
Ernest mendorong kursi roda yang dipakai Sakha memasuki kamar Naya bersama Elice di sampingnya. Mereka memasang wajah tersenyum demi menyapa Naya dan Thoms yang sudah menunggu kehadiran mereka.
"Pagi, Kak. Maaf jika aku dan keluargaku sudah mengganggu waktu kalian. Kami ke sini ingin menyelesaikan semuanya supaya tidak semakin berlarut-larut. Apakah Kakak sudah siap.mendnegar penjelasan dari Ayahku?"
Ernest membuka suara untuk mewakilkan kedua orang tuanya. Terlihat jelas bila Thoms masih sangat menyimpan dendam ketika wajahnya menatap Sakha meskipun, dalam jarak kurang lebih satu meter.
Tangan Thoms mengepal keras berusaha menahan gejolak emosi yang ada di dalam hati akibat dendam yang selama ini membuat hidupnya tidak tenang. Namun, usapan tangan Naya langsung meredakan amarah sang kekasih. Dia tersenyum lebar membuat Thoms tidak berkutik sama sekali selain membals senyuman itu.
"Ingat, Sayang. Kamu itu pria yang hebat, jadi harus bisa mengontrol dirimu agar dendam dan emosi tidak selalu mengusai diri. Percayalah, mereka orang baik. Semoga penjelasan yang disertai bukti-bukti akan membuat hatimu kembali terbuka lebar menerima kenyataan. Aku di sini, Kak. Aku akan selalu mensuport Kakak dan kita mulai semua dari nol layaknya anak bayi yang baru lahir. Oke?"
Thoms menganggukan kepala tersenyum mengusap pipi Naya. Melihat kemesraan mereka, keluarga Ernest menjadi ikut bahagia. Apa pun yang Thoms lakukan kemarin-kemarin tetap membuat mereka akan selalu mendukung serta memberikan doa terbaik untuk keduanya.
Selesai berbicara dengan Naya, Thoms kembali menatap mereka semua dan mempersilkan untuk duduk di sofa panjang yang ada di kamar Naya. Sementara gadis itu, tetap berada di atas bangkar sambil melihat semuanya duduk bersama di depannya.
"Jadi, bukti apa yang kalian punya untuk mengelak kenyataan yang sudah saya lihat menggunakan kedua mata kepala saya sendiri? Apakah itu dapat dipercaya? Atau bukti rekayasa?" tanya Thoms menatap satu persatu dari keluarga Ernest dengan tatapan mata tajam tanpa ekspresi.
"Maaf, Tuan. Izin menjelaskan semuanya, di dalam amplop kuning ini ada bukti yang cukup kuat dan dapat dipercaya. Silakkan, Tuan baca terlebih dahulu. Setelah itu, saya akan memberikan pengertian dari bukti yang sudah Tuan baca tersebut."
Sakha tersenyum di kursi rodanya, lalu meminta Ernest untuk menyerahkan bukti yang mereka bawa kepada Thoms. Dengan cepat, pria itu langsung merampas keras dari tangan adik ipar. Untung tidak sampai sobek karena amplop tersebut satu-satunya bukti yang selama ini Sakha sembunyikan.
__ADS_1
Perlahan Thoms membuka amplop dan membaca setiap tulisan kecil yang ada dikertas putih berlogo rumah sakit. Betapa terkejutnya Thoms ketika dikertas itu tertulis tentang otopsi korban jiwa puluhan tahun lalu yang meninggal akibat kebakaran.
Anehnya, kenapa otopsi dapat dilakukan sementara pada saat itu, Sakha dan komplotan mafia beserta bosnya telah membakar habis rumah tersebut. Yang lebih-lebih mengejutkan Thoms kembali adalah pemakaman layak yang tertera atas nama kedua orang tuanya.
Runtuhlah air mata Thoms setiap kali membaca isi kertas tersebut dengan sangat teliti dan berulang-ulang kali. Thoms tidak menyangka, ternyata orang tuanya telah dimakamkan dengan layak oleh Sakha. Namun, pria itu benar-benar bingung maksud dan tujuan mertua adiknya untuk apa melakukan smeua itu?
Kenapa juga, semua isi yang ada di dalam kertas saling bertolak belakang sama pikiran Thoms selama hidup ini? Apa semua bukti di kertas itu palsu? Atau, Sakha memang sudah merencanakan jauh-jauh hari jika semua kejadian ini akan terjadi dikemudian hari?
Entahlah, pikiran Thoms sangat kacau. Dia tidak dapat berpikir jernis selain membaca ulang semua kertas itu demi meyakinkan apa yang dia lihat dan baca semua bukanlah salah. Namun, benar saja. Di dalam kertas itu ada logo asli dari rumah sakit ternama yang pada jaman dulu sudah memiliki nama tersendiri.
Thoms menatap Sakha dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipi. Kebingungan di dalam bola mata pria itu langsung terbaca jelas oleh mertua adiknya. Dia hanya tersenyum, menunggu apa yang akan ditanyakan oleh Thoms.
"A-apa maksud dari ini, Tuan? Kenapa bisa kau melakukan otopsi tanpa persetujuan dari keluarganya? Dan, bagaimana caranya kau bisa melakukan otopsi dan pemakanan layak sementara semua yang kau lakukan sangat bertentangan dengan atasanmu? Dengan caramu seperti itu, sama saja kau sudah mengkhianati atasanmu!"
