
Melihat Dinda keluar kamar, Moana langsung membawa Justin untuk naik ke atas ranjang. Keadaan seperti ini tidak bisa lagi Moana lanjutkan akibat emosi Justin yang mulai menggebu.
Moana hanya bisa memeluk Justin dalam keadaan tiduran, sedangkan Dinda masih menangis dibalik pintu kamar Justin sambil membayangkan betapa sakitnya Justin dan Moana pada saat itu atas ulah sang suami.
Aku tahu kamu, Sayang. Kamu memang sudah berubah dan berusaha ingin memperbaiki semua kesalahanmu pada mereka, hanya saja aku tidak bisa melihat kesedihan begitu mendalam dihati anakmu, Justin. Dialah orang yang sangat terluka diantara kalian!
Anak kecil tidak bersalah seperti Justin, harus jadi korban keegoisan orang tuanya. Sudah banyak luka yang ada di dalam hati kecil Justin yang tidak kalian ketahui, jika aku ada diposisi Justin pun. Aku akan melakukan hal yang sama yaitu, membencimu, Felix!
Namun, satu yang harus kamu tahu. Di dalam hati kecil putramu itu terdapat emas yang tidak semua anak miliki. Semarah apa pun dia, sebenci apa dia sama kamu. Dia tetap merawat semua benda pemberianmu sebagai pertanda kalau dia sangat menyayangimu. Mungkin, suatu saat secara perlahan kamu bisa kembali berteman dengan Justin sampai hubungan kalian kembali membaik.
Terima kasih, Justin. Kamu sudah membuat Tante sadar, kalau tidak semua orang memiliki keberuntungan di dalam hidupnya. Tante bangga sama Justin, bahkan Tante tidak menyangka kalau Tante ternyata punya anak sehebat Justin. Semoga dalam waktu dekat ini kita bisa kembali berhubungan baik, Tante janji. Tante akan menjadi ibu sambung Justin yang baik, sebaik mommy kandung Justin. Sekali lagi maafkan semua kesalahan Tante dan Ayahmu diwaktu itu, kami sayang sama Justin!
Dinda berbicara di dalam hati sambil menghapus air mata yang tidak ingin berhenti. Tangis Dinda malah semakin deras saat menyaksikan semua ini. Akan tetapi, beberapa detik kemudian Dinda mencoba menenangkan perasaannya agar tidak samakin berlarut di dalam kesedihan.
Setelah tenang, Dinda menghapus air mata sebersih mungkin. Lalu melangkahkan kedua kaki untuk turun ke bawah kembali berkumpul dengan yang lain. Walaupun Dinda sudah tidak menangis, tetap saja senyuman di bibir tidak bisa menutupi wajah sedihnya.
Dinda kembali duduk tepat di samping Felix yang lagi mengobrol dalam keadaan wajah mereka sudah mulai terlihat bahagi. Hanya saja, saat melihat Dinda kembali dari kamar Justin wajahnya berubah drastis.
"Ada apa denganmu? Jangan bilang kamu habis nangis?" tanya Elice, penasaran.l
"Akhh, e-enggak Tante, hehe ... Cuman lagi kurang enak badan aja," jawab Dinda, sedikit berbohong.
"Wah, wah ... Jangan-jangan ... Kamu ...." Elice menghentikan ucapannya dengan mengode Dinda dan Felix secara bergantian.
"Dinda kenapa, Tan?" tanya Felix, penasaran.
Elice memainkan alisnya berulang kali, lalu mencondongkan badan kebelakang sambil memperagakan seseorang yang lagi mengandung. Ernest dan Sakha hanya tersenyum kecil sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Elice yang penuh teka-teki.
"Haahh?" Mulut Felix terbuka lebar melihat Elice. Wajah bingung Felix benar-benar terlihat polos mencerna teka-teki yang diberikan olehnya Elice.
__ADS_1
"Mana mungkin, Tante. Dinda lagi palang merah, jadi tidak mungkin hehe ...."
"Yaaahh ... Tante kira lagi ngisi, gagal deh!"
"Hehe ... Doa'in aja, Tan. Semoga secepatnya ngisi," ucap Dinda tersenyum.
"Hahh? Ngisi? Ma-maksudnya ngisi apa?" tanya Felix, semakin bingung.
"Ngisi air!" seru Elice benar-benar kesal saat melihat Felix begitu lemot saat berpikir.
