Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kakak?


__ADS_3

Setelah kejadian lucu itu terjadi, Justin meminta Moana untuk pergi ke kantin menyusul oma dan opanya