
Thoms menjeda pembicaraannya, sehingga membuat mereka semua menjadi tertekan penuh penasaran. Hanya saja, mereka merasa senang karena nyawa mereka masih berada di tangan Tuhan bukan Thoms.
Setidaknya keesokan harinya mereka masih bisa melihat indahnya dunia dalam keadaan mata yang terbuka lebar dengan detak jantung yang masih bergerak.
Mereka tidak masalah apa bila mendapatkan hukuman lain, asal nyawanya masih bisa selamat. Melihat senyuman yang melekat di bibir mereka membuat Thoms semakin jengah. Hatinya benar-benar panas menyaksikan senyuman itu di atas penderitaan keponakannya.
Dibalik rasa sakit yang Justin rasakan saat ini, mereka tetap tidak merasa bersalah. Hanya diawal saja mereka merasa bersalah demi menyelamatkan nyawanya. Setelah itu, mereka terlihat biasa saja ketika tersenyum saat tidak mendapatkan hukuman ma*ti yang sering dilakukan oleh Thoms pada musuhnya.
"Saya akan apa, Tuan? Katakan saja, sebisa mungkin kami akan menjalani hukuman itu. Setidaknya kami bebas dari kema*tian!" ucap ayah Edo.
"Ya, itu benar, Tuan. Kami harus berterima kasih pada adik Tuan, karena telah membebaskan kami dari jurang kema*tian!" sambung ibu Edo
"Apa Tuan ingin kami menyerahkan semua harta yang kami milikki? Jika itu keinginan Tuan, kami akan menyerahkannya hari ini juga. Bagi kami, nyawa juga keluarga yang paling penting karena harta bisa kami cari mulai dari nol!" tanya ayah dari salah satu teman Edo.
Thoms tersenyum melihat kesenangan di wajah mereka, lantaran mereka berpikir Thoms akan melepaskannya semudah itu. Akan tetapi, dia memiliki rencana lain di balik kema*tian mereka.
Semua jawaban juga pertanyaan yang dilontarkan oleh keluarga Edo dan kedua temannya benar-benar hanya bisa membuat Thoms tertawa di dalam hatinya. Tatapan mata yang menyorot sebagai pertanda, bahwa akan ada sesuatu yang terjadi pada mereka semua.
Edo dan kedua temannya tersenyum menghapus air mata mereka, terlihat sekali bahwa mereka memang sedang bersandiwara. Apa lagi wajah ketiga anak itu sama sekali tidak merasa bersalah atas apa yang sudah dilakukan terhadap Justin.
Thoms menduga, kalau Edo dan kedua temannya itu merupakan anak yang pandai melempar batu sembunyi tangan, hingga keluarganya hanya tahu kalau mereka anak baik-baik. Terlihat dari respon keluarganya yang bingung juga tidak menduga anaknya bisa bersikap senakal itu.
Setelah beberapa menit Thoms terdiam memperhatikan gerak-gerik mereka, kemudian dia melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda.
"Sungguh, akting kalian sangat luar biasa! Apa lagi anak kalian yang lucu itu, telah membuat saya gemas ingin rasanya mematahkan batang leher yang masih muda itu. Namun, kembali lagi. Saya sudah berjanji pada adik saja, yaitu mommy dari Justin, kalau saya tidak akan membuat kalian lecet sedikit pun!"
"Maka dari itu, saya akan memberikan hukuman setimpal bagi orang-orang yang merasa kuat sampai meremehkan orang yang lemah. Tenang saja, saya tidak akan mengambil harta kalian sedikit pun. Harta saya jauh lebih banyak berkali-kali lipat dari apa yang kalian miliki!"
Baru hanya segitu, wajah mereka kembali terlihat senang. Padahal, dibalik semua itu ada sesuatu yang tidak akan bisa membuat mereka bisa merasakan tidur nyenyak seperti sebelumnya.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan. Lalu, hukuman apa yang harus kami terima?" tanya orang tua Edo.
"Kalian harus pergi ke suatu tempat untuk liburan bersama selama kurang lebih 5 tahun. Setelah liburan kalian selesai, dengan senang hati anak buah saya akan menjemput kalian kembali ke rumah. Bagaimana? Baik 'kan, jarang loh, seorang mafia seperti saya bisa memberikan tawaran seperti itu. Bahkan, sepertinya baru kalian yang mendapatkan hukuman menarik itu."
Mereka langsung bertatap muka secara bersamaan tanpa merasakan kecurigaan pada Thoms sedikit pun. Wajah mereka yang terlihat sembab, kini kembali ceria. Kapan lagi mereka mendapatkan liburan secara geratis kalau bukan dari Thom. Ternyata, Thoms tidak sejahat apa yang mereka kira. Mereka malah menganggap bahwa Thoms orang yang baik.