"Oh, air ... Aku kira---"
"Ckk, dasar bo*doh! Ya, kali istrimu ngisi air, kau kira dia sapi glondongan apa!" sahut Ernest, jengkel.
"Biasalah, dia hanya tahu cara buat istrinya ngisi, tapi enggak tahu isinya apa. Memalukan!" sambung Sakha.
Mendengar semua perkataan mereka membuat Felix bertambah bingung, Dinda sendiri hanya bisa menepuk dahinya ketika sang suami terlihat sangat polos disaat yang tidak tepat.
Dinda berhenti sejenak memikirkan jawaban apa yang harus dia berikan agar tidak membuat semuanya merasa tersingung. Kemudian Dinda menjawab dengan kata-kata yang baik, supaya tetap menjaga perasaan semua orang yang ada di sana.
"Namanya juga anak-anak, Tan. Pasti Justin masih belum bisa menerima kenyataan pahit di dalam hidupnya, meskipun begitu dari kata-katanya yang Justin keluarkan dia tetap peduli sama Felix."
Hanya mendengar penjelasan dari Moana, Felix sudah langsung tersenyum senang. Setidaknya Felix masih mempunyai harapan untuk bisa kembali mendekati Justin.
"Syukurlah, walaupun Justin bersikap seperti itu, dia tetap ingat sama kamu, Fel. Intinya Tante hanya bisa memberikan doa terbaik buat kalian semua, semoga pelan-pelan Justin akan luluh. Aamiin .... "
Aamiin ....
Semua orang mengaminkan dengan penuh harapan terbaik. Dinda sudah tidak kuat menahan rasa pusing di kepalanya ketika habis menangisi Justin.
__ADS_1
"Udah malam, kita pulang ya, kasihan semua udah kecapekan mau istirahat. Nanti kapan-kapan kita ke sini lagi," ucap Moana diangguki oleh Felix.
"Loh, kok, cepet banget, sih! Moana dan Justin aja belum datang ke sini, masa udah mau pulang aja."
"Kak Moana lagi mencoba menenangkan Justin, Tan. Jadi, aku tidak mau mengganggunya. Kasihan Justin dan Kak Ernest, mereka baru pulang dari terapi biarkan mereka istirahat dulu. Ayo, Sayang!"
Felix menganggukan kepalanya lalu berdiri bersamaan dengan Dinda yang juga langsung berpamitan pada semuanya satu sama lain. Selepas Felix dan Dinda pergi, Ernest ke kamar lebih dulu sambil menunggu istrinya yang masih ada di kamar Justin.
Mungkin jika kaki Ernest sehat, pasti akan segera menyusul ke kamar Justin yang ada di atas sekalian menemani sang anak yang sedang terpukul atas kehadiran Felix.
Ernest hanya bisa mengirimkan pesan pada sang istri untuk menanyakan kondisi Justin, tetapi Moana malah melakukan video call agar Ernest bisa melihat sendiri bagaimana Justin saat ini.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di pertengahan jalan, Dinda hanya terdiam menatap ke arah samping melihat pemandangan yang gelap gulita. Maklum saja, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam sehingga jalanan pasti terasa begitu sepi.
Felix yang dari tadi memperhatikan Dinda ada yang aneh, perlahan mengusap pipi sang istri dan membuatnya sedikit terkejut. Dinda langsung menoleh ke arah sang suami dengan tatapan penuh kesedihan.
"Apa apa, hem? Kenapa setelah pulang dari rumah Ernest kamu melamun begini. Apa yang terjadi selama kamu bersama Justin dan Moana? Katakan, Sayang. Aku ingin mendengar semua itu, perasaanku tidak karuan aku takut kedatanganku ke sana membuat Justin semakin membenciku."
"Apa dia benar-benar membenciku? Apa sudah tidak ada lagi maaf dari Justin untukku? Aku tidak masalah, kalau Justin menghukumku itu jauh lebih baik dari pada Justin menghukum dirinya sendiri. Aku tidak mau, Sayang. Please, katakan padaku. Apa yang kalian bicarakan di kamar? Kamu tidak bisa membohongiku, Sayang. Wajahmu yang sembab sudah membuktikan kalau kamu tidak sedang baik-baik saja, pasti kamu habis nangis, 'kan? Jawab jujur, Sayang. Aku mohon!"
Felix berbicara sambil menyetir sesekali melihat Dinda yang hanya menatapnya tanpa mengatakan apa-apa. Selang beberapa detik, Dinda langsung memeluk lengan sang suami dan menangis kembali saat mengingat luka yang Justin rasakan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...