Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Iri? Bilang, Bos!


__ADS_3

Kesedihan di wajah Justin membuat dia banyak berutang budi sama Moana serta Thoms. Justin selalu menanamkan di dalam hatinya dengan sebuah janji, kalau kelak dia akan membayar semuanya.


Jika nanti Justin telah tumbuh menjadi pria dewasa, maka dia tidak akan lupa perjuangan Moana untuknya dan paman yang sudah seperti ayahmya sendiri. Semua akan Justin ingat baik-baik, dan membuktikan kalau Justin adalah anak yang patut dibanggakan.


"Maafkan Justin ya, Pah. Justin hanya bisa merepotkan Papah sama Mommy. Andai saja Daddy mau nerima Justin jadi anaknya, pasti Justin seneng banget. Justin punya orang tua yang sayang banget sama Justin dan kamu bisa hidup bahagia. Ade pun tidak akan merasakan kesepian di dalam hidupnya yang seperti ini."


"Justin tidak membenci Daddy Ernest atau Paman Felix. Mau bagaimanapun, kata Mommy mereka tetap Ayah Justin. Meskipun Paman Felix tidak mengakui Justin, dia adalah Ayah kandung Justin sesungguhnya. Sedangkan Daddy Ernest, dia yang sudah merawat Justin dari kecil, memberikan Justin kenyamanan tingal bersama Oma dan Opa sampai Daddy juga yang membiayain hidup kita semua."


"Jadi, Justin tidak boleh menyimpan dendam oleh siapapun. Marah boleh, kecewa boleh, kesal boleh. Asalkan Mommy bilang kalau kita tidak boleh menjadi orang pendendam karena hasilnya tidak akan baik. Semua itu hanya akan membuat hidup kita menjadi tidak tenang."


"Jujur, Justin merasa kecewa sama mereka. Kenapa bisa Justin harus lahir beda Ayah? Kenapa Justin tidak di lahirkan seperti teman Justin lainnya? Mereka punya satu Daddy dan satu Mommy. Sedangkan Justin satu Mommy 2 Daddy. Mereka bisa kok hidup bersama orang tua kandung atau sambungnya dengan penuh kebahagiaan. Tidak seperti nasib Justin yang hidup bersama Mommy, Ade dan Om yang Justin panggil Papah."


"Rasanya Justin kangen banget sama Daddy sama Paman juga. Tapi, Justin takut. Kalau nanti Justin ketemu sama mereka pasti Daddy akan marah-marah lagi, terus membawa pergi Mommy sama Ade Barra. Justin tidak mau kalau kita berpisah. Apa lagi sampai Justin ketemu Paman Felix pasti dia akan mengambil Justin dari Mommy. Justin tidak mau, Pah. Justin tidak mau!"


"Papah mau 'kan tolongin Jistin, kalau nanti Daddy sama Paman dateng, jangan biarkan kami berpisah ya. Justin tidak rela kalau harus kehilangan kalian semua. Jistin nyaman sama kalian. Justin tidak masalah kalau harus kehilangan mereka, asalkan Justin tidak kehilangan kalian. Udah itu aja, Justin tidak mau apa-apa lagi. Semua itu karena Justin udah sayang banget sama Mommy, Ade juga Papah. Justin mau kita sama-sama terus sampai kapanpun itu!"


Justin berbicara di dalam hati kecilnya. Tidak terasa air matanya perlahan menetes di pipinya ketika tangannya memegang pipi Thoms. Kemudian Justin sedikit mengubah posisinya, lalu memeluk Thoms sangat erat.


Thoms yang belum begitu pulas tertidur, kembali memeluk ponakannya yang sudah seperti anaknya sendiri dengan rasa nyaman. Sesekali mencium pucuk kepala Justin dalam keadaan mata masih tertutup.

__ADS_1


Beberapa menit, mereka tertidur dalam keadaan pulas di dalam pelukan satu sama lain. Tanpa di sadari pintu terbuka sedikit demi sedikit menongolkan kepala Moana, di mana dia memantau anaknya apakah bisa tidur bersama pamannya atau asyik bermain.


Setelah di cek, ternyata mereka malah tertidur pulas bersama-sama dalam posisi yang sangat mengharukan. Senyuman kecil terukir lebar di sudut bibir Moana, membuat dia merasa bahagia.


"Good night, My Boy, My Hero. Nice a dream, kesayanganku! Sehat-sehat kalian semua," ucap Moana, perlahan menutup pintu kamar Thoms. Kemudian kembali berbalik, lalu berjalan menuju kamarnya untuk beristirahat bersama anak bontotnya yang masih kecil.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Pada pagi hari, tepatnya pukul 7. Ernest dan kedua orang tuanya pergi ke ruang makan setelah mereka selesai mandi. Di mana Ernest dan Sakha sudah rapi untuk pergi bekerja di Perusahaan masing-masing.


"Selamat pagi, Sayang," ucap Sakha menyapa istrinya yang sedang menata meja makan. Kemudian mereka saling berpelukan dan mencium bibir sekilas dengan wajah bahagia.


"Ekhem ... Lain kali kalau mau melakukan sesuatu, lebih baik di dalam kamar. Ini ruang makan bukan ruang buat konser plus-plus!"


Ernest mengambil sarapan diatas piring sambil berbicara dengan nada yang sangat dingin, bahkan tanpa ekspresi sama sekali.


"Ayah sih, jadi sewotkan dia!" bisi Elice pda suaminya. Mereka langsung duduk dalam keadaan cagung ketika melihat anaknya memakan roti penuh kecuekan.


"Ma-maaf ya, Nak. Ini loh, ayahmu biasa kalau lagi kumat minta--"

__ADS_1


"Minta nen," jawab Sakha spontan tanpa rasa malu.


Elice terkejut atas jawaban suaminya yang asal berbicara tanpa disaring terlebih dulu. Mata Elice membola besar melirik suaminya, di mana Sakha malah belaga cuek tidak merasa bersalah sedikit pun atas perkataannya.


"Ayah!" seru Elice penuh penekanan. Sedangkan Sakha hanya menggerakan alisnya dan menikmati roti kacang kesukaannya.


"Gak bahaya ta, susu kadaluwarsa masih di komsumsi?" ucap Ernest, langsung mendapatkan plototan mata dari Elice.


"Iri? Bilang, Bos!" seru Sakha, berhasil membuat Ernest tersedak.


"Nahkan, makannya kalau lagi pada makan itu mulutnya diem. Ini malah nyerocos aja, pagi-pagi udah bahas susu. Dasar pria!" sahut Elice langsung memberikan air putih pada anaknya.


Tanpa berbicara apapun, Ernest langsung menerima gelas dari tangan Elice dan meminumnya secara perlahan. Sementara Sakha, tersenyum lebar penuh kemenangan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2