Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Seseorang


__ADS_3

Malam hari di saat semuanya sudah tertidur pulas, Thoms malah pergi ke ruang belakang dekat kolam. Dia tiduran di kursi kolam yang terbuat dari kayu atau rotan sambil menatap langit dan menyalakan rokok.


Beginilah Thoms, ketika pikiran dalam keadaan tidak baik-baik saja. Mungkin, jika berhubungan dengan pekerjaan Thoms tidak akan segalau ini. Akan tetapi, jika berhubungan dengan orang yang dia sayang sudah paati hatinya akan merasa kesepian, dilema, juga galau yang membuat pikirannya tidak tenang.


"Mau sampai kapan kalian akan menjauhi Papa, Justin, Barra? Ya, Papa akui Papa ini memang orang yang paling jahat untuk kalian. Papa hampir sama membu*nuh salah satu dari kalian hanya karena keegoisan Papa yang tidak bisa membedakan mana dendam dan mana keluarga. Cuma, Papa tidak tahu harus melakukan apa lagi pada saat itu selain melenyapkan semua keturunan yang berhubungan dengan musuh dari kedua orang tua Papa, kakek dan nenek kalian."


Mata Thoms mulai berlinang karena dia harus kembali mengingat semua kejadian itu, lalu menyatukan puzzel-puzzel yang dia ketahui dari Sakha supaya menjadi kesatuan yang perlahan akan membuang semua dendam di dalam hatinya.


"Papa tahu, apa yang Papa lakukan memang salah, salah besar. Tapi, Papa bingung. Satu sisi kekek dan nenek kalian meninggal karena dibunuh oleh komplotan mafia opa kalian. Papa sudah berhasil melenyapkan ketua mafia yang telah membu*nuh kakek kalian, tetapi Papa belum bisa melenyapkan asisten dari ketua mafia itu yang sudah membunuh nenek kalian."


Satu air mata lolos membasahi pipi dengan pandangan tetap menatap ke arah langit, dengan sebatang roko berukuran sedang yang masih menyala sesekali menghisapnya.


"Jujur saja, pada saat itu Papa tahu, jika opamu adalah asisten mafia itu rasanya berat sekali untuk Papa menerima kenyataan ini. Namun, tidak ada cara lain. Dendam di hati Papa sangatlah besar terhadapnya sehingga Papa tidak bisa membedakan mana keluarga dan mana dendam yang memang harus diakhiri,"


Tanpa Thoms sadari ternyata ada seseorang yang dari tadi sudah memantaunya. Dia mendengar semua percakapan yang Thoms katakan tanpa menimbulkan suara yang akan membutnya curiga.


Di sini juga, Thoms tidak meminta para bodyguard berjaga di dalam rumah. Mereka hanya boleh berjaga di sekeliling rumah karena di dalam rumah meruoakan area privasi keluarga Ernest. Tidak seperti dulu yang 24 jam harus diawasi bagaikan tahanan.


"Seandainya Justin dan Barra tahu, hati Papa sakit sekali ketika melihat penolakan yang kalian berikan. Hati Papa rasanya teriris-iris ketika sorot mata kalian begitu takut, dan sangat kecewa atas apa yang sudah Papa lakukan pada keluarga kalian. Namun, mau bagaimanapun. Tidak ada sedikit saja niat Papa untuk mencelakakan kalian. Semua murni timbul akibat rasa dendam yang membekas hingga menjadi lautan dosa yang selama ini Papa lakukan,"

__ADS_1


Thoms merubah posisinya menjadi duduk dalam keadaan air mata sudah berjatuhan. Lalu, menginjak rokok agar baranya mati dan tidak menimbulkan percikan yang akan membuat benda-benda disekitar terbakar.


Pria itu menundukkan kepalanya, menangis dengan menyembunyikan kepala agar langit tidak akan melihat betapa lemahnya pria itu ketika dihadapkan oleh dilema yang cukup berat.


"Papa rela dihukum bahkan kehilangan salah satu anggota tubuh Papa asalkan itu bisa membayar lunas kesalahan Papa pada kalian berdua. Setelah itu, kita bisa kembali main bersama tertawa, bercanda, apa pun itu seperti sediakala. Papa tahu, kata maaf tidak akan cukup untuk membuat kalian kembali ke dalam pelukan Papa. Namun, kalian harus tahu, Sayang. Walaupun, Papa hanya sekedar paman kalian, bagi Papa kalian tetap anak-anak Papa yang sangat Papa sayangi. Papa tidak ingin kehilangan kalian, Papa tidak bisa!"


