Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mengganggu Si Gatot


__ADS_3

Suara dering ponsel berulang kali mengganggu malam mereka yang hampir saja terlaksana. Ernest langsung turun dari ranjang dan mengambil ponselnyaz lalu mengangkat dalam keadaan emosi.


[Ada apa, hahh? Apa kau lupa malam ini aku akan melakukan sesuatu pada istriku, terus kenapa kamu malah selalu menganggunya, hahh? Kenapa!]


Seseorang yang mendengar suara lantang Ernest langsung menjauhkan ponselnya sambil mengusap telinganya yang sedikit mendengung. Kemudian, kembali menempelkan ponselnya sedikit gugup dan juga takut.


[Ma-maaf, Tuan. Sa-saya lupa, habisnya banyak pekerjaan yang saya selesaikan. Dan ini saya terpaksa menghubungi Tuan karena ada berita penting, kolega kita yang seharusnya ada jadwal meeting di siang hari baru saja mengganti ke pagi hari. Semua itu, lantaran mereka harus pergi ke luar negeri dan tidak tahu kapan akan kembali ke Indonesia. Jadi dia meminta meetingnya di majukan pukul 8 pagi, kalau Tuan tidak bisa maka semua perjanji yang sudah di tentukan akan di batalkan secara sepihak. Jadi, bagaimana menurut, Tuan?]


Ernest menatap Moana yang sedikit malu karena melihat tubuh suaminya tanpa menggunakan apapun dan berdiri di hadapannya.


Rasa kesal kembali melanda hati Ernest karena niatnya dia ingin melakukan beberapa ronde untuk memuaskan si Gatot, tetapi harus tertunda akibat ada jadwal meeting yang cukup pending. Sehingga kemungkinan besar, mereka hanya akan melakukan 1 atau 2 ronde saja agar tidak membuat Ernest ke siangan.


Setelah menyetujui semuanya ,Ernest kembali duduk di tepi ranjang dan menaruh ponselnya. Wajahnya masih terlihat cemberut serta kesal, membuat Moana sedikit takut. Dia benar-benar ragu untuk menyenggol suaminya yang masih emosi.


Moana perlahan mulai memberanikan diri untuk menanyakan pada suaminya, apa yang sudah terjadi sampai mengakibatkan moodnya berubah drastis.


"Sa-sayang, ka-kamu baik-baik aja 'kan? Me-memangnya tadi siapa yang menelponmu?" tanya Moana, terbata-bata di penuhi rasa gugup dan tangannya mencekram kuat selimut yang menutupi semua tubuhnya.


Ernest merubah posisinya lalu menatap wajah Moana, dimana ketakutan Moana semakin meningkat saat tatapan suaminya benar-benar menyeramkan.

__ADS_1


Perlahan, Ernest mendekat membuat Moana malah sedikit menggeser untuk menjauhinya. Hanya saja, dengan cepat Ernest memegang tangan istrinya sambil menggelengkan kepalanya.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu, Sayang. Ma-maaf bila emosiku membuatmu menjadi ragu untuk melakukannya. Aku hanya kesal aja, karena Felix baru aja memberikan kabar kalau jam 8 pagi aku sudah ada meeting. Padahal semua itu sudah di jadwalkan tepat di jam makan siang, tetapi mereka seenaknya mengubah jadwal sesuka hatinya!"


Tangan Ernest mengusap wajah istrinya begitu lembut, tatapan Moana pun masih terlihat ketakutan. Bukan karena dia keingat sama masa lalunya, melainkan dia takut jika Ernest akan melampiaskan rasa kesalnya pada dirinya. Sehingga suasana romantis bisa berubah menjadi sangat panas dengan jeritan atau tangisan yang akan Moana suarakan.


Namun, apa yang Moana pikirkan barusan adalah salah. Ternyata Ernest masih bisa mengontrol dirinya dan bersikap lembut, terlihat dari cara Ernest memperlakukannya.


"Ma-maaf kalau reaksiku berlebihan, a-aku hanya takut kalau kamu akan menyakitiku," ucap Moana, lirih.


"Sstt, jangan berpikir seperti itu. Jika aku tidak mencintaimu barulah aku akan menyakitimu, tetapi saat ini aku sudah mencintaimu. Jadi, semarah apapun aku tidak akan pernah bersikap kasar padamu," sahut Ernest, tersenyum.


Selimut yang tadinya menutupi tubuh Moana, perlahan di tarik oleh Ernest dan di buang sembarang arah. Lalu, dia kembali menaiki tubuh istrinya untuk mengunci semua pergerakan Moana.


Setelah itu, Ernest kembali mulai memberikan pemanasan pada tubuh istrinya, mulai dari bibir, belakang telinga kemudian turun ke leher. Beberapa tato indah terukir di sana, membuat Moana bergerak meliuk-liuk layaknya cacing kepanasan.


Semua itu, dikarenakan Ernest sangat pandai untuk mencari titik kelemahan istrinya. Hanya sedikit sentuhan sudah berhasil mengeluarkan suara indahnya.


"Ehemm, Sa-sayang."

__ADS_1


"Jangan di tahan, keluarkan saja. Supaya tidak menyiksa dirimu sendiri."


"Huhh, akhhh ... Sa-sayang ge-gelihh ...."


Mendengar kelembutan suara istrinya, semakin berhasil membuat Ernest memuncak, bahkan si Gatot juga sudah menunjukkan jati dirinya di bawah sana lantaran sudah siap untuk di masukan.


Hanya saja, Ernest memilih untuk memainkan si Gatot lebih dahulu agar membuat rumahnya yang kering sedikit licin. Bertujuan agar tidak menimbulkan rasa sakit yang lebih kepada istrinya tanpa adanya pelumas.


Suara-suara indah dari Moana mulai terdengar syahdu di telinga Ernest, artinya Moana sudah mulai naik. Jadi, tanpa basa-basi lagi, Ernest segera mengarahkan si Gatot untuk memasuki rumahnya.


Namun, apa daya. Baru juga si Gatot ingin masuk, lagi dan lagi suara ponsel membuatnya harus menghembuskan napasnya secara kasar. Kali ini bukan dari ponsel milik Ernest, melainkan milik Moana.


Akan tetapi, Ernest tidak menggubris itu semua. Dia kembali memilih untuk meneruskan aksinya, meskipun Moana meminta izin untuk sebentar saja mengangkatnya, lantaran dia takut ada sesuatu yang terjadi pada anaknya. Akankah Ernest berhasil belah duren malam ini atau kembali gagal?


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2