Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Sendiri Jauh Lebih Baik


__ADS_3

Setelah itu mereka kembali melanjutkan acara sarapannya dalam keadaan sunyi. Selesai makan roti, mereka bertiga pun menikmati buah sebagai pencuci mulut.


Sakha begitu menikmati buah jeruk yang istrinya kupaskan, sedangkan Ernest menikmati buah tanpa sentuhan dari sang istri. Melihat semua itu membuat Elice merasa sangat kasihan, sudah setahun ini Ernest harus melakukan semuanya sendirian di usia yang tidak lagi muda.


Seharusnya, saat ini Ernest sedang menikmati kelucuan serta perkembangan sang anak. Akan tetapi, semua itu kandas ketika dia baru menyadari pentingnya keluarga.


Penyesalan yang ada di dalam hidupnya, membuat Ernest menjadi kaku juga dingin. Tidak ada satu pun perempuan yang bisa mendekatinya, seakan-akan Ernest telah menutup mata hatinya hanya demi cinta pertamanya, yaitu Moana.


Hanya saja, dia tidak bisa mengubah takdir yang sudah Tuhan rencanakan. Di mana Ernest harus sadar ketika semuanya sudah berakhir untuk selamanya. Tanpa dia ketahui, bahwa anak dan istrinya masih hidup di negeri orang dalam kondisi sehat.


"Makannya cari istri, biar ada yang ngurusin. Inget! Umurmu semakin hari semakin tua, kalau udah ada uban di kepalamu maka ayah pastikan tidak akan ada satu wanita pun yang ingin bersamamu!"


Perkataan Sakha langsung mendapatkan pukulan kecil dari sang istri tepat di pahanya. Elice memberikan kode menggunakan tatapan matanya yang terbilang tajam pada suaminya sendiri.


"Mau sampai kapanpun, aku hanya ingin hidup bersama dengan Moana dan Justin. Bukan yang lain, paham!"


Suara Ernest sedikit meninggi, persis seperti membentak Sakha. Padahal itu bukan bentakkan, melainkan rasa prostes ketidak sukaan Ernest terhadap perkataan ayahnya sendiri.


"Mereka sudah lama pergi, mana mungkin bisa kembali hidup. Kamu itu jangan ngadi-ngadi, Ernest! Tidak ada yang namanya mayat tiba-tiba bangun sendiri, kamu kira istri dan anakmu itu Mumi!"


"Intinya, Ernest tidak akan pernah menikah lagi, titik! Cinta Ernest hanya untuk Moana, bukan wanita lain. Jika ayah mau, ayah aja yang nikah sana. Ernest tidak mau!"


"Memangnya boleh?"


Jawaban terakhir yang Sakha ucapkan, benar-benar membuat Elice naik pitam. Dia langsung menjewer telinga suaminya dengan kekuatan ekstra.

__ADS_1


Sakha terus mengeluh kesakitan sambil mencoba melepaskan tangan istrinya, "A-awsshh ... Sa-sayang, le-lepasin, sa-sakit!"


"Bodo amat, terus aja kaya gitu ya, terus! Awas aja malam minta jatah, aku potong tuh burung perkutut. Biar kapok!"


"Huaaa ... Ja-jangan dong sayang, udah tahu ini burung makin ke sini makin rada-rada. Bangunnya susah, sekalinya bangun keluarnya cepet banget,"


"Terserah, aku tidak peduli!"


Perdebatan keduanya membuat Ernest hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka kedua orang tuanya begitu random saat membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan napsu.


"Uhh, untung saja tidak ada Justin. Kalau ada kasihan dia, pasti kupingnya tidak akan suci lagi melihat Oma dan Opanya seperti ini. Tapi, ngomong-ngomong kalau di pikir-pikir usia Justin pasti sekarang sudah 6 tahun. Dan, sebentar lagi dia akan sekolah. Andai saja, mereka masih ada. Pasti aku selalu menemani Justin setiap berangkat sekolah sebelum ke kantor."


