
Malam hari, Justin meminta kepada orang tuanya untuk tidur bersama mereka dengan alasan kangen. Namun, nyatanya tidak. Justin hanya kesulitan tidur akibat bayang-bayang rasa bersalahnya pada sang paman.
Justin pikir ketika berada di tengah-tengah kedua orang tua, maka dia akan tertidur pulas seperti biasanya. Akan tetapi, anak itu salah. Semakin sang anak berada di dekat orang tua malah semakin membuatnya tidak tenang.
Sang anak tertidur dalam keadaan tidak nyaman. Berulang kali Justin berbalik ke sananya, berbalik ke sini tetap saja kedua mata tidak dapat dipejamkan. Tidak seperti Moana, Ernest, dan Barra yang sudah memasuki alam bawah sadarnya lebih dulu.
Aduh, kenapa aku tidur di sini makin susah, ya? Kenapa pas aku lihat wajah Mommy sama Daddy sedekat ini malah membuat hatiku tidak tenang. Pikiranku selalu tentang Papa, bagaimana kondisi Papa? Apa Papa udah mendingan? Apa Papa masih sakit? Terakhir aku tahu Papa udah bangun, panasnya udah mendingan. Cuma, Papa pasti masih sakit hati sama ucapanku. Apa aku terlalu kejam, ya? Tapi, itu semua juga karena Papa yang ingin mencelakakan Ade. Coba aja kalo Papa gak jahat, mana mungkin aku memarahinya kaya gitu. Aaaa ... Kenapa sih, kepalaku pusing banget. Aku pengen tidur Tuhan, kenapa susah sekali!
Kurang lebih seperti itulah keluhan yang Justin rasakan di dalam hati ketika matanya sulit untuk dipejamkan. Tanpa terasa, air mata Justin menetes. Dia sangat bingung bagaimana caranya supaya dapat tertidur seperti mereka dengan pulas. Sementara, pikirannya terus berantem membuat isi kepala hampir pecah.
Isak tangis berusaha Justin tahan, tetapi tidak mampu. Moana yang sedang asyik tertidur jadi terbangun ketika mendengar suara tangisan. Wanita itu pikir tangisan yang didengarnya merupakan tangisan Barra saat merasa haus, sayangnya tidak.
Setelah kedua mata Moana terbuka, langsung dikejutkan oleh keadaan Justin yang sedang menutup mulutnya menggunakan tangan sambil menangis. Dengan sigap dia segera merubah posisi mengangkat setengah badannya dalam keadaan miring melihat adanya.
"Loh, Kakak nangis? Kakak kenapa, hei ... Coba cerita sama Mommy, ada apa? Ini udah jam 2 loh, Sayang. Kok, bisa Kakak nangis malam-malam begini. Ya ampun, Mommy kaget loh, Sayang. Kenapa, sih?"
Semua pertanyaan selalu Moana tanyakan berulang-ulang kali. Tangan wanita tersebut mulai menyingkirkan tangan Justin yang menutupi mulutnya sendiri. Wajah cemas dan panik yang ditunjukkan oleh sang mommy membuat sang anak tidak dapat berkata apa-apa selain berpelukan. Kini, tangis Justin pecah sesegukkan dengan posisi tiduran miring saling memeluk satu sama lain.
Ernest yang memang sudah terbiasa mendengar suara tangisan Barra setiap malam, sesekali hanya mengintipnya saja. Namun, ketika mengetahui yang nangis adalah Justin matanya langsung membelalak tak percaya.
Sang daddy bangun dari tidurnya lalu duduk menatap sang istri. Moana cuma menggelengkan kepala kecil karena memang tidak mengerti apa yang sudah terjadi pada putra sulungnya ini. Dalam keadaan Justin seperti sekarang, tidak mungkin mereka dapat menanyakan semua itu. Sehingga, Moana merubah posisinya untuk duduk sambil memeluk sang anak.
Beberapa menit Moana berhasil menenangkan Justin. Mereka perlahan mulai menanyakan sesuatu padanya meskipun keadaan sang anak masih sesegukkan.
"Kakak, coba lihat Daddy, sini." Ernest tersenyum saat mendapatan lirikan mata dari sang anak.
__ADS_1
"Coba jelasin sama Daddy dan Mommy, sebenarnya Kakak nangis malam-malam itu kenapa? Apa Kakak mimpo buruk, iya?" tanya Ernest, secepat mungkin Justin menggelengkan kepalanya berarti yang dikatakan sang daddy salah.
"Kalau bukan terus kenapa Kakak nangis, hem? Apa Kakak ada masalah?" tanya Moana gantian.
Justin terdiam menatap sang mommy penuh arti. Walaupun, sang anak tidak mengatakan apa-apa naluri hati seorang ibu melekat jelas dibenaknya sehingga dapat merasakan kegelisaan yang dirasakan anaknya.
Dalam hitungan detik, akhirnya Justin membuka mulut dan menceritakan sedikit tentang kenapa dia menangis di tengah malam sampai mengganggu jam tidur kedua orang tuanya.
