Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Meninggalnya Tuan Dewa


__ADS_3

"Baiklah, Tuan. Jika memang Tuan ingin mendonorkan ginjal kepada Tuan Dewa boleh saja, tetapi banyak syarat yang harus Tuan penuhi agar tidak sembarang orang bisa menjadi pedonor," ucap sang dokter membuat sang kakek tersenyum.


Sebenarnya, dia diam bukan berarti menyetujui apa yang Thoms akan lakukan padanya, melainkan karena dia sudah menebak semua ini akan terjadi. Dikarenakan menjadi pendonor itu tidak semudah apa yang Thoms katakan.


"Syarat? Apa syaratnya, Dok? Katakan, aku akan memenuhinya." Wajah Thoms berubah menjadi serius, membuat dokter tersenyum.


"Jadi, begini Tuan. Menjadi seorang pendonor, baik darah, ginjal, jantung, mata, dan sebagainya itu memiliki persyaratan tersendiri. Tidak semuanya sama, alangkah baiknya sebelum Tuan mengatakan seperti itu Tuan pikirkan baik-baik dulu. Sebab persyaratan paling utama pendonor ginjal harus berusia 18 tahun ke atas sampai berusia 60 tahun dengan kesehatan yang sangat bagus, baik fisik maupun mental. Belum lagi harus memiliki golongan da*rah yang sama, serta berat badan yang normal. Tidak meroko, tidak mengonsumsi alkohol, ataupun obat-obatan. Tekanan darah normal, tidak pernah melakukan transplantasi sebelumnya, juga tidak memiliki penyakit-penyakit yang membahayakan untuk diri sendiri juga pasien yang akan mendapatkan donor tersebut. Terpenting, akan ada banyak pemeriksaan sampai benar-benar bisa memenuhi syarat yang sudah diberlakukan. Sampai sini Tuan sudah paham?"


Penjelasan dari sang dokter membuat Thoms terdiam seribu bahasa. Tidak lagi mendengar kata-kata yang keluar dari mulut anak kecil itu ketika mengetahui banyaknya syarat yang harus dia lakukan. Sementara usianya saja masih di bawah umur, pasti akan membutuhkan waktu bertahun-tahun lamanya untuk menjalani persyaratan tersebut.


Itu pun kalau cocok, bagaimana jika tidak? Perjuangan akan sia-sia, sedangkan sang kakek sangat membutuhkan transplantasi secepat mungkin karena bertahan dengan satu ginjal tidaklah mudah.


"Gimana, Nak? Kok, diam? Katanya tadi mau donorin ginjalnya buat Kakek, terus kenapa setelah mendengar penjelasan dokter jadi bingung, hem?" tanya Tuan Dewa, berhasil membuyarkan pikiran Thoms.


"Aku cuma lagi mikir aja, Kek. 18 tahun itu masih sangat lama, itu juga kalau semua kesehatanku dan da*rahku cocok. Gimana kalau tidak? Siapa yang harus menjadi pendonor Kakek? Apa Tuan Doni saja. Dia 'kan, sudah berusia 20 tahun lebih, terus juga sehat. Jadi, dia suruh coba ikuti syarat itu aja siapa tahu cocok."


Jawaban yang keluar dari mulut Thoms berhasil membuat Doni terkejut bukan main. Wajahnya langsung menatap tidak suka atas apa yang dikatakan anak pungut itu untuk menyarankan supaya dia menjadi pendonor. Tanpa mereka ketahui niat Doni ingin melenyapkan Tuan Dewa tinggal sedikit lagi, jika dia sampai mendonorkan ginjalnya itu sama saja seperti masuk ke dalam lubang yang sudah digali sendiri.


Melihat reaksi Doni yang terkejut, sang kakek hanya bisa tersenyum kecil. Dia sangat tahu, Doni tidak akan mungkin melakukan semua yang Thoms katakan. Ibaratkan Doni bekerja hanya untuk menunjukkan kesetiaan pada Tuan Dewa, bukan menyumbangkan sebagian tubuh atau nyawa untuknya.


Terlihat bukan, jika tidak semua oramg memiliki hati sebaik Thoms padahal, mereka tidak saling kenal bahkan tidak memiliki ikatan da*rah. Namun, Thoms dengan mudahnya mengatakan semua tanpa rasa takut akan kema*tian sendiri, lain dengan Doni yang merasa berat untuk menlakukan semua itu.


"E,ee ... I-itu Tu-tuan Thoms, sa-saya punya penyakit da-darah tinggi. Jadi, ti-tidak mungkin saya bisa mendonorkan ginjal sebab itu akan membahayakan kondisi kami berdua. Bukan begitu, Dok?"

__ADS_1


Dokter manganggukan kepala perlahan pertanda apa yang dikatakan Doni memang benar. Tidak ada cara lain selain Thoms meminta kepada dokter untuk segera mencarikan pendonor terbaik untuk sang kakek, serta dia akan segera mengumumkan pada semua bodyguard yang bersedia menjadi pendonor dengan jaminan besar.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Kurang lebih 1 tahun, keadaan Tuan Dewa sudah mulai membaik. Kekuatan tubuhnya perlahan kembali bagaikan bangkit dari kema*tian. Thoms dan semua bodyguard ikut merasa senang karena sekarang sang kakek sudah tidak melakukan perawatan di rumah.


