
"Apa kau tidak mendengarku, Don?" tanya Tuan Dewa.
"E,ehh ... I-iya, apa,Tu-tuan? Maaf saya terlalu fokus memperhatian Tuan Thoms berlatih," jawab Doni berpura-pura tidak mendengarnya.
"Sudahlah, lupakan saja. Tidak penting juga," ucap Tuan Dewa kembali fokus menatap ke arah depan memantau pergerakan Thoms.
Doni tersenyum kecil nyaris tidak terlihat ketika Tuan Dewa tidak jadi untuk menceritakan apa yang saat ini dia rasakan.
1 bulan telah berlalu, kondisi Tuan Dewa semakin tidak karuan. Kedua kakinya seakan mulai melemas dan tidak bisa berjalan terlalu jauh, sehingga Tuan Dewa harus merasakan kejenuhan di atas tempat tidur.
"Permisi, Kek. Gimana kondisi Kakek? Apakah masih tidak enak badan? Kalau memang seperti itu, lebih baik kita ke rumah sakit. Thoms tidak mau kondisi Kakek kenapa-kenapa, sekalo saja nurut apa kata Thoms, Kek."
Thoms berjalan, kemudian duduk tepat di samping Kakek yang sedang tiduran. Perlahan Kakek bangun dibantu oleh Thoms untuk duduk menyandar disandaran kasur.
"Pelan-pelan, Kek. Kalau gak kuat, tiduran aja gapapa," ucap Thoms dengan wajah yang sangat khawatir.
"Kakek gapapa, Nak. Santai aja, Kakek cuma ngeraya gak enak badan aja kok, maklum udah tua heheh ...." Tuan Dewa mencoba menghibur Thoms, meski itu tidak akan mempan untuknya.
Seharusnya, Thoms yang berusah menghibur Tuan Dewa, tetapi melihat kondisi seperti ini dia tidak ingin melakukan canda gurau seperti apa yang dilakukan biasanya. Terlepas dari sikap Tuan Dewa yang kejam, pria itu bisa merasakan jika sang kakek butuh kasih sayang seorang anak ataupun cucu. Maka dari itu, kakek tersebut mengangkat Thoms sebagai anak sekaligus cucu untuknya supaya bisa menemani masa tua yang sedang dijalani.
"Aku tidak lagi bercanda, Kek. Kita ke rumah sakit sekarang, ya. Aku akan meminta tolong pada Tuan Doni untuk mengurus semua penjagaan, pengawalan, dan segala macam. Dengan begitu, kita akan aman sampai ke rumah sakit tanpa ada yang tahu kalo Kakek sedang sakit."
__ADS_1
Begitu pedulinya Thoms terhadap sang kakek, walaupun Tuan Dewa bukanlah kakek kandung tetap saja cara anak itu memberikan perhatian persis seperti seorang anak dan cucu yang merasa khawatir dengan kesehatannya.
"Tidak perlu, Kakek hanya butuh banyak istirahat saja. Kamu tahu sendiri bukan, bagaimana pekerjaan Kakek selama ini. Mungkin, sudah waktunya Kakek pensiun dari pekerjaan berat itu dan kamu bisa menggantikan Kakek untuk menolong seseorang yang butuh bantuan. Hanya saja, pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Akan ada banyak rintangan yang kamu hadapi, dan pasti sudah tahu seberapa besar resiko yang harus kamu terima nanti."
"Kakek sudah bilang kepada Doni untuk mengajari semua tentang bisnis ini dan apakah malam kamu sudah siap untuk memulai semuanya? Ini adalah ujian pertamamu sebelum kamu bisa melewati proses lainnya untuk segera menemukan adikmu. Ingat, Nak! Pekerjaan ini butuh ketelitian, kecekatan, dan kecerdikkanmu. Bilamana kamu tidak bisa fokus, juga konsesntrasi membaca gerak-gerik musuh seperti yang sudah diajarkan. Malam ini Kakek bisa pastikan kamu akan tumbang!"
Perkataan sang kakek membuatnya terdiam sejenak mencoba memahami apa yang sedang disampaikan. Setelah itu, Thoms menganggukan kepala menatap manik mata Tuan Dewa tanpa mengalihkan sedikit pun. Tangan Kakek terangkat menepuk pipi kanan berulang kaki sambil tersenyum.
"Tidak usah khawatir, semua ilmu yang sudah kau pelajari selama kurang lebih 2 bulan ini. Sudah membuahkan hasil sedikit demi sedikit. Nanti malam juga bukanlah pekerjaan yang terlalu berat, itu hanya sebagian tikus kecil yang ingin mengganggu masyarakat. Berjanjilah padaku, kau akan pulang membawa kemenangan demi merampas balik apa yang mereka rampas dari orang tidak bersalah."
