
Di dalam kamar, Ernest langsung meluapkan rasa kesalnya sambil menendang angin. Entah kenapa, perasaan cemburu itu muncul di dalam hati Ernest.
Selama ini dia telah berusaha untuk bersikap biasa saja agar hatinya tidam merasa panas saat melihat kedekatan Felix dan juga Justin.
Namun, apa daya. Semakin Ernest menahan perasaan itu semakin membuat emosi di dalam dirinya menumpuk dan kali ini tidak bisa lagi di bendung.
"Aarghh ... Kenapa mereka semakin hari semakin terlihat begitu dekat? Kenapa! Bahkan saat Justin sakit pun dia beberapa kali mencari Felix, sementara aku? Aku yang sebagai Daddynya malah bersikap cuek padanya!"
"Apa salah Justin padamu Ernest, apa! Kenapa aku tidak bisa, sedikit saja bersikap lembut terhadap anakku sendiri. Sedangkan Felix yang bukan Daddynya, selalu tahu bagaimana cara mengambil hati anakku. Berbeda sama diriku yang selalu merasa kesal padanya, apa lagi saat melihat tingkahnya yang ngeselin. Entah mengapa aku malah langsung kesal, bukannya menasihatinya seperti yang Moana contohkan."
"Ada apa sih sama dirimu Ernest, ada apa! Enggak istrimu, enggak anakmu, semuanya kau jauhi. Untuk mengatakan perasaanmu aja pada Moana, kamu selalu mengulur waktu. Aku tidak mengerti sama diriku sendiri, aku benci suasana ini. Aku benci! Arrghh ...."
Ernest berteriak keras sambil mengacak-ngacak isi kamarnya sendiri. Untungnya kamar itu tidak pernah Ernest matikan kedap suaranya, walaupun dia tidak melakukan apapun bersama Moana. Sehingga suara yang berasal dari kamarnya tidak pernah terdengar sampai ke bawah.
Saat Moana masuk ke dalam kamarnya, dia langsung terkejut dan berlari untuk menyelamatkan sesuatu yang ada di tangan suaminya.
"Hentikan, Ernest. Hentikan!" pekik Moana, menahan tangan Ernest dan berdiri tepat di hadapannya sambil menatapnya penuh ke khawatiran.
"Minggirlah, dan tinggalkan aku sendiri!" ucap Ernest penuh penekanan, sorotan matanya sangatlah tajam bagaikan seekor Elang.
__ADS_1
"Aku tidak akan minggir ataupun meninggalkanmu, ingat itu! Jadi, aku mohon kebalikan vas bunga itu ke tempatnya. Kita bisa membicarakan semuanya secara baik-baik, kok. Jika kamu ada masalah apa, katakan padaku. Kita cari solusinya bersama. Bukan seperti ini, Ernest!" sahut Moana, penuh ketegasan. Bola matanya bergerak ke kanan dan ke kiri mengikuti bola mata suaminya.
Ernest terdiam dalam keadaan dada bidangnya masih naik-turun. Moana bisa melihat emosi yang sangat besar sedang menyelimuti hati suaminya. Sampai akhirnya, salah satu tangan Moana yang menahan tangan Ernest di atas kepala, perlahan mulai turun. Kemudian mengusap dada suaminya sambil menasihatinya.
"Tenang, Sayang. Tenang! Aku tahu bagaimana prasaanmu ketika melihat kedekatan Justin sama Kak Felix. Hanya saja, bukan begini caranya. Kamu harus bisa menurunkan egomu untuk menarik perhatian anak kita. Kamu bisa belajar dari cara Kak Felix memperlakukan Justin, aku yakin. Suatu saat nanti Justin juga akan bersikap seperti itu sama kamu, bahkan bisa lebih dari Kak Felix."
Senyuman yang Moana tunjukkan, perlahan membuat hati Ernest menjadi tenang. Lalu, Moana membimbing Ernest untuk mengembalikan vas bunga yang tadinya ingin dia pecahkan. Sebagai bukti, kalau dia sedang emosi.
Setelah vas bunga sudah berada di tempatnya. Moana menggandeng tangan Ernest sambil membawanya untuk duduk di sofa panjang saling berhadapan satu sama lain.
"Ka-kamu ta-tahu dari mana, kalau aku marah saat melihat kedekatan anakku sama Felix?" tanya Ernest, terbata-bata dan sedikit bingung.
"Hanya saja aku takut, bila aku menegurmu kamu malah menjadi salah paham. Akhirnya aku diam, dan di hari inilah aku yakin. Ada sesuatu yang tidak beres dengan dirimu, makannya aku susul ke sini. Dan nyatanya? Benar bukan, kamu itu cemburu sama kedekatan Justin dan Felix."
"Aku hanya bisa berpesan, kalau kamu memang merasa seperti itu. Seharusnya kau jangan marah, kamu bisa mengambil pelajaran bagaimana kamu bisa mengambil hati anakmu. Banyak cara kok, asakan kamu punya niatan yang kuat untuk membuat Justin bisa lebih dekat denganmu dari pada orang lain."
Penjelasan yang Moana berikan pada suaminya sambil memegang tangan, membuat Ernest terkesima sama cara Moana yang menenangkannya.
Sudah banyak penderitaan yang Ernest berikan pada Moana, sampai detik ini. Semua itu karena Ernest lebih cenderung untuk mempercayai egonya dari pada hatinya.
__ADS_1
Perlahan Ernest mulai meminta bantuan pada Moana untuk mengambil hati Justin. Ernest takut, jika Justin malah lebih nyaman pada orang lain dari pada Daddynya sendiri.
Dengan senang hati, Moana tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Pertanda bila dia akan berusaha keras membantu suaminya untuk bisa lebih dekat sama anaknya sendiri.
Setelah beberapa menit berbicara, Moana kembali meminta Ernest untuk turun ke bawah dan bermain bersama anaknya sesuai sama apa yang Moana katakan.
Namun, sebelum turun. Ernest pergi ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya agar lebih terlihat segar supaya tidak membuat semuanya merasa curiga.
Sementara Moana membereskan kamarnya yang cukup berantakan. Barulah mereka keluar dari kamar menuju ruang keluarga bersama-sama.
Rasanya tidak rela, ketika Ernest melihat Felix bermain bersama Justin dalam keadaan tertawa lepas. Berbeda jika Justin bermain sama Daddynya sendiri, di situ emosi Ernest kembali muncul. Akan tetapi, dia mencoba untuk menahannya agar tidak sampai meluap seperti sebelumnya.
Mata Moana mengode Ernest untuk dia mencoba bersikap ramah terhadap anaknya. Walau pun terlihat masih sangat kaku, setidaknya Ernest ada kemajuan mencari celah agar bisa masuk ke dalam hati Justin.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung