
Setelah urusan selesai, Moana langsung berpamitan kepada Thoms agar bisa segera kembali ke rumah demi anak-anak yang sudah lama dia tinggali.
Namun, Thoms tidak mengizinkan Moana pergi sebelum makan malam bersamanya. Niat ingin menolak, tetapi tidak bisa lantaran wajah sang kakak terlihat begitu menyedihkan. Sehingga Moana harus menyelesaikan makan malam bersama sang kakak, baru bisa kembali pulang ke rumah dengan perasaan tenang ketika sudah mendapatkan jawaban yang pasti.
Disela-sela mereka sedang menikmati makanan yang dipesan melalui sebuah aplikasi di Restoran, tiba-tiba saja satu pertanyaan terucap dari bibir Moana sambil makan.
"Sebelum aku datang ke sini, aku sudah menceritakan sedikit tentang Kakak sama Ernest. Aku udah janji, ketika aku mendapatkan kebenaran dari Kakak. Maka, aku akan menceritakan semu----"
"Tidak! Jangan kamu beritahu dia tentang diriku!"
Belum juga selesai berbicara, Thoms sudah memotongnya dengan nada yang cukup menyeramkan, hingga membuat Moana ketakutan.
"Ka-kakak ...."
"Ma-maafkan Kakak, Dek. Kakak tidak sengaja membentakmu, Kakak cuman tidak ingin Ernest tahu untuk saat ini. Jadi, Kakak mohon pengertiannya, ya."
"Ke-kenapa Kakak tidak mau Ernest tahu? Di-dia itu suamiku, Kak. Aku juga udah janji sama dia, bagaimana aku bisa mengingkari semua itu? Aku---"
"Tenanglah, Dek. Jangan khawatir dan takut, kamu tidak mengingkari janjimu hanya saja kamu undur sedikit saja waktunya. Ada sesuatu yang harus aku cari tahu, jika kamu memberitahu suamimu maka semua misi yang sudah Kakak susun bertahun-tahun lamanya akan berantakan. Kamu pasti paham apa yang Kakak maksud ini?"
"Terus kalau Ernest nanya sama aku ... Aku harus jawab apa? Sementara aku udah tahu tentang Kakak, masa aku harus berbohong. Aku tidak mau jadi istri yang durhaka sama suami, Kak."
"Dek, dengarkan Kakak baik-baik, ya. Kakak begini karena Kakak hampir menemukan titik di mana musuh itu berada. Jika kamu memberitahu kepada suamimu yang tidak tahu tentang silsilah keluarga kita, dia pasti akan terkejut dan melarangmu untuk dekat-dekat dengan Kakak. Apa lagi, jika sampai mulut dia bersuara ke mana-mana otomatis rencana Kakak untuk menemukan tikus kecil itu akan gagal. Jadi, Kakak mohon. Bersabarlah, sedikit lagi. Jika perlu, Kakak yang akan membongkar jati diri Kakak pada keluargamu agar kamu tidak akan disalahkan."
Moana terdiam sejenak, memikirkan tentang janji yang sudah diaucapkan kepada sang suami. Jika Moana mengingkarinya, pasti Ernest akan marah besar padanya. Hanya saja, kalau Moana menceritakan semuanya pasti rahasia sang Kakak akan terbongkar dan membuat musuh yang sudah melenyapkan kedua orang tua mereka kembali menghilang.
Pilihan yang berat bagi Moana ketika harus memilih antara suami tercinta atau kakak tersayang. Thoms bisa menyaksikan adanya dilema di mata Moana begitu melekat, sehingga Thoms harus kembali membuat Moana mengerti tentang semuanya.
Disaat sudah mulai memahami semuanya, Moana hanya bisa menganggukan kepala sekilas. Selepas itu, Moana kembali berpamitan kepada sang kakak untuk pulang lantaran waktu sudah semakin larut. Tidak lupa Moana berjanji sama Thoms untuk mengatakan semua pada Ernest di saat waktunya sudah benar-benar tepat.
__ADS_1
Moana berdiri bersamaan dengan Thoms, lalu mereka berpelukan sekilas dan Thoms mengantarkan Moana sampai ke parkiran. Seperginya mobil yang membawa Moana, Thoms kembali masuk ke dalam Apartemen dengan wajah datar serta pikiran yang sedikit kacau.
Di mana tikus itu bersembunyi, kenapa sulit sekali untuk menemukannya. Dasar licik! Pintar sekali dia menutupi identitasnya, hingga membuatku sangat kesulitan mencari keberadaannya.