"Entahlah, kenapa aku sangat yakin kalau mereka itu masih hidup. Apa ini pertanda kalau mereka tidak ingin jauh dariku? Apa mereka sudah memaafkanku atas semua sikapku yang sudah memberikan kesan buruk di sisa hidup mereka?"


"Maafkan Daddy, Justin. Daddy sadar kalau tidak ada kamu, pasti Daddy dan Mommy tidak akan bersatu. Seharusnya Daddy berterima kasih karena kehadiranmu membuat Daddy menemukan cinta sejati. Bukan malah membencimu atas semua kejadian itu, sekali lagi maafkan Daddy!"


"Sekali lagi, Daddy minta maaf pada kalian. Daddy janji, jika suatu saat nanti kita bertemu. Daddy akan berubah dan memperlakukan kalian sebagai bagian dari hidup Daddy, bahkan lebih dari itu. Daddy janji!"


Ernest berbicara di dalam hatinya sambil menundukkan kepalanya. Mata Ernest mulai berkaca-kaca, ketika dia harus mengingat kedua orang yang sangat dia sayangi dalam penyesalan.


Hubungan Elice dan Sakha yang sudah mulai membaik, malah di kejutkan oleh keadaan anaknya yang terdiam merenung. Sikap seperti ini sudah bisa mereka tebak, bila saat ini Ernest pasti sedang memikirkan anak dan istrinya yang sudah tiada.


"Nak, kamu baik-baik aja 'kan?" ucap Elice, tatapannya penuh kesedihan melihat kondisi anaknya saat ini.


Ernest mengangkat kepalanya perlahan sambil mengedipkan kedua matanya untuk mengalihkan bulir-bulir air mata yang hampir menetes.

__ADS_1


"Ernest, gapapa. Ya sudah, Ernest mau ke---"


"Tunggu dulu, Bunda mau nanya. Apa kamu benar-benar sudah tidak ingin menikah, atau membina keluarga gitu?"


"Tidak, sendiri jauh lebih baik!"


"Memangnya kamu tidak merasa iri melihat semua teman bisnismu sudah memiliki anak, bahkan anaknya sudah pada sekolah atau masih ada yang baru belajar jalan."


"Aku lebih iri melihat mereka yang bahagia menerima semua kekurangan anak serta istrinya tanpa mempermasalahkan sedikit pun. Sehingga mereka bisa hidup bahagia, berbeda denganku. Aku malah menyakiti mereka setelah mengetahui siapa Justin sebenarnya, padahal semua itu bukan salah mereka!"


"Itu yang selalu bunda dan ayah jelaskan padamu, hanya saja kamu tidak mendengarkan kami. Kamu lebih memilih mendengarkan egonu sendiri, sampi akhirnya takdir berkata lain. Mereka pergi secara bersamaan sebelum kamu sadar atas kesalahanmu!"


"Mungkin ini hukuman buatku, jadi aku pantas menerima kesendirian ini. Intinya aku akan menjaga cinta ini hanya untuk Moana dan Justin. Bukan orag lain! Mau sampai mulut kaliam berbusa pun, Ernest tetap tidak akan menikah kalau bukan bersama Moana!"


"Ya sudah, terserah kamu aja. Bunda tidak bisa berkata apa-apa lagi, meski bunda sama ayah menginginkan teman di masa tua. Cuman, kami berusaha untuk bisa mengjormati keputusanmu. Atau kita adopsi anak saja, sebagai penganti Justin. Gimana?"


"Aku bilang tidak, ya tidak, Bun! Sampai kapanpun tidak ada satu orang pun yang bisa menggantikan Moana ataupun Justin. Sampai sini paham? Dahlah, Ernest berangkat kerja dulu!"


Ernest bangkit dari kursinya sedikit memukul meja untuk membuktikan keseriusannya atas semua jawaban yang dia berikan pada kedua orang tuanya. Sehabis itu, Ernest pergi begitu saja menuju kantornya dengan penampilan seadanya.


Elice dan Sakha saling melihat satu sama lain, mereka tidak menyangka sekuat itu tekat Ernest untuk mempertahankan penyesalannya terhadap Moana dan Justin.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2