Hanya ada satu orang yang merasa tidak senang, siapa lagi kalau bukan Doni. Dia harus menahan semua rencana supaya tidak terjebak di dalam rencananya sendiri. Seandainya Doni tetap nekat pasti nyawa akan menjadi taruhan. Sehingga, pria itu sebisa mungkin menahan sampai keadaan benar-benar stabil barulah meneruskan misi-misi yang sempat tertunda.


Selama bebarapa bulan Tuan Dewa kembali melakukan aktifitas seperti semula bersama Thoms. Sudah banyak musuh yang lumpuh berkat Thoms yang semakin lihai melawan mereka.


Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba kondisi sang kakek kembali melemah jauh lebih parah dari sebelumnya. Thoms dan Doni membawa Tuan Dewa ke rumah sakit. Setelah itu, dokter menyatakan bahwa, sang kakek mengidap penyakit yang sudah komplikasi. Di situ semua terkejut kecuali, Doni.


Akhirnya apa yang pria itu lakukan semua berjalan sesuai apa yang dia prediksikan. Tuan Dewa tidak lagi berdaya, tetapi jangan salah dia sudah menduga semua ini akan terjadi bila ada seseorang yang sudah merencanakan.


Thoms sendiri tidak mengetahui persoalan itu, sampai semua bodyguard yang mengetahui disuruh tutup mulut demi keamanan mereka. Tidak lupa ada satu bodyguard kepercayaan Tuan Dewa untuk menyelidiki gerak-gerik Doni yang semakin hari semakin berubah.


Ternyata benar bukan, Tuan Dewa telah mengetahui bahwa, Donilah dalang dari semua itu. Cuma, dia tidak berani mengatakan apa pun pada Thoms dalam kondisi sudah tidak berdaya. Ditambah ada ancaman dari Doni akan menyakiti Thoms apabila dia membuka mulut.


Sebenarnya, bisa saja Tuan Dewa membuka mulut tanpa memperdulikan keselamatan dirinya. Hanya saja, dia tidak ingin Doni nekat melakukan hal buruk pada Thoms sebelum tahta itu jatuh ke tangan sang cucu.


Doni tidak pernah meninggalkan Tuan Dewa sedikit pun karena takut. Pria tua bangka itu akan membuka mulut demi membocorkan semua ini, sampai akhirnya dia harus mengawasi 24 jam bagaikan asisten yang sangat setia.


Sang kakek berpesan pada Thoms untuk berjaga-jaga dengan lingkungan sekitar karena bisa saja musuh sebenarnya ada di dekatnya. Hanya saja, Thoms masih tidak paham atas apa yang dikatakan Tuan Dewa, lantaran semua itu berisikan teka-teki yang sulit dipahami.

__ADS_1


Bagaimana tidak, Tuan Dewa takut akibat Doni menatapnya dengan tatapan mema*tikan. Baru ini sang kakek tidak berdaya atas dirinya sendiri, sementara dulu dialah yang sangat disegani oleh semua orang. Namun, kali ini dia berusaha sekedar menyelamatkan nyawa Thoms dari Doni sampai tahta itu ada ditangannya.


Akan tetapi, siapa sangka. Tepat di hari ulang tahun Thoms yang ke-17 tahun. Sang kakek menghembuskan napas terakhir setelah mengucapkan selamat ulang tahun untuk terakhir kalinya. Ditambah Doni begitu cerdik karena telah berhasil mengelabuhi semua orang termasuk Thoms, jika seseorang yang sudah membu*nuh Tuan Dewa adalah salah satu bodyguard di sana.


Oleh karena itu, Thoms baru sadar kalau teka-teki yang Tuan Dewa berikan ternyata benar adanya. Musuh sebenarnya bukan ada di depan atau belakang mata, melainkan di samping karena tidak menyadari akan semua hal itu.


Kemarahan Thoms meledak hingga menghancurkan salah satu bodyguard tersebut beserta semua keturunannya. Inilah yang membuat sang cucu menyesal karena kema*tian sang kakek semua berkat racun yang ada di dalam tubuh menyebar dan bersarang menjadi penyakit mema*tikan.


Doni mulai berjaya, lantaran dia telah menjadi ketua mafia menggantikan Tuan Dewa. Sayangnya, itu hanya bertahan sekitar kurang lebih 1 tahun. Dikarenakan kuasa hukun Tuan Dewa datang dan menyerahkan semua tahta, harta dan apa pun milik sang kakek kepada cucunya yaitu, Thoms.


Doni terkejut bukan main. Dia benar-benar kecolongan karena diam-diam sang atasan telah melakukan semuanya demi memberikan seluruh kekuasaan pada anak yang ditemukan di jalan. Mulai saat itu, Doni harus kembali menjadi asisten yang berada di belakang Thoms.


Akan tetapi, Doni tidak tinggal diam. Dia selalu berusaha menghasut Thoms sampai kebencian bersarang di dalam hati dan tidak sedikit pun melirik wanita sesuai sama apa yang sudah direncanakan seperti sebelumnya.


Begitulah kisah masa lalu yang cukup menghancurkan hati Thoms. Kedua mata Thoms memerah sampai air mata menetes ketika kisah menyedihkan itu ternyata berasal dari Doni. Sehingga membuat Thoms merasa sangat bersalah sudah melenyapkan bodyguard serta keturunannya.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2