"Jadi begini, Tuan. Pada malam itu, saya mengalami kecelakaan hingga Moana hilang dari pelukan saya entah ke mana. Sedangkan, kedua bodyguard saya tiada akibat kecelakaan tersebut. Saya dirawat di salah satu rumah sakit, yang ternyata rumah sakit itu adalah rumah sakit yang menangani korban-korban meninggal dunia di rumahmu. Entah bagaimana rumah sakit itu bisa menangani khasus di rumahmu, saya tidak tahu."
"Saya hanya fokus pada orang tua anak kecil yang waktubitu saya tidak tahu jika itu adalah Moana, adik Tuan. Saya keluar dari rumah sakit, kemudian membawa lima bodyguard yang sangat menjaga kepercayaan saya. Sebenarnya saya juga sudah lelah, ingin mengakhiri semua pekerjaan itu. Akan tetapi, bayaran yang diberikan untuk mengambil semua harta keluarga kalian sangatlah besar. Pikir saya ini lumayan untuk mengirimkan uang kepada istri dan anak saya agar hidup mereka tidak lagi kesulitan. Namun, saya tidak menyangka. Jika atasan saya berniat ingin melenyapkan semua anggota keluarga Tuan hanya karena dia tidak mau sampai apa yang sudah dirampas suatu saat kembali dirampas oleh keluarga tua."
"Saya kaget, pas senjata saya arahkan ke Mamah Tuan,, tiba-tiba terdengar ledakan yang membuatnya tewas di tempat. Namun, itu bukan dari saya. Saya hanya ingin menakut-nakuti saja, tidak lebih. Dari situlah saya berniat ingin mencari bukti yang suatu saat nanti akan berguna bagi saya. Dan, benar bukan? Apa yang sudah saya susun sedemikian rupa ternyata berguna untuk menjelaskan apa yang terjadi pada saat itu."
__ADS_1
"Saya, beserta kelima bodyguard tanpa sepengetahuan yang lain bahkan atasan saya melakukan pengancaman terhadap dokter yang bertugas untuk menangani khasus orang tua Tuan. Saya meminta dokter itu untuk mengeluarkan peluru yang ada ditubuh ibu Tuan dan menyamakan dengan peluru disenjata kesayangan saya. Semua tahu, saya hanya memiliki satu senjata yang tidak pernah diganti dari mulai awal saya memegang senjata sampai senjata itu saya simpan rapat di gudang rumah. Jika Tuan tidak percaya, Tuan bisa melihatnya sendiri."
"Selepas semua itu terbukti bahwa, bukan saya pelakunya semua bukti itu saya kumpulkan. Kemudian saya dan kelima bodyguard kepercayaan itu, langsung mengamankan jenazah orang tua Tuan untuk dimakankan selayak mungkin untuk menebus rasa bersalah saya karena tidak bisa menjaga Moana yang pada saat itu hilang entah di mana. Semua dengan bantuan dokter tersebut yang saya bayar mahal, serta menutup rapat mulutnya agar semua yang saya lakukan tidak sampai ke telinga atasan saya."
"Selepas itu selang beberapa tahun lamanya ada sebuah mafia yang tidak tahu dari mana asalnya langsung menyerang markas kami. Untungnya, pada saat itu saya dan kelima bodyguard sedang tidak ada di markas. Kami hanya memantau semua dari jarak jauh dan melihat semua mafia itu menggunakan topeng berbeda-beda membuat kami bingung. Apalagi, atasan kami lenyap ditangan ketua mafia itu yang saya sendiri tidak tahu. Melihat adanya peluang yang besar, saya beserta kelima bodyguard langsung pergi sejauh mungkin demi menghilangkan jejak. Namun, sayangnya. Saya mendengar kelima bodyguard itu tewas di tangan mafia bertopeng. Saya yakin, mafia itu adalah mafia yang ada di bawah tanganmu, benar 'kan, Tuan?"
Thoms terdiam membeku di mana haya ada air mata yang menetes di pipi. Tidak tahu arti dari air mata itu karena dia merasa bersalah terhadap Sakha, atau memang kembali teringat kejadian menyedihkan di masa lalu.
Tatapan merah dari mata Thoms membuat semuanya langsung berjaga-jaga. Akan tetapi, Sakha tidak takut. Selagi dia benar apa pun akan di hadapi sebisa mungkin meskipun, nyawa menjadi taruhannya.
Elice, Ernest, dan Naya semakin menegang ketika Thoms sama sekali tidak memberikan respons apa pun atas cerita yang sudah disampaikan oleh Sakha.
Moana sendiri saja merasa terharu, walaupun masa lalu sang kakak dan Sakha sangatlah buruk. Melihat sedikit kebaikan di dalam hati mertuanya untuk memakamkan kedua orang tua menantunya dengan layak, benar-benar tidak dapat membuat Moana berkata-kata selain terima kasih disertai tangisan bahagia.
Jangankan Moana, keluarga Sakha sendiri saja merasa terharu ketika mendengar kisah itu. Dikarenakan mereka mengira Sakha adalah orang yang sangat jahat, tetapi nyatanya tidak. Mungkin kejahatan yang Sakha lakukan, jauh di bawah kejahatan Thoms sebagai ketua mafia. Mendengar adanya kebaikan meski hanya sedikit tetap membuat kesalahan Sakha di masa lalu serasa menghilang begitu saja di mata semua orang kecuali, Thoms yang masih terdiam membisu.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...