Namun, pada dasarnya Thoms sudah menyiapkan semua itu secara matang demi membalaskan semua rasa sakit yang Justin rasakan. Satu bulan sama seperti satu tahun bagi Thoms, sehingga dia memberikan tiket berlibur secara geratis selama 5 tahun. Yang artinya mereka harus membayar penderitaan Justin selama 5 bulan menjadi 5 tahun.
"Wah, i-ini seriusan, Tuan? Saya dan teman-teman saya akan mendapatkan tiker liburan gratis selama itu?" tanya Edo, antusias. Terlihat sekali, dia begitu bahagia mendapatkan semua itu tanpa memikirkan penderitaan yang Justin rasakan.
Thoms menganggukkan kepalanya sambil memejamkan kedua matanya secara sekilas. Senyuman Thoms, sebagai pertanda bahwa mereka benar-benar akan mendapatkan liburan secara geratis mewah.
"Cepat, berikan tiket itu pada mereka dan jangan lupa antarkan mereka ketempat tujuan dengan selamat. Apa kalian paham?" ucap Thoms, melirik ke arah salah satu anak buahnya dengan kode tertentu.
"Baik, Tuan. Saya akan antarakan mereka sekarang juga!" ucap anak buah Thoms, lalu membagikan tiket tersebut.
"Tapi, Tuan. Kami belum membawa barang-barang yang kami perlukan di sana? Bagaimana kalau kami mengambilnya terlebih dahulu baru---"
Thoms mengangkat tangannya di atas, lalu dia berdiri menatap mereka semua dengan wajah yang sangat datar. Kebahagiaan mulai memudar ketika melihat reaksi Thoms seketika berubah.
"Tidak perlu, saya sudah menyiapkan semuanya di sana. Kalian hanya tinggal membawa badan, jika kalian mau berangkatlah sekarang. Kalau keberatan, saya akan pastikan salah satu anggota dari tubuh kalian akan menjadi tumbalnya!"
Selesai memberikan ancaman tersebut, Thoms berbalik membuat semua spontan berdiri untuk menyetujui apa yang sudah Thoms berikan.
"Saya mau, Tuan!"
"Saya juga mau, Tuan!"
"Saya juga!"
__ADS_1
Sorakan mereka semua berhasil membuat senyuman Thoms melebar. Kemudian di langsung pergi begitu saja, saat semua umpannya telah termakan oleh mangsanya.
Anak buah Thoms segera bersiap-siap, lalu dibawa pergi Edo, kedua kawannya juga keluarga mereka. Semua melakukan perjalan yang cukup jauh, apa lagi mereka menaiki sebuah kapal yang sangat besar mengalahkan kapal laut lainnya.
Tidak menyangka, akibat ulah Edo dan teman-temannya semua keluarga menjadi ikut senang. Salah satu orang tua mereka merasa bangga, bahkan merasa bahagia karena anaknya keluarga bisa berlibur di pulau yang sangat indah di dunia ini.
Kurang lebih mereka harus bertahan berada di lautan selama 1 Minggu. Ombak yang beberapa kali mengejutkan membuat mereka sedikit takut, akan tetapi itu sudah menjadi resiko bagi mereka untuk mencapai pulau tersebut.
Sementara itu, Thoms tertawa puas di dalam hatinya ketika melihat kebo*dohan dari mereka semua. Sebenarnya, itu bukan liburan yang seperti mereka bayangkan. Melainkan sebuah penjara yang akan membuat mereka menderita selama 5 tahun lamanya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
1 Minggu berlalu, kapal tersebut berhenti di sebuah pulau yang amat kecil. Jauh dari pulau yang ada di bayangan mereka sebelumnya. Ketika ingin sampai di pulau tersebut, kedua mata mereka harus di tutup rapat-rapat. Barulah, mereka bisa turun dengan arahan dari beberapa bodyguard.
Semuanya berjalan masuki pulau secara perlahan, setelah itu para bodyguard memberikn arahan. Pada hitungan ke-10 mereka baru boleh membuka matanya, sedangkan para bodyguard Thoms segera pergi meninggalkan mereka menuju kapal.
Dalam hitungan ke-10 ternyata kapal yang keluarga Edo serta teman-temannya naiki, kini sudah mulai berjalan kembali menyeberangi lautan yang sangat luas demi kembali ke pelabuhan pertama kali mereka berangkat.
Sementara mereka, baru membuka kedua matanya terkejut melihat pemandangan pulang yang hampir seperti hutan kecil yang sangat menyeramkan. Mata mereka langsung berkeliatan menatap semua isi pulau yang tidak ada penghuni selain mereka bersembilan.
Betapa syoknya, saat mereka tau bahwa Thoms telah mengelabihi mereka. Lalu, meninggalkannya atau mengurngnya di pulau terpencil itu tanpa adanya kendaraan yang bisa membawanya kembali sebelum 5 tahun lamanya, belum lagi tidak ada stok makanan yang mereka butuhkan serta tempat tinggal yang layak.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1