
Moana hanya menganggukan kepalanya, kemudian berjalan perlahan menuju kamarnya. Saat Moana baru saja masuk, dia kejutkan oleh Ernest yang sedang bersiap-siap di depan cermin.
"Ehh, u-udah bangun? Aku kira masih tidur, baru aja mau di bangunin. Ternyata udah rapi, ya sudah sini aku bantu."
Moana berjalan perlahan ke arah Ernest sambil menawarkan diri untuk membantunya. Ernest yang masih terbayang dengan aksinya yang konyol semalam, malah membuatnya menjadi gugup dan juga salah tingkah.
"E-enggak u-usah, aku bisa sendiri. Udah sana bantu Bun---"
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kali-kali menyenangkan suami 'kan tidak masalah. Lagi pula aku hanya memakaikan dasimu kok, bukan membuka bajumu."
Tangan Moana langsung mengambil alih dasi yang ada di tangan Ernest, kemudian memasangkannya di leher. Dimana napas Ernest terdengar sangat tersenggal-senggal. Bahkan jantungnya pun berdebar tidak karuan.
"A-ada apa i-ini? Ke-kenapa tubuhku rasanya kaku, se-seharusnya aku bisa menolaknya, bukan? Terus kenapa aku tidak bisa?" gumam batin Ernest.
Bayangan akan semalam kembali terlintas di pikiran Ernest saat melihat Moana dan sedikit mengintip dari celah baju piyama yang sudah tertutup.
Menyaksikan kegugupan Ernest, berhasil membuat Moana semakin gencar untuk semakin mencari celah bagaimana dia bisa menaklukkan suaminya yang gengsi ini.
Hanya dalam hitungan menit, akhirnya dasi telah terpasang rapi di leher Ernest. Tidak lupa, Moana pun mencium pipi kanan suaminya sebagai penyemangat untuknya.
__ADS_1
"Muachh ... Semangat kerjanya suamiku, jangan lupa jaga kesehatan. Jam makan siangnya harus teratur dan juga jangan kelelahan ya. Aku tidak mau melihat suamiku yang gagah perkasa ini, seketika menjadi lemas tidak bertenaga. Pokoknya aku akan selalu mendoakan, agar hubungan pernikahan kita ini bisa sampai panjang sekali. Dan aku yakin, sebentar lagi kamu akan takluk pada istrimu ini."
Moana berbicara sambil mengusap pipi suaminya dengan tatapan penuh cinta. Kali ini Ernest tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya berdiam diri mematung tanpa bergerak sedikitpun. Seakan tubuhnya kaku, karena ini pertama kali dia mendapatkan perhatian serta cinta kasih yang Moana berikan.
Wajah Moana mulai maju membuat Ernest refleks memejamkan kedua matanya, lantaran dia mengira istrinya akan mencium bibirnya. Akan tetapi, dugaannya salah. Moana malah mendekat ke arah kuping Ernest sambil membisikkan sesuatu.
"Aku akan membuatmu mencintaiku, seperti halnya aku yang telah mencintaimu. Jadi, jangan coba lari dari genggamanku. Karena sampai kapanpun aku tidak akan menyerah dengan cinta ini. Kamu adalah milikku, dan sampai kapanpun aku akan memperjuangkannya. I love you,"
Bisikan itu berhasil menjadikan Ernest berada di atas awan yang sangat tinggi. Tubuhnya mulai melayang-layang entah kemana. Saat mendengar perkataan manis itu, entah mengapa hati Ernest serasa begitu bahagia.
Namun, beberapa detik kemudian saat tangan Moana mengusap dadanya. Ernest langsung memegang pergelangan tangan Moana dan mengangkatnya di depan wajahnya.
"Stop mengatakan sesuatu yang jauh dari angan-angan! Sampai kapanpun aku tidak akan mencin--"
"Ingat, Justin membutuhkan kehidupan yang nyata, bukan rekayasa! Udah akhh, pokoknya yang harus kamu tahu kalau aku ini sangat mencintaimu. Untuk itu, berikan aku izin sedikit saja agar aku bisa membuatmu mencintaiku. Boleh?"
Tatapan menggemaskan yang Moana berikan pada Ernest itu, seakan telah menghipnotis Ernest. Entah keberanian dari mana, Moana bisa mengungkapkan isi hatinya selancar ini tepat di hadapan suaminya. Sehingga, Ernest bisa tahu bila istrinya memang sudah jatuh hati padanya begitu dalam.
Kini, hanya tinggal Ernest yang belum menyadari semua itu. Walau terkadang hatinya ingin sekali mengatakannya, tetapi bayangan akan egonya terlalu dominan. Sampai akhirnya Ernest kalah pada egonya sendiri, dan membiarkannya menguasai hati serta dirinya sendiri.
__ADS_1
"Terserah, kamu mau ngomong apa kek. Bodo amat, yang jelas aku peringatkan sama kamu. Kalau aku ini tidak---"
Satu ke*cupan berhasil membungkam bibir Ernest, bahkan kedua matanya hampir saja melompat dari tempatnya.
"A-apa kau sudah gila, hahh? Bisa-bisanya kau berniat ingin mele*cehkan suamimu sendiri, dasar istri tidak tahu malu!" pekik Ernest kesal. Tangannya langsung segera membersihkan bibirnya yang habis di berikan tanda oleh istrinya.
"Jangankan mele*cehkan\, memper*kosa dirimu pun aku siap\, Sayang. Apapun akan aku lakukan\, demi melawan egomu itu!"
Mata sebelah Moana mengedip dengan tujuan untuk menggoda suaminya. Ernest yang tidak tahu harus bagaimana lagi, bergegas pergi dari kamarnya dalam keadaan tergesa-gesa.
Jika Ernest terus bertahan, sudah bisa di pastikan kalau jantungnya tidak akan sehat. Sebab, detakan jantung yang dari tadi dia rasakan benar-benar berhasil membuat tubuhnya hampir meninggal dunia, hanya karena sikap istrinya yang mulai pandai menggodanya.
"Hyaak ... Dasar istri omes! Tunggu saja nanti, aku akan membawamu ke dokter, supaya otakmu bisa di cuci samapi bersih!"
Ernest pergi seperti orang yang sangat ketakutan, sementara Moana malah tertawa puas sambil memegangi perutnya yang terasa sangat geli. Bagi Moana menjahili Ernest adalah sesuatu yang bisa membuatnya bahagia. Mungkin dengan cara memancing seperti ini, perlahan Moana bisa menarik hati Ernest.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung