
Perasaan Felix seperti tertusuk ribuan pisau, hingga tersambar petir yang sangat dahsyat. Kehadirannya ternyata tidak disukai oleh anaknya sendiri, padahal dulu kehadiran Felix sangat ditunggu-tunggu oleh Justin sampai membuat Ernest merasa tersangi.
Namun, Felix sadar kalau semua itu sudah berubah semenjak apa yang dia tutupi selama ini telah terbongkar. Di mana Felix harus kehilangan seorang sahabat yang sudah dianggap sebagai adik sendiri dan anak kandung yang melihat Felix seperti musuh terbesarnya sendiri.
Sakit? Oh, jelas dong. Rasa sakit yang Felix rasakan saat ini bisa berkali-kali lipat dari rasa sakit ketika Felix putus cinta, batal menikah, juga kehilangan orang-orang terdekat. Andaikan waktu bisa dirubah, mungkin Felix tidak akan pernah memilih jalan buntu yang sewaktu-waktu bisa menjebak dirinya sendiri.
Detak jantung Felix seakan berhenti untuk selamanya, ketika mengetahui bahwa Justin sudah tidak ingin lagi bertemu dengannya. Jangankan bertemu, bertatap muka pun Justin sudah tidak sudi.
Felix tidak tahu apa yang ada dipikiran Justin saat ini mengenai dirinya. Apakah dia tidak ingin memiliki ayah seperti Felix, atau dia tidak sudi menjadikan Felix sebagai ayah kandung? Entahlah, semua masih menjadi teka-teki bagi Felix. Pikiran negatif sudah saling bersahutan untuk menyerang isi kepala Felix yang sangat berantakan.
Dengan semua sikap Justin hari ini, Felix bisa menyimpulkan betapa hancur dan kecewanya Justin sama apa yang Felix lakukan di masa lampau. Meskipun Justin masih anak-anak, tetapi dia sudah cukup mengerti apa yang terjadi pada hubungan Moana dan Ernest. Sehingga Justin pasti telah mengetahui semua cerita tersebut dari penjelasan yang Moana katakan.
Hanya saja, hati Felix benar-benar rapuh ketika melihat sikap sanga anak yang begitu dingin seperti tidak mengenali Felix sama sekali. Tanpa di sangka, air mata Felix perlahan mulai menetes membuat semua menatap lekat ke arahnya penuh rasa kasihan.
Jangankan Felix, Ernest juga bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh sahabat yang sudah dianggap sebagai saudaranya sendiri. Dikarenakan Ernest pernah ada diposisi itu, bahkan jauh lebih menyakitkan dari apa yang Felix rasakan.
__ADS_1
"Tenanglah, Justin masih sangat kecil untuk bisa memahami semua ini. Kau tidak perlu risau, aku dan Moana akan tetap menjelaskan secara perlahan agar dia bisa mengerti keadaan ini. Kau hanya butuh bersabar sampai suatu saat nanti Justin bisa kembali menerimamu, bukan sebagai Paman melainkan Ayah. Kau paham itu?"
Perkataan Ernest benar-benar membuat semuanya menjadi terharu. Seikhlas itu Ernest membagi Justin pada Feliz, sedangkan dia tahu bagaimana Felix menjadikan mereka sebagai kambing hitam untuk menanggung semua resiko yang tidak sama sekali mereka lakukan.
Felix menatap intens ke arah Ernest, lalu langsung memeluk sambil mengatakan maaf dan terima kasih. Tidak semua yang Felix terlihat jelek hasilnya tetap jelek, terbukti bukan? Ernest yang bisa dikatakan keras kepala karena keegoisannya, kini telah menjadi pria yang bijak dalam mengambil keputusan.
Dia tidak keberatan untuk kembali menyambungkan tali yang sudah putus diantara Felix juga Justin. Tali yang terhubung sebagai seorang paman juga ponakan, akan segera Ernest ganti dengan hubungan lebih baik, yaitu ayah dan anak.
Pelukan itu terlepas bersamaan sama Felix yang langsung menghapus air matanya. Dia sangat-sangat berterima kasih atas semua kebaikan juga kesempatan yang telah mereka berikan pada Felix sebagai pintu pengampunan.
Felix yang awalnya hanya fokus melihat ke arah pintu kaca yang sudah tertutup bersamaan perginya Justin, sekarang tidak lagi. Felix akan tetap berjuang sekuat tenaga demi memperbaiki hubungan kepada sang anak. Tidak peduli sebesar apa rasa benci dan kemarahan yang Justin berikan, Felix akan tetap menerima dengan lapang dada.
"Tidak seperti sekarang, Justin terlihat begitu membenciku sampai dia tidak ingin bertemu denganku. Jika dibilang sakit, pastilah. Seorang ayah mana yang tidak akan terluka ketika anaknya membenci ayahnya sendiri. Aku sadar kok, aku memang bukan ayah yang baik. Aku hanya seorang ayah yang tidak berguna karena telah menyia-nyiakan kehadiran seorang anak. Jelas-jelas di luar sana banyak sekali orang tua yang sangat menginginkan seorang anak, sementara aku? Aku malah membuangnya dengan mengalihkan tanggung jawabku pada orang lain yang tidak bersalah, jahat bukan? Haha ...."
Tawa Felix terdengar sangat sakit, mungkin dia bisa saja tertawa di atas penderitaan sendiri. Akan tetapi, air mata yang terus mengalir tidak bisa dibohongi. Dinda berusaha menenangkan sang suami dengan cara mengusap punggung Felix untuk memberikan ketenangan agar dia tidak semakin menyalahkan semua kejadian tersebut pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah, jangan banyak berbicara. Di sini tempatnya kita untuk makan bersama, bukan tempat syuting adegan dramatis seperti kalian!"
"Justru aku sebagai bundanya Ernest sangat-sangat berterima kasih, kalau kamu tidak menjebaknya mungkin sampai saat ini dia tetap menjadi perjaka tua. Entah, apa yang ada dipikiran anakku saat itu, aku pun tidak paham. Beberapa kali aku ditanyakan mengenai pernikahan, dia selalu jawabnya nunggu sukses, nunggu sukses, nunggu sukses aja terus!"
"Cuman nyatanya apa? Lihatlah dia sekarang! Sampai detik ini, perusahaannya masih begitu-begitu aja enggak ada perubahan sama sekali. Tidak turun, tidak naik. Kaya gitu mau nunggu sukses baru nikah? Cihh, yang ada nanti saat kau punya anak semua orang akan bilang, 'Wah, lihatlah kesana! Itu ada kakek-kakek lagi jalan sama anak kecil, pasti dia cucunya. Serasi banget mereka ya, jadi seneng deh, lihat mereka kompak kaya gitu, udah ngalahi kekompakan antara ayah dan anak.' Kalau udah gitu, hancurlah hati kau, Ernest!"
Sindiran keras dari Elice benar-benar membuat Ernest tidak berkutik sama sekali. Tanpa disadari Ernest malah masuk kedalam dunia khayalan sesaat ketika cibiran sang bunda begitu meresahkan hatinya.
Jangankan, Ernes. Semua juga ikut membayangkan bagaimana lucunya wajah Ernest, Justin dan Barra ketika mereka lagi jalan-jalan bersama sang ayah yang malah terlihat seperti kakek. Sementara Sakha yang sudah menjadi seorang kakek di usia seperti ini, sedikit terlihat lebih menua dari sebelum dia punya cucu.
Lalu, apa kabar sama Ernest jika dia harus menikah di usia 70 tahun ke atas? Tidak kebayang, bukan? Bagaimana lucunya wajah semua orang ketika baru mengetahui, jika kedua anak kecil yang sedang digandeng oleh Ernest adalah anak kandungnya sendiri.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...