Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Salah Paham


__ADS_3

"Kak, sini!" panggil Moana, ketika dia sedang asyik bermain air.


Felix perlahan mendekati Moana, lalu tersenyum menyipitkan matanya "Duduklah, jangan seperti itu. Kasihan anakmu, nanti kalau ada apa-apa gimana?"


"Tenang saja, Kak. Ini am-- aarghh ...."


Melihat Moana hampir terpeleset, Felix langsung bergerak untuk menyelamatkannya. Dia berusaha memeluk Moana tanpa di sengaja. Kemudian melepaskanya di saat keseimbangan tubuh Moana sudah kembali.


"Sudah aku bilang, 'kan? Ngeyel banget sih jadi cewek!"


"Coba kalau ada apa-apa dengan anakmu? Nyawaku yang akan menjadi taruhannya, paham!"


Tatapan tajam yang Felix berikan malah membuat Moana terkekeh kecil. Tidak sedikit pun dia merasa takut, berbeda jika suaminya yang memarahinya.


"Hihi ... maaf, Kak. Aku janji deh, enggak akan ngulanginnya lagi. Pisss!"


Moana menjewer kupingnya sendiri sambil duduk dan mengukir senyuman ala pepsodent kepada Felix. Kalau begini caranya, bagaimana Felix bisa marah. Sedangkan wajah gemas Moana benar-benar bisa meredakan emosi di dalam dirinya.


"Sudah sore, kita cari makan dulu ya sebelum pulang. Kasihan anakmu, pasti dia sudah sangat lapar dan juga haus." ucap Felix.


"Boleh, aku juga udah lapar. Ayo kita cari makan, tapi Kakak yang teraktir aku. Oke? Hehe ...." sahut Moana, cekikikan.


Felix menggelengkan kepalanya, perlahan memegangi tangan Moana untuk melangkah dari bebatuan menuju tempat yang lebih aman. Setelah itu Felix berjalan mengikuti langkah Moana dari arah samping.


Sampai seketika mereka berhenti di tempat kuliner yang cukup ramai. Di sana Moana mencoba untuk memilih beberapa menu-menu yang akan dia makan.


Sementara Felix terus berusaha menjaga Moana dari kerumunan atau dorongan yang akan membahayakan kondisi Moana.


Benar-benar terlihat seperti seorang suami yang sangat menjaga istrinya sendiri. Berbeda bila Moana bersama Ernest, sikapnya terlalu cuek dan juga acuh kepada istrinya.

__ADS_1


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Tidak terasa hari sudah semakin malam, Ernest pun sudah kembali ke rumah lebih dulu. Selang 1 jam, barulah Moana sampai di rumah di antar oleh Felix.


Namun, tanpa di sengaja Ernest melihat dari atas kamarnya melalui jendela bahwa Felix dan Moana terlihat sangat bahagia.


"Terimakasih ya, Kak. Hari ini aku senang banget, Kakak sudah mau menemaniku kemanapun aku pergi." ucap Moana sambil tersenyum, menatap Felix yang menyandar di mobilnya.


"Sama-sama, selagi kamu bahagia. Aku pun ikut bahagia, yang penting jaga baik-baik anakmu. Jangan ceroboh, jangan setres, dan juga jangan cengeng."


"Ingat, anakmu adalah titipan Tuhan. Jadi, jangan pernah menyia-nyiakan kesempatan itu. Sebab, banyak yang menginginkannya, tetap belum bisa memilikinya. Paham maksudku?"


Moana menganggukkan kepalanya. Dia sangat mengerti nasihat yang Felix berikan padanya, malahan Moana bersyukur memiliki Kakak seperti Felix yang sangat perhatian melebihi suaminya sendiri.


Akan tetapi, entah mengapa kaki Moana tiba-tiba saja sedikit terkilir hingga dia terjatuh di dalam pelukan Felix.


"Apa-apaan ini, hahh? kenapa mereka malah berpelukan layaknya pasangan? Ckk, dasar tidak tahu malu. Bagaimana jika Bunda sama Ayah sampai melihat semuanya? Apa mereka tidak berpikir sejauh itu!"


Tangannya kembali menutup pintu, sambil berbicara di dalam hatinya. "Ehh, tunggu! Ngapain juga aku peduli, bukannya malah bagus ya? Jika Bunda atau Ayah melihat adegan itu, pasti mereka akan marah besar dong?"


"Setelah itu mereka membenci Moana, kemudian menyuruhku untuk menceraikannya. Dengan begitu aku akan segera terbebas dari pernikahan ini!"


Ernest tersenyum sambil berbalik membelakangi pintu, kakinya melangkah berjalan menuju sofa panjang dan kembali melanjutkan pekerjaannya.


Tanpa Ernest sadari, dia hanya salah paham kepada Moana dan juga Felix atas kejadian yang dia lihat barusan.


Namun, entah mengapa pikirannya malah berpikir sampai sejauh itu. Berbeda dengan hatinya yang terasa sedikit tercubit, ketika menyaksikan istrinya memeluk pria lain.


Setelah memastikan Moana kembali ke rumah dalam keadaan baik-baik saja, Felix segera kembali ke Apartemennya sendiri.

__ADS_1


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Moana masuk ke dalam rumah tanpa menemukan siapa pun, bahkan dia juga sama sekali belum mengetahui bahwa mertuanya sudah pulang dari luar negeri.


Jadi, Moana berjalan saja seperti biasanya karena tidak menemukan siapa pun di ruang tamu ataupun di ruang keluarga.


Wajah bahagia Moana terus bersinar, sampai akhirnya ketika dia baru masuk ke dalam kamarnya. Lagi-lagi suaminya selalu saja berhasil merenggut senyum itu, dan menggantinya dengan perasaan yang sangat kesal.


"Bagaimana jalan-jalannya, seru? Ohh, pasti dong. Apa lagi pas di peluk sama pria yang bukan suaminya di depan rumah. Uhh, tambah nyaman ya?"


Ernest menyindir Moana dengan gaya santainya sambil merentangan kedua tangan di sofa. Lalu salah satu kakinya dia naikan ke kaki satunya.


"Ma-maksud Tuan apa, berbicara seperti itu? Siapa juga yang peluk-pelukan, aneh!" jawab Moana, bingung.


"Oh, saya tahu. Tuan itu hanya salah--"


"Sudahlah tidak perlu menjadi wanita munafik di depan saya. Semua itu tidak akan mempan, karena saya sudah membaca semua taktik wanita seperti dirimu. Setelah mendapatkan atasannya, lagi-lagi ingin mengincar asistennya? Sungguh, cantik sekali permainanmu ja*lang!"


Ernest tersenyum menatap remeh ke arah istrinya sendiri, sehingga Moana yang merasakan sakit hati ketika mendengar perkataan suaminya. Langsung saja pergi ke arah ruangan ganti, mengambil pakaiannya lalu pergi ke arah kamar mandi.


Ernest sedikit terkejut mendengar Moana membanting pintu cukup keras, tanpa di sadari di balik pintu Moana menangis sambil duduk meringkuk.


Air matanya mengucur deras, dimana dia harus selalu mendengar kata-kata yang menyakitkan dari suaminya sendiri. Sementara Ernest selalu tersenyum tanpa merasa bersalah, ketika menyakiti istrinya dengan kata-kata yang tidak seharusnya dia ucapkan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2