"Aku gak bisa tidur, Dad, Mom. Kepalaku sakit banget, kaya ada yang nusuk-nusuk, terus juga berisik banget. Aku cuma pengen bobo doang, kenapa susah banget sih, hiks ...."
Justin terlihat begitu kesal hingga tangan kecilnya mulai memukuli kepala, Moana dan Ernest spontans menahan tangan sang anak supaya tidak kembali menyakiti diri sendiri.
"E,ehh, loh, loh, udah cukup, Justin, udah cukup! Hentikan ini, kamu gak boleh nyakiti dirimu sendiri, kalo ada apa-apa bilang sama Mommy sama Daddy. Jangan seperti ini, Mommy mohon, please ... Cerita, Sayang, tapi gak boleh begini!" ucap Moana dengan suara tegasnya dan sedikit panik.
Ernest berusaha mengendalikan emosi Justin supaya tidak berlarut-larut. Baru kali ini sikap Justin lepas kendali hingga begitu sulit untuk ditaklukkan. Namun, mereka berdua tetap berusaha membuat sang anak mengerti.
"Ayo dong, Sayang, cerita sama Mommy sama Daddy, yuk! Nanti kita selesai masalah Kakak bareng-bareng biar hati jadi tenang. Terus, kalau hati udah tenang Mommy yakin pasti Kakak bisa bobo sepuasnya sampai siang pun gapapa, ya 'kan, Dad?" tanya Moana diangguki oleh sang suami.
"Ya, dong. Besok itu hari libur sekolah, jadi Kakak boleh bobo sepuasnya, nanti Mommy pasti masakin makanan kesukaan Kakak sama Ade. Tapi, Kakak harus cerita dulu, kalau gak pasti Kakak susah bobo lagi. Kasihan otaknya dipaksa kerja terus nanti meledak, pusing, terus sakit deh, Kakak mau dirawat?"
Justin langsung menggelengkan kepala menatap sang daddy yang sedang menasihatinya. Tangan Ernest mengusap kepala Justin, lalu berkata, "Kalau gitu, cerita pelan-pelan ya, Daddy sama Mommy akan setia menjadi pendengar yang baik."
Sang anak menatap wajah kedua orang tuanya secara bergantian. Di mana Moana hanya tersenyum dan Ernest menganggukan kepalanya. Akan tetapi, Justin malah mengadahkan tangan membuat mereka bingung.
"Kenapa tangannya?" tanya Ernest.
__ADS_1
"Janji sama aku, kalau nanti aku cerita Mommy sama Daddy gak akan marah dan gak akan nyalahin aku. Janji?"
Moana sama Ernest mengangguk-angguk kecil kepalanya sambil tersenyum dan menggenggam tangan sang anak yang berarti mereka berjanji tidak akan memarahi serta menyalahkan sang anak. Jikalau memang terbukti Justin bersalah, kemungkinan besar mereka akan menasihati dengan kata-kata yang bijak sehingga kesannya anak itu tidak akan merasa dimarahi.
"Kami janji!" ucap Moana dan Ernest bersamaan.
"Ya, udah. Justin cerita ya, tapi maaf ... Maaf kalau nanti Mommy sama Daddy kecewa sama Justin, pokoknya Justin cuma ingin bercerita karena Justin tidak salah."
Keegoisan yang ada di dalam manik mata sang anak begitu besar membuat kedua orang tua hanya tersenyum. Apa pun yang akan Justin ceritakan nanti, mereka berdua harus memberikan pengertian supaya seolah-olah Justin tidak merasa dimarahi dan rasa egonya mulai memudar.
Perlahan mata Justin melirik ke sarah mereka, lalu menundukkan kepala sambil memainkan jari-jarinya. Anak itu mulai menceritakan tentang semuanya yang berkaitan dengan sang paman. Sedikit terkejut sih, tetapi tidak ada yang bisa mereka katakan selain mendengarkan cerita sampai habis.
Dari kisah yang diceritakan oleh Justin, memang anak tersebut tidak sepenuhnya bersalah. Dikarenakan dia sedang membela keluarganya dari orang yang hampir membuat mereka semua terluka. Namun, sikap sang anak pun tidak bisa dibenarkan karena apa yang dilakukan tetap salah lantaran sudah menghakimi sang paman.
Ernest memberikan kode mata terhadap sang istri, lalu sedikit menggelengkan kepala supaya tidak memarahi sang anak. Selesai Justin mengatakan semua itu, matanya langsung melirik mereka satu persatu. Tidak ada wajah kesal, marah, atau kecewa sehingga Justin merasa aneh.
Seharusnya, walaupun mereka telah berjanji, tetap saja jika apa yang dianggapnya salah mereka akan langsung marah. Namun, kali ini berbeda. Kedua orang tua itu malah tersenyum membuat Justin merasa tidak nyaman. Pada akhirnya, Moana dan Ernest bergantian untuk memberikan nasihat kepada sang anak tersayang.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1