Thoms sedikit mengangkat tangan kanannya, lalu membuka telapak sebagai tanda bahwa dia akan menempati janji tersebut. Tuan Dewa membalas tangan Thoms, kemudian mencekram kuat sebagai perjanjian antar kedua pria yang gagah ini. Beda cerita jika berjanji menggunakan jari kelingking yang melambangkan janji manis, sebab janji yang diucapkan ini merupakan janji seorang kesatria yang akan membawa kemenangan.
"Aku janji, Kek. Nanti malam akan aku buktikan kalau perjuangan Kakek untuk merawatku dan menjadikanku pria kuat tidak akan sia-sia. Aku akan merebut semua hak yang bukan menjadi milik mereka! Setelah itu, aku akan membawa Kakek berobat. Ingat, Kek! Aku tidak ingin ada jawaban seperti tadi, pokoknya kita harus ke rumah sakit. Titik!"
Untuk pertama kali di dalam hati setelah bertahun-tahun lamanya, Tuan Dewa mengucapkan kata bersyukur pada Tuhannya telah mempertemukan dia dengan anak bernama Thoms ini. Rasanya sang kakek ingin menangis dan memeluk sang cucu, tetapi diurungkan niatan itu untuk tetap menunjukkan sisi kekuatannya, bukan kelemahan.
Tanpa mereka sadari, ternyata ada seseorang yang memperhatikan semua gerak-gerik bahkan obrolan antara keduanya. Siapa lagi kalau bukan Doni. Dia datang membawa sebuah makanan yang ada di nampang yang sedang dipegangnya.
Anak buah yang berjaga tepat di depan kamar Tuan Dewa ingin membantu membukakan pintu, tetapi Doni melarangnya dengan alasan menunggu percakapan mereka selesai terlebih dahulu supaya tidak menganggunya. Padahal kenyataan bukan seperti itu, Doni hanya ingin memantau sejauh mana keinginan sang atasan untuk menjadikn Thoms sebagai pengganti yang akan menempati tahta tertinggi memegang kendali atas semua bisnis tersebut.
Kurang lebih 10 menit Doni berdiri di depan kamar, perlahan mulai masuk ke dalam setelah mereka menyudahi percakapannya. Seolah-olah tidak mendengar apa yang mereka katakan, Doni datang sambil meletakkan nampan tersebut di atas meja samping ranjang Tuan Doni.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Ini makanannya, silakkan di makan dulu. Setelah itu, Tuan minum obat dan istirahat supaya badannya cepat pulih atau kalau perlu kita ke dokter saja bagaimana?" tanya Doni, langsung dibalas oleh Thoms tanpa menunggu Tuan Dewa yang menjawabnya.
"Kita selesaikan misi malam ini dulu, Tuan. Besok pagi mau tidak mau kita harus tetap membawa Kakek berobat, jika dia tetap kekeh tidak mau pergi. Kita tarik dokter itu ke sini, supaya tetap ada pemeriksaan karena takut ada sesuatu yang terjadi pada tubuh Kakek."
"Siap, Tuan. Besok akan saya urus semuanya dan jika Tuan Dewi tidak berkenan saya akan carikan dokter terbaik untuk dalang ke sini tanpa mengetahui di mana tempat ini berada."
Begitulah percakapan mereka berdua yang membuat Tuan Dewa merasa tambah senang. Di mana Thoms dan Doni terlihat sangat kompak tanpa mencurigai sang asisten yang ada dibalik semua ini.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Keesokan harinya, Thoms membawakan kabar baik mengenai keberhasilannya untuk menyelesaikan misi yang sang kakek berikan. Betapa bahagianya Thoms jika apa yang dia usahakan semuanya membawa keberhasilan tanpa membuat salah satu dari bodyguard terluka.
Unruk pertama kalinya, Thoms menjadi ketua mafia meskipun, hanya menggantikan sang kakek sedang sakit. Namun, tetap saja ini adalah langkah awal yang baik untuk mencapai tujuan Thoms supaya bisa merebut kembali sang adik dari tangan orang tidak bertanggung jawab.
Melihat raut wajah Thoms bahagia, Tuan Dewa merasa senang. Keyakinan di dalam hati semakin besar untuk mempercayai Thoms sebagai ketua yang kelak akan menggantian dirinya di dalam bisnis berat ini.
Sementara Doni, terpaksa mengukirkan senyuman walaupun hatinya sangat hancur saat melihat Thoms begitu disanjung-sanjung. Padahal, Doni juga pernah menjadi pemimpin yang menggantikan Tuan Dewa jika dalam keadaan tidak memungkinkan. Hanya saja perlakuan sang kakek pada Thoms dan Doni sangatlah berbeda. Dari situ kembali memicu dendam yang semakin meledak-ledak.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...