Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kehilangan


__ADS_3

Peralahan Ernest dan Felix membuka selimut yang menutupi wajah Moana serta Justin secara bersamaan. Muncullah wajah kedua orang yang mereka sayang dalam keadaan sangat pucat.


"Sa-sayang, kenapa kamu ninggalin aku? Apakah aku sejahat itu sama kamu, sampai-sampai kamu memilih pergi untuk selamanya, iya?"


"Ma-maaf, maafkan aku! Aku sudah menyakiti hatimu, tapi jujur semua itu cuman skenario agar aku bisa membuatmu cemburu. Bukan karena aku benar mencintainnya, dia hanya aku bayar untuk memanasimu. Sumpah, aku tidak berbohong! Dengan begitu rasa sakit yang aku rasakan bisa terbalaskan, hanya saja aku tidak ingin kehilanganmu!"


"Please, bangun sayang! Kamu tidak boleh pergi dariku, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengizinkanmu untuk pergi!"


Ernest mencoba menggerakan tubuh Moana agar kembali terbangun, sayangnya. Elice segera menahan Ernest agar tidak memperlakukan menantunya sekasar itu. Tidak lupa, Elice juga memberikan nasihat agar Ernest bisa merelakan apa yang sudah Tuhan tetapkan padanya.


"Cukup, Ernest. Cukup! Walaupun Moana sudah tiada, kamu tidak berhak menyakitinya, lepaskan tanganmu!"


"Bukan begini cara memperlakukan istrimu di saat terakhirnya, sudah cukup kamu melukai hatinya semasa hidup. Jadi, jangan coba-coba kembali mengulang kesalahan yang sama ketika Moana telah tiada!"


Elice berbicara menggunakan nada yang cukup tinggi sambil menekankan si setiap kalimatnya. Lalu, tubuhnya berusaha memeluk Moana untuk melindunginya.


"Aku tahu, Bun. Aku salah! Cuman, bukan begini cara menghukumku. Kalau Moana tidak menyukainya dan merasa tertekan atas sikapku, kenapa dia tidak membalasku? Kenapa dia malah memilih meninggalkan kita semua, kenapa!" teriak Ernest, suaranya bergema di dalam ruangan.


"Itu karena dia sudah lelah melihat sikap orang yang sangat dia cintai selalu menyakitinya. Terutama menyakiti hati anaknya!"

__ADS_1


"Tidak ada seorang Ibu yang kuat ketika melihat anaknya di sakiti, hingga di perlakukan sekasar itu. Akan tetapi, seorang Ibu tetap kuat meski hati serta mentalnya sendiri berulang kali di hancurkan!"


"Sampai sini kamu paham, hahh? Mungkin ini jalan yang terbaik untuk Moana dan Justin agar mereka bisa bahagia tanpa kehadiranmu yang terus menyiksa mereka!"


Kata-kata Elice mampu membungkam anaknya sampai tidak bisa berkutik sedikit pun. Ernest hanya bisa berdiri dalam keadaan air mata terus menetes samping menatap perlakuan Elice terhadap menantu kesayangannya itu.


Sampai akhirnya, Ernest dan kedua orang tuanya mendengar suara yang terdengar sangat-sangat menyakitkan. Di mana seorang Ayah sedang menatap wajah anaknya sambil tersenyum dan meneteskan air matanya.


Felix menundukkan tubuhnya menggenggam tangan Justin dan satunya lagi mengusap kepalanya sesekali mencium keningnya.


"Hai, sayangnya Ayah. Apa kabar, Sayang? Udah lama kita tidak bertemu, pasti Justin bingung ya kenapa Paman memanggil diri Paman dengan sebutan Ayah?"


"Jawabannya itu karena Ayah kandung Justin itu adalah Ayah, bukan Daddy Ernest. Mungkin Justin bingung sama penjelasan Daddy, tetapi inilah kenyataannya, Sayang. Daddy Ernest hanya Ayah sambung yang merawatmu, sedangkan Paman ini adalah Ayahmu. Ayah kandung sama seperti Mommymu yang sudah melahirkanmu."


"Ayah mohon, Justin buka matanya ya. Ayah di sini, Sayang. Ayah ingin meminta maaf sama Justin dan menjelaskan semuanya, asalkan Justin bangun, ya!"


"Justin tidak boleh meninggalkan Ayah sendiri di sini, kalau Justin mau pergi. Justin ajak Ayah aja, jangan ngajak Mommy. Kasihan Daddy Ernest, dia pasti kesepian tanpa istrinya. Jadi, Ayah mohon sekali lagi. Justin tidak boleh tidur, Justin harus bangun. Ayah kangen sama Justin, Ayah kangen!"


"Bangun, Sayang. Ayo bangun! Ayah tidak bisa hidup tanpa Justin, sebulan saja tidak bertemu rasanya hati Ayah begitu hampa. Apa lagi Ayah harus kehilangmu selamanya, Ayah tidak sanggup. Itu sangat berat, Sayang. Berat!"

__ADS_1


Felix menangis kejar ketika dia harus menatap wajah terakhir anaknya yang sebentar lagi akan meninggalkannya sejauh mungkin. Berat sekali rasanya, bagi Felix untuk melepaskan anaknya pergi. Dia tidak rela, jika semua ini merupakan kenyataan yang akan dia sesali seumur hidupnya.


Beberapa kali Felix berpikir kalau dia sedang berada di dalam mimpi, tapi hasilnya tidak. Felix benar-benar berada di dunia nyata yang memang harus mengalami kehilangan seseorang yang sangat dia sayangi.


"Tenanglah, Fel. Kamu itu laki-laki, kamu harus bisa bangkit dari semua rasa sakit ini. Relakan mereka pergi agar mereka bahagia, dari pada mereka kembali hidup, tetapi kalian menyakitinya, buat apa? Lebih baik mereka memilih jalan mereka sendiri demi kebahagiaan."


Nasihat Sakha sama sekali tidak di gubris oleh Felix. Dia hanya memeluk serta mencium anaknya berulang kali sebelum akhirnya dia harus melepaskan putra kesayangannya untuk terakhir kalinya.


Setelah beberapa menit, akhirnya sang dokter dan beberapa suster serta perawat datang untuk segera mengurus jenazah mereka agar bisa segera di kebumikan dengan layak.


Teriakan, tangisan serta penyesalan semua menjadi satu kesatuan ketika perlahan bangkar Moana dan Justin di dorong keluar ruangan menuju ruangan yang seharusnya.


Elice berusaha memeluk Ernest sambil menahannya ketika terjatuh di lantang dalam keadaan tangan ingin menggapai Moana. Sama seperti Sakha, dia juga berusaha menahan Felix agar tidak membuat kegaduhan di rumah sakit.


Kini, Ernest dan Felix harus merasakan kehilangan orang-orang yang sangat penting di dalam hidupnya dengan sebuah penyesalan teramat mendalam, akibat orang yang di sayangi telah tiada untuk selamanya.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2