, kembali memulai hubungan kita berdasarkan cinta, bukan lagi paksaan atas nama anak? Aku janji, aku akan menjadi suami sekaligus Daddy yang terbaik buat kalian. Aku janji, Sayang. Aku janji!"
Bulir-bulir air mata Moana menetes bersamaan dengan senyuman di bibirnya yang sangat lebar. Moana tidak menyangka, ternyata suaminya bisa berbicara seromantis ini terhadapnya. Meskipun, kata-katanya tidak terlalu bagus seperti yang ada di film-film. Setidaknya Ernest sudah mengungkapkan isi hatinya, setelah Moana menunggu penantian selama 4 tahun ini.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung