Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mendukung Balas Dendam Naya


__ADS_3

Thoms tidak menyangka kalau dendam yang ada di dalam hati Naya benar-benar sangat mendalam, sama seperti dendam yang Thoms miliki terhadap pembu*nuh kedua orang tuanya di masa lampau.


Tatapan Naya begitu persis seperti Thoms yang telah berjanji di depan mendiang keluarganya untuk membalaskan semua rasa sakit yang mereka rasakan di detik-detik terakhir. Thoms tidak peduli apapun yang akan hadapi nanti, dia tetap siap menerima semua konsekuensi atas perbuatannya.


Sampai akhirnya Thoms sukses menjadi pria yang memiliki banyak bekal untuk menghadapi semua rintangan di dalam hidup. Bekal tersebut Thoms dapatkan dari berbagai perguruan mulai dari silat, karate, bela diri bahkan persenjataan pun semua Thoms pelajari penuh ketekunan.


Semua itu tidak lepas dari bantuan seorang mantan bos Mafia Thoms yang cukup terkenal ditahun itu tanpa diketahui siapa identitasnya dan orang tersebut sudah meninggal dunia.


Lambat tahun, Thoms benar-benar telah berhasil memiliki apa yang dia inginkan sesuai sama apa yang dia harapkan. Semua itu Thoms lakukan sebagai modal utama untuk menghancurkan satu persatu musuh yang pernah terlibat di dalam kejadian pembu*nuhan.


"Sedendam itukah kamu padanya?" tanya Thoms untuk meyakinkan kembali apa yang dia duga tidak salah.


"Sudah lama aku memendam semua perasaan ini, satu sisi saya tidak berdaya karena dia selalu mengganggu saya. Apa lagi jika saya tidak memberikannya uang, maka dia bisa berbuat negat pada saya. Pernah beberapa kali saya ingin melaporkan dia ke pihak berwajib, sayangnya dia memiliki komplotan yang tidak bisa aku lawan!"


"Disitulah aku tidak bisa berbuat apa-apa selain memberikan apa yang dia inginkan, jika kalau boleh memilih aku ingin sekali melenyapkan orang itu menggunakan kedua tanganku sendiri. Percuma kita bawa dia ke polisi, pasti dia akan bebas dengan mudah karena bantuan komplotan tidak berguna itu! Bagiku tidak adil kalau dia tetap diberikan hidup, sebab hidupnya adalah sumbangan dariku!"


Penuturan kalimat yang Naya berikan, sungguh diluar dari apa yang ada dibayangan Thoms. Ini yang Thoms suka dari Naya, mereka memiliki sifat yang hampir sama. Mereka berdua tidak akan melepaskan orang yang sudah berhasil menginjak-injakkan harga diri serta menghancurkan hidup lebih parah dari sebelumnya.


"Baiklah, jika itu keinginanmu untuk menghancurkan dia menggunakan kedua tanganmu sendiri. Saya bisa membantu, dengan syarat ...."


Thoms menjeda ucapannya agar Naya sedikit penasaran sama apa yang akan dia katakan. Benar saja, wajar Naya terlihat begitu tegang karena Thoms menggantung perkataannya.

__ADS_1


"Sya-syarat? maksudnya, Tuan?" tanya Naya gugup.


Bibir Naya perlahan terlihat bergetar akibat sedikit syok, dia benar-benar dilema dengan sikap yang Thoms tunjukkan. Antar percaya atau tidak, Naya juga bingung. Seharusnya jika seseorang mendengar kata-kata dendam, dia akan mencoba menasihati bagaikan orang yang paling benar.


Namun kali ini berbeda, Thoms malah mendukung habis Naya seperti dia mendukung keluarganya sendiri. Jelas-jelas ap yang Naya lakukan adalah perbuatan yang salah, tetapi Thoms seakan-akan membenarkan itu semua sesuai sama apa yang Thoms jalani selama ini.


Maklum saja, mereka bertemu lantaran latar belakang keduanya memang dipenuhi oleh dendam tersumbat akibat kejadian-kejadian yang membuat mereka sampai dititik ini.


Senyuman devil terukir jelas di sudut bibir Thoms, membuat Naya semakin penasaran sama apa yang akan dikatakan oleh Thoms.


"Ka-katakan, Tuan! Jangan buatku deg-deg'an seperti ini, cepatlah!" titah Naya yang sudah tidak sabar menunggu.


"Santai, jangan marah-marah seperti itu. Syaratnya mudah kok, kamu harus berusaha sekuat tenaga untuk pulih dari traumamu saat ini. Jikalau pun kau belum bisa, setidaknya kuatkan mentalmu demi bertemu dengan orang yang sangat kamu benci!"


Thoms tersenyum kecil, lalu menutup kotak makan yang sudah habis. Kemudian, Thoms berdiri menaruh kotak tersebut ke atas meja makan dan mengambil minum sesekali melirik Naya yang masih terdiam dengan segala pemikirannya.


Thoms tahu, berat rasanya jadi Naya. Dia harus kembali bertemu oleh pria yang telah menghancurkan kebahagiaan demi menuntaskan balas dendam yang sangat menggebu di dalam hati.


"Bagaimana? Jika memang sudah siap, dalam waktu 3 hari ke depan setelah kamu keluar dari rumah sakit, kita akan langsung terbang ke luar negeri. Di sana kamu bebas melakukan apapun kepada pria itu tanpa takut, sampai ada pihak berwenang yang mengetahui semuanya!"


Kedua kaki Thoms kembali melangkah sambil menikmati minuman dan duduk di tempat semula. Naya menatap lekat wajah Thoms yang terlihat sangat tenang dalam mengatakan semua kalimat, seolah-olah Thoms begitu mendukung Naya untuk melenyapkan ayah sambungnya sendiri.

__ADS_1


"Lu-luar negeri, Tuan? I-itu artinya saya harus meninggalkan pekerjaan di sini?" tanya Naya, terkejut dalam keadaan bingung.


"Ya, itu benar. Memang kamu masih ingin menjalani hari-harimu di sini? Di mana negara ini adalah negara yang penuh luka di hidupmu, kalau kamu bertahan di sini apa itu tidak akan membuatmu kembali teringat sama semua kejadian pahit yang kamu alami selama hidup. Hem?"


Apa yang Thoms katakan memang benar adanya. Jika Naya bertahan di sini, semua kejadian akan terus membekas di dalam pikirannya hingga membuat dia selalu teringat dengan masa lalu yang sangat menyakitkan.


"Bagaimana Tuan bisa membawa di-dia ke sana? D-dia tidak punya pas---"


"Tidak perlu dipikirkan, nanti juga kamu akan tahu bagaimana semua ini bisa saya lakukan dengan mudah. Kamu hanya fokus untuk memperbaiki mental, memperkuat hati dan yakinlah bahwa setelah dendammu usai, kamu bisa memulai kehidupanmu yang baru tanpa lagi bayang-bayang masa lalu!"


"Untuk sekarang mungkin saya tidak bisa, Tuan. Banyak hutang yang harus saya selesaikan dengan atasan ditempat kerja, saya tidak mungkin kabur begitu saja. Mereka sudah sangat baik pada saya, jadi saya harus menyelesaikan semua baru saya bisa ikut Tuan untuk menuntaskan dendam!"


"Tidak ada waktu, rumah saya bukan tempat penitipan barang seenak jidatmu!"


"Di sini niat saya hanya menolongmu untuk mempermudah jalanmu menuntaskan balas dendam, jika kamu tidak berkenan ya, sudah saya serahkan dia ke kantor polisi setelah itu kita tidak akan pernah ketemu lagi. Simpel, hidup saya sudah sangat rumit jadi tidak perlu bertele-tele!"


Tawaran yang tidak akan datang untuk kedua kalinya membuat Naya bimbang. Satu sisi dia benar-benar tidak sabar untuk menghancurkan pria yang hampir merenggut masa depannya, tetapi di sisi lain Naya begitu berat meninggalkan hutang yang sangat menumpuk.


.......


.......

__ADS_1


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2