Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Pemborosan


__ADS_3

Setelah menyadari kesalahannya sendiri, Nay langsung duduk kemudian berjalan ke arah kamar mandi. Baru sampai di depan kamar mandi, Nay kembali urungkan niatnya dan berbalik membelakangi kamar mandi.


"Eeitts, tunggu dulu! Bagaimana mungkin aku mandi tanpa mengganti pakaian? Ini pakaian terakhir yang diberikan Tuan Thoms selepas aku pulang dari rumah sakit kemarin, masa iya, aku harus pakai baju ini lagi. Huhh, menyebalkan!"


Nay baru menyadari semua itu di saat tubuhnya mulai lengket. Dia tidak tahu harus melakukan apa supaya bisa mandi dan mengganti pakaian dengan nyaman. Sampai akhirnya, Nay memberanikan diri membuka kamar dalam keadaan tangannya bergetar mengingat ketika mengingat kejadian semalam. Di mana mata bodyguard yang menjaga Nay sangat menyeramkan, tetapi tidak ada cara lain selain meminta tolong padanya.


Ceklek!


Perlahan Nay membuka pintu, kemudian tersenyum malu sambil cengengesan hingga salah tingkah. Entah karena Nay gugup atau takut, tetap saja dia harus bisa mengatakan apa yang ingin di katakan.


"Hehe ... O-om ta-tampan yang baik hati," ucap Nay, membuat bodyguard tersebut mengangkat salah satu alis dengan tatapan bingung. "Kenapa? Apa ada yang Nona butuhkan?"


"Loh, kok, Om tahu?" tanya Nay, sedikit terkejut.


"Apa yang Nona butuhkan? Katakan!"


"Eee ... I-itu, Om. Eee ... A-anu, a-aku tidak ada ba-baju ganti. A-apakah Om bisa me-mengambilkan se-semua pakaian ju-juga barang-barangku di kontrakan, alamatnya di jalan----"

__ADS_1


"Saya tidak ada waktu hanya untuk sekedar mengambil pakaianmu itu! Ingatlah, Nona! Di sini tugas saya hanya menjagamu, bukan menjadi asisten pribadimu!"


Kata-kata yang keluar dari mulut pria itu seketika merubah ekspresi wajah Nay menjadi kesal. Dia tidak menyangka pria itu bisa mengatakan seenak jidat tanpa memikirkan kata-kata itu cukup menyinggungnya.


"Ya, udah dong, biasa aja jawabnya, menyebalkan!" Nay langsung kembali berbalik memasuki kamar dengan hati yang gondok, "Hahh, tahu begini mah, mending aku pulang ke rumah dulu ambil barang-barang, habis itu baru ke sini. Daripada di sini tidak ada apa-apa mau ganti baju pakai apa? Hordeng!"


Nay menggerutu sepanjang jalan sambil duduk di tepi ranjang tanpa menutup pintu. Nay sudah tidak peduli lagi, jika memang perkataan itu bisa didengar oleh pria yang masih menatapnya. Paling tidak Nay sedikit lega apabila unek-unek di dalam hati sudah terlampiaskan.


"Tidak perlu marah, Nona. Kau di sini bukan orang lain, semua kebutuhanmu sudah ada di kamar ini ubtuk sementara. Jika Nona mau mengganti pakaian, di lemari sudah ada beberapa setel tinggal pilih. Tidak perlu memikirkan barang-barang lamamu karena sebentar lagi kau akan ikut Tuan balik ke luar negeri dengan styles yang lebih baik. Maaf jika perkataan saya ada yang tidak menyenangkan, terima kasih!"


Pintu tertutup kembali dengan keadaan Nay yang plenga-plongo antara sadar dan tidak. Nay bingung haruskah dia kembali kesal lantaran di prank oleh pria menyebalkan itu, ataukah Nay harus berterima kasih? Akhh, sunggung hari yang menyebalkan. Begitulah pikir Nay yang masih penuh tanda tanya atas teka-teki yang selalu membuatnya tidak bisa berkata apa-apa.


Seketika mata Nay langsung melotot saat tangannya sudah berhasil mengambil salah satu dress di dalam lemari dengan memperlihatkan harganya.


"Du-dua ju-juta li-lima ratus? Ha-hahh? A-apa aku enggak salah lihat?"


Tangan Nay spontans mengucek mata berulang kali untuk memastikan kebenaran tersebut. Nay takut jika saat ini matanya masih belum berfungsi dengan baik akibat dia baru bangun tidur beberapa saat lalu.

__ADS_1


Untuk memastikan kembali jika itu benar adanya, satu persatu pakaian yang ada di lemari Nay ambil semua dan di susun tepat di ats ranjang untuk melihat semua banderol harga yang tertera di setiap pakaian.


Nay benar-benar syok saat menghitung semua total pakaian yang dibeli oleh Thoms hampir mendekati 26 juta kurang sedikit dengan jumlah baju kurang lebih 10 setel. Belum dengan harga pakaian dalam yang ada di sana dan lain sebagainya. Hingga Nay bisa memprediksikan kalau Thoms bisa mengeluarkan uang 100 juta lebih hanya demi membelikan semua untuk Nay.


Wajah syok membuat tubuh Nay perlaham melemas dan terjatuh dalam keadaan duduk. Tidak lupa tangan Nay memegangi jantung yang hampir copot setelah menyaksikan betapa borosnya Thoms hanya sekedar memberikan kebutuhan untuknya.


Padahal, jika dipikir-pikir uang segitu Nay sudah bisa membeli rumah dengan tipe sederhana, dan nyaman untuk melindunginya dari panasnya terik matahari serta hujan badai yang setiap kali datang secara tiba-tiba.


Nay tidak terbayang, mungkin kalau dia ke pasar atau toko-toko kecil dengan harga serba 35 ribuan saja sudah bisa dipastikan Nay akan memborong semua pakaian jauh lebih banyak dari pada ini. Apa lagi setiap kali Nay ingin membeli pakaian hanya cukup satu atau dua setel saja, itu juga dia harus memikirkan kebutuhan yang lagi.


Sementara Thoms? Pria itu benar-benar sudah gila dengan semua harta yang dimiliki bisa membeli barang sesuka hatinya, tanpa memikirkan satu bulan ke depan lauk apa yang akan dimakan untuk menyambung hidup dengan penghasilan yang sangat minim.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2