Lihat saja nanti, kau tikus! Jika aku telah berhasil menangkapmu, maka aku tidak akan memberikan ampun sedikit pun. Nyawamu hanya tinggal menghitung hari karena aku adalah malaikat pencabut nyawamu!
Batin Thoms berbicara selama melangkahkan kaki memasuki kamar Apartemennya. Kali ini ada kurang lebih 3 sampai 5 bodyguard yang berjaga di dalam, sementara sisanya berjaga di kamar samping sambil terus mengawasi pergerakan Kingnya. Jikalau mereka sampai berjaga di depan pintu, maka semua itu akan membuat orang-orang mencurigainya.
Sepanjang perjalanan, Moana terus memikirkan semuanya. Perasaannya mulai menjadi tidak tenang ketika Moana bingung harus memilih siapa diantara Thoms dan Ernest. Beberapa menit, Moana menepis semua pikiran itu dan menggantikannya dengan pikiran positif.
Moana sudah tidak lagi dilema memikirkan kejadian tersebut. Dia lebih memilih untuk memikirkan bagaimana caranya memberikan penjelasan kepada suami tercinta tanpa rasa gugup kalau Moana belum menemukan jawabannya.
Wajah Moana terlihat begitu pasrah, bagaimanapun nanti dia harus tetap terlihat nyaman saat menjelaskannya tanpa terbata-bata supaya Ernest lebih yakin lagi.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Thoms datang bersama beberapa bodyguard yang setia menjaga serta mengikutinya. Mereka masuk ke dalam ruangan Nay dalam keadaan Nay sudah menunggu 10 menit yang lalu.
"Gimana?" tanya Thoms menatap Nay yang masih duduk di atas bangkar.
"Semua udah selesai diurus sama Tuan itu," ucap Nay melirik ke salah satu bodyguard Thoms.
"Terus, lambungmu?" tanya Thoms, kembali.
"Udah mendingan, udah di kasih obat juga dan dokter pun udah membolehkan aku pulang," jawab Nay turun dari bangkar.
"Ikut saya pulang ke Apartemen!" titah Thoms langsung berbalik jalan ke arah pintu keluar.
Nay yang merasa terkejut langsung membolakan matanya, lalu berlari dan menghalangi jalan Thoms hingga membuatnya berhenti secara mendadak.
__ADS_1
"Tunggu!" pekik Nay merentangkan kedua tangannya dengan wajah panik.
"Kenapa?" tanya Thoms, cuek.
"A-apa tadi yang Tuan bilang? Sa-saya harus ikut Tuan ke-ke Apartemen? Apa Tuan sudah gila! Kita ini tidak ada ikatan apa-apa, jadi bagaimana kita bisa tinggal sekamar. Dasar Tuan omes!"
"Omes?" Thoms mengerutkan dahinya sambil mengangkat salah satu alis dengan tatapan bingung.
"Ya, otak me*sum!" seru Nay langsung mendapatkan plototan mata dari Thoms.
Ctakk!
Thoms menyentil dahi Nay sampai terdengar suara, spontans Nay memekik kesakitan sambil mengusap dahinya. Dia tidak terima atas perlakuan kasar yang Thoms berikan, baru saja Nay ingin memarahi pria menyebalkan itu. Thoms malah balik memarahinya lebih dulu.
"Kalau ngomong jangan asal berbicara, Nona. Jika saya omes seperti apa yang kau katakan, sudah pasti saya akan menidurimu kapanpun saya mau atau saya bisa melakukan sesuatu yang membuatmu tidak sadar ketika melakukan semua itu dengan saya. Paham!"
"Kau kira Apartemen hanya ada satu kamar? Tidak, Nona! Di Apartemen saya ada 2 kamar, jad i kau bisa menggunakan kamar satunya sampai urusanmu dengan bosmu itu selesai. Satu lagi, kita tinggal di situ tidak berdua masih banyak anak buah saya yang berjaga di dalam. Dasar cwe gila!"
Nay yang merasa malu langsung cengengesan sambil menggaruk kepala yang tidak gatal. Melihat wajah Thoms yang terkesan kesal, membuat Nay langsung meminta maaf akibat pikirannya yang sedikit belok.
Tanpa menjawab apapun, Thoms pergi begitu saja meninggalkan Nay yang mengejarnya di belakang sambil berlari kecil menyamakan langkah Thoms yang panjang juga cepat.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1