Tangis itu sudah tidak dapat dibendung kembali. Thoms menangis menatap ke arah bawah dengan tubuh sedikit bergetar membuat seseorang yang dari tadi memperhatikannya merasa kasihan. Akan tetapi, kakinya sedikit gemetar ketika ingin berjalan mendekatinya.


Wajah orang itu terlihat takut karena sudah menguping semua yang dikatakannya. Rasanya dia ingin berlari memeluk Thoms, tetapi enggan dilakukan akibat ketakutan yang membuat dia masih tidak ingin mendekat.


Baru ingin berbalik dan meninggalkan tempat itu, tiba-tiba saja seseorang berbicara membuat suasana semakin menegang. Dia tidak tahu harus melakukan apa, seakan-akan kakinya menempel di lantai dan tidak dapat digerakkan untuk berjalan atau lari menghindari seseorang.


"Siapa di sana?" tanya seseorang ketika melihat adanya bayangan manusia. Saking penasarannya, orang itu berjalan mendekati ke arah kolam untuk melihat sesuatu apa yang tadi dilihatnya.


Sayangnya, ketika orang tersebut berada di tengah-tengah pintu ke arah kolam yang terbuka hanya melihat bekas putung rokok di dekat kursi kolam.


"Rokok? Siapa yang malam-malam merokok? Apa ini kerjaan Kak Thoms? Hem, pasti dia. Hanya dia yang masih mengkonsumsi benda mema*tikan itu. Dasar, awas aja besok pagi aku akan langsung menjewermu. Bisa-bisanya di rumahku merokok begini, untung saja gak ada anak-anak. Kalau ada bahaya buat paru-paru mereka. Menyebalkan!"


Seseorang yang tadi memanggil ternyata adalah Moana. Dia habis dari dapur untuk mengambilkan air putih untuk suaminya, tetapi tidak sengaja melihat bayangan seseorang di dekat pintu kolam. Namun, dia kalah cepat Thoms sudah tidak ada di kolam lantaran dia langsung mengamankan seseorang lainnya yang diduga dialah orang yang sebenarnya Moana lihat.

__ADS_1


"Huhh, untung kamu tidak ketahuan sama Mommymu. Coba kalau ketauan, pasti kita akan abis dimarahinya." Thoms duduk di samping orang itu yang ternyata adalah Justin.


Pada waktu yang bersamaan, ketika Moana berbicara saat melihat bayangan Justin. Tiba-tiba saja Thoms terkejut melihat sang ponakan sudah berdiri di dekat pintu dalam keadaan membelakanginya. Tubuhnya sedikit gemetar, tetap Thoms langsung menggendong dan membawanya kabur lewat pintu samping menuju taman.


Thoms dan Justin duduk di kursi taman dalam keadaan sang ponakan terdiam membisu dengan kedua tangan mengepas, tatapan kosong ke arah depan dan wajahnya memerah akibat berusaha menahan rasa marah terhadap pamannya sendiri.


Setelah menyadari keadaan Justin tidak baik-baik saja, Thoms merasa kasihan. Dia segera merubah posisinya berjongkok di depan Justin yang duduk di kursi taman dengan tatapan keduanya saling bertolak belakang.


Perlahan, Thoms menundukkan kepala sekilas kemudian kembali menatap ke arah Justin sambil menarik napas panjang dan membuangnya melalui mulut. Semua itu dilakukan untuk mengurangi rasa gugup serta memikirkan kata-kata apa yang pantas untuk dibicarakan supaya tidak semakin menyakiti hati sang ponakan.


Ketika Thoms mulai menjelaskan kepada Justin sambil meminta maaf, tiba-tiba saja amarah sang ponakan meledak-ledak dan susah untuk dikendalikan. Sampai akhirnya, emosi itu menimpulkan kekerasan membuat Thoms hanya terdiam menerima semua pukulan demi pukulan yang telah diberikan oleh sang ponakan dengan senyuman.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2