Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Bertemu Dinda


__ADS_3

Di dalam mobil, Ernest baru saja pulang dari meeting penting. Kali ini Ernest tidak pergi bersama Felix, karena dia sudah memecatnya secara tidak hormat. Akan tetapi, tidak lupa Ernest memberikan pesangon dengan total 10 M untuk Felix.


Itu semua sebagai bukti, karena selama ini yang membantunya mengurus Perusahaan untuk bisa berdiri di posisi ini adalah Felix. Ibaratkan itu adalah balas budi yang bisa Ernest berikan pada Felix, setidaknya dia tidak lagi ada hutang kepada pria yang sudah berhasil menghancurkan hidupnya.


Di balik rasa kekecewaan Ernest pada Felix, tetapi dia masih memikirkan kebaikan-kebaikan yang Felix berikan padanya. Mungkin, jika bukan karena bantuan Felix saat ini Ernest tidak akan berada di ambang kesuksesan seperti sekarang.


Kini, Ernest hanya fokus untuk mencari asisten pribadinya dengan bantuan sekretarisnya. Dia membuka lowongan pekerjaan untuk di sebuah internet, sesuai dengan kriteria yang diinginkan.


Ketika Ernest sedang menikmati jalan yang cukup sepi kendaraan, dia melihat dari jarak jauh ada seorang wanita duduk dalam keadaan murung di pinggir trotoar jalan dengan beberapa tas yang ada di sampingnya.


Setelah mobilnya mulai mendekat, di melihat wajah yang tidak asing di dalam ingatannya ketika wanita itu sedikit mendongak sambil meminum sebuah aqua.


Perlahan Ernest menghentikan laju mobilnya tepat di dekatnya. Di situ Ernest kembali mengingat siapa orang tersebut, tidak butuh waktu banyak akhirnya Ernest mengingatnya dan segera turun dari mobilnya.


"Dinda? Kenapa kau duduk di pinggir jalan seperti ini, dan itu tas apa?" tanya Ernest, bingung.


Dinda menyudahi minumnya, dan matanya menyipit mendongak ketika melihat Ernest berdiri di hadapannya.


"Tuan? Kenapa Tuan ada di sini?" tanya balik, Dinda.


"Harusnya saya yang nanya seperti itu padamu!" tegas Ernest.


"Saya di usir dari kontrakan karena sudah 4 bulan tidak membayarnya, makannya saya duduk di sini sambil memikirkan langkah apa yang harus saya ambil," jawab Dinda, wajahnya terlihat bingung.

__ADS_1


"Kenapa kau tidak menghubungiku, hahh? Bukannya aku sudah bilang, setelah pul---"


"Waktu itu saya sudah menghubungi, Tuan. Saya telah memberitahu Tuan, jika saya sudah berhenti bekerja. Cuman Tuan bilang, kalau Tuan tidak peduli sama semua itu bahkan saya mati pun itu bukan urusan Tuan."


Penjelasan Dinda berhasil membuat Ernest langsung terdiam, dia kembali mencoba mengingat semuanya. Sayangnya dia tidak ingat sama satu panggilan yang menghubunginya dalam keadaan masih di selimuti oleh kemarahan.


Tanpa basa-basi lagi, Ernest segera meminta Dinda untuk masuk ke dalam mobilnya. Dia akan mengajak Dinda pergi ke tempat yang lebih nyaman lagi untuk mereka sekedar mengobrol sambil makan siang.


Pertamanya Dinda menolak, sebab dia tidak percaya sama perkataan Ernest karena sudah mengecewakan dan tanpa di sengaja membuat kehidupan Dinda menjadi seperti ini.


Namun, lama kelamaan Dinda menyetujuinya setelah Ernest memberikan tawaran menarik untuknya agar bisa kembali bekerja.


Mereka masuk ke dalam mobil bersama-sama, lalu mobil pun mulai kembali berjalan dalan kecepatan sedang. Posisi mereka duduk saling bersebelahan tanpa sedikit pun ada percakapan di antara mereka.


Ernest memilih tempat yang tidak terlalu ramai agar mereka bisa makan sambil mengobrol tanpa gangguan siapa pun.


Dinda hanya mengikuti Ernest, meski perasaannya sedikit canggung. Ini kali pertama dia menginjakkan kaki di sebuah Resto besar dengan segala kemewahan yang dia lihat.


Tangan Ernest melambai ke atas memanggil seorang pelayan. Sebuah buku menu yang cukup besar di taru di atas meja dengan sopan, agar mereka bisa memesan makanan sesuai seleranya masing-masing.


"Saya pesan Steak Terderloin, minumnya Fruit Tea. Kamu?" tanya Ernest, memberikan daftar menu pada Dinda.


Wajah bingung Dinda tidak bisa di tutupi, lantaran dia bingung mau pesan apa. Hanya saja, dia tidak ingin malu-maluin Ernest di depan pelayan tersebut.

__ADS_1


Dinda mencari menu makanan yang membuatnya tidak terlalu sulit untuk memakannya, agar tidak terlihat begitu norak di depan Ernest.


"Saya pesan Nasi Goreng Seafood dan juga minumnya Fruit Tea saja," ucap Dinda, tersenyum kikuk sambil menutup buku menunya.


"Baiklah, Tuan, Nyonya. Jadi, pesanannya 1 Steak Terderloin, 2 Fruit Tea dan 1 Nasi Goreng Seafood. Apa ada lagi yang harus saya catat?" tanya pelayan itu, menatap Ernest dan Dinda secara bergantian.


"Tidak, makasih!" jawab Ernest, cuek.


Dinda pun menganggukan kepalanya, lalu pelayan itu langsung mengambil buku menu tersebut sambil sedikit membungkuk. Setelah itu dia pergi dan akan kembali saat semua pesenan sudah selesai di siapkan.


Ernest dan Dinda terlihat diam, di mana Ernest membuka ponselnya untuk mengecek nomor yang masuk ke dalam daftar panggilannya. Dia meminta Dinda untuk menyebutkan nomor ponselnya kepada Ernest untuk di cek.


"Maaf jika saya sudah memarahimu, mungkin waktu itu saya dalam keadaan kurang baik. Jadi, tanpa sengaja saya mengucapkan saya telah menyakitimu. Terus gimana setelah keluar dari pekerjaan itu, tidakkah kamu mendapatkan pesangon? Terus kenapa kamu tidak membayar kontrakan selama itu, padahal kamu kerja setiap hari. Dan gajimu setiap bulan bukan?"


Beberapa pertanyaan itu, langsung mendapatkan gelengan kepala dari Dinda. Dia malu untuk mengatakan keadaannya saat ini, apa lagi penderitaannya begitu pedih.


Tundukkan kepala Dinda, mewakilkan jawaban dari Ernest apa bila Dinda sangat berat untuk menceritakan kisah hidupnya yang terasa menyedihkan. Bagaimana pun, Dinda mencoba untuk menceritakan sedikit kisahnya pada Ernest mengapa dia sampai ada di posisi saat ini.


.......


.......


.......

__ADS_1


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2