
"Cukup, Kak, cukup! Ada apa sebenarnya, kenapa Kakak bersikap seperti ini? Kakak ada masalah? Jika benar begitu, cerita sam aku, Kak. Bukan malah menyakiti diri sendiri. Moana gak suka ya, Kakak kaya gini. Moana bilang hentikan, ya, hentikan. Bisa!"
Moana susah payah berusaha menghentikan Thoms supaya tidak kembali menyakiti diri sendiri. Begitu juga Ernest, sang suami terus membantu Moana demi menahan sang kakak ipar demi mengamankannya.
"Sudahi semua ini, Kak. Kita bicarakan baik-baik sebenarnya ada apa, kita ini adik Kakak. Hanya kami yang Kakak miliki, jika Kakak memendam semua itu sendirian bagaimana kami bisa tahu?" tanya Ernest, setelah berhasil membawa Thoms duduk di kursi panjang dekat ruangan Naya.
Thoms terdiam dalam keadaan frustrasi sambil menundukkan kepala ke bawah menatap lantai dengan kedua tangan menjambak rambutnya sendiri.
"Aku bingung harus gimana lagi, Naya marah sama aku karena tak sengaja membentak bahkan hampir melukainya akibat emosiku tidak terkontrol. Aku bingung harus gimana," ucap Thoms yang sudah tidak tahu harus berbuat apa, setelah melihat dokter dan suster langsung mengecek keadaan Naya.
Moana dan Ernest merasa bingung, lantaran terkejut atas apa yang diceritakan Thoms. Setahu mereka berdua, Thoms tipikal pria yang tidak akan pernah menyakiti orang-orang yang disayangnya, tetapi kalau hari ini pria itu terbawa emosi sudah pasti ada sesuatu yang salah padanya.
Kecurigaan mereka berdua memang benar adanya, setelah Moana mencecar Thoms dengan seribu pertanyaan hingga akhirnya sang kakak kembali membuka suara dan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi hari ini.
Keduanya benar-benar terlihat syok karena mendengar semua kisah menyedihkan bahkan menyeramkan. Moana sendiri tidak habis pikir dengan sang kakak kenapa bisa menjadi pembunuh yang sangat kejam seperti itu. Padahal menurut mereka, Thoms cukup membawa Doni ke pihak berwajib dengan melaporkan kasus kejahatannya semua urusan akan selesai. Sehingga Thoms tidak akan mengotori tangannya sendiri untuk melenyapkan mantan asisten Tuan Dewa.
Akan tetapi, kembali pada Thoms. Dia menjelaskan apa yang ada dipikiran mereka tidak semudah yang mereka ucapkan padanya. Jika kasus itu sampai masuk ke meja hijau sudah pasti mereka semua akan terseret masuk ke dalamnya termasuk Thoms sendiri.
Apa yang dikatakan oleh Thoms memang benar adanya, jadi apa boleh buat. Mereka tidak bisa berkata apa-apa selain menenagkan Thoms supaya tidak semakin terbawa emosi. Akan tetapi, ketika mereka sedang asyik berbicara tiba-tiba saja seseorang datang.
"Permisi, Tuan. Maaf menganggu pembicaraannya, saya ingin memberitahu Tuan mengenai Nona Naya. Sebelumnya saya minta maaf, sebenarnya Nona Naya marah bukan hanya karena apa yang Tuan lakukan tadi," ucap seorang bodyguard yang ada di dalam ruangan Naya.
__ADS_1
Dia keluar ketika dokter menyuruh mereka keluar dari dalm ruangan supaya lebih leluasa untuk memeriksakan kondisi Naya. Apalagi gadis itu butuh ketenangan juga kenyamanan, hingga emosi Naya kembali stabil.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Naya bisa semarah itu pada saya? Katakan!" Thoms menatap ke atas melihat kedua bodyguard berdiri di depan sambil menundukkan kepala serta memberikan rasa hormat.
Salah satu bodyguard langsung menjawab apa yang ditanyakan oleh sang atasan dengan meminta izin padanya untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Dari situlah Thoms baru mengerti, marahnya Naya terjadi karena janji yang dikatakan oleh Thoms sendiri meleset dari apa yang sudah diperkirakan.
Thoms terdiam sejenak memikirkan apa yang dikatakan oleh bodyguard tersebut langsung mencubit hatinya. Dia sendiri tidak menyangka apa yang dikatakan olehnya berefek sepanjang ini. Ditambah mood Thoms juga tidak baik, sehingga di saat seperti itu memancing apa yang sedang dia tahan.
"Sudah jelas bukan, di sini siapa yang salah? Itu semua karena ucapan Kakak sendiri. Seandainya Kakak memberikan kabar melalui salah satu anak buah Kakak mungkin efeknya tidak akan separah ini. Atau, Kakak belikan ponsel untuknya jadi sesibuk apa pun di luar kalian bisa saling berkomunikasi secara privat. Apa Kakak paham yang aku omongin ini?"
Moana sedikit memberikan saran yang memang sempat Thoms abaikan. Namun, setelah mendengar masukan itu memang ada benarnya dikarenakan hubungan mereka bukan lagi sebatas atasan dan bawahan, melainkan sepasang kekasih.
Penjelasan dari Ernest dan Moana membuat hati Thoms menjadi lebih terbuka untuk menerima masukan dari mereka. Maklum saja keduanya menjalani hubungan jauh lebih lama dari pada Thoms, jadi sudah dipastikan saran yang telah diberikan bukanlah saran buruk untuknya.
"Baiklah, aku akan menjalani saran dari kalian," ucap Thoms diangguki oleh Moana dan Ernest secara bersamaan sambil tersenyum.
Mata Thoms kembali melirik salah satu bodyguard, kemudian memanggilnya dan meminta untuk membelikan ponsel terbaik keluaran terbaru untuk Naya dengan desain dan warna yang cantik.
Bodyguard tersebut hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkan rumah sakit menuju Mall terbesar cuma demi mencari ponsel yang diinginkan oleh atasannya.
15 menit berlalu, seorang dokter keluar dari ruangan Naya bersama asisten susternya. Thoms, Ernest, dan Moana langsung berdiri menyambut mereka dengan pertanyaan mengenai Naya.
__ADS_1
"Gimana keadaan calon istri saya, Dok? Dia baik-baik aja, 'kan?" tanya Thoms, wajahnya penuh keseriusan serta kekhawatiran terhadap sang kekasih.
"Tenang, Kak. Biarkan dokter menjelaskan semuanya dulu, Kakak harus sabar supaya gak jadi salah paham." Moana mengusap lengan sang kakak sekedar menenangkannya, meskipun tatapan dari sang suami cukup membuatnya tersindir. Akan tetapi, Moana tetap bersikap netral pada sang kakak.
Kecemburuan yang Ernest tunjukkan memang tidak bisa disembunyikan, tetapi masih terlihat menakutkan. Hanya saja, Moana tidak melihat semua itu lantaran berusaha mengalihkan tatapan sang suami.
Di saat semuanya sudah mulai tenang, dokter langsung menjelaskan apa yang terjadi sama Naya hari ini. Di mana gadis tersebut mengalami emosi yang sedikit berlebihan. Akan tetapi, semua sudah diatasi dengan baik oleh sang dokter.
Thoms, Moana, dan Ernest tidak lupa mengucapkan terima kasih atas bantuan dokter telah menenangkan kondisi Naya seperti semua. Pada akhirnya, mereka sudah kembali diperbolehkan menemui Naya yang kini sudah mulai tenang
Selepas perginya sang dokter, mereka bertiga segera masuk ke dalam ruangan Naya dan melihat kondisi gadis itu masih dalam keadaan merajuk sambil menangis.
Perlahan Moana mendekati Naya, lalu duduk di samping bangkar dan memeluk Naya hingga gadis tersebut kembali menangis meluapkan isi hatinya. Thoms dan Ernest hanya menjadi pendengar yang baik, ketika Naya terus mengoceh tentang kekesalan di dalam hati untuk sang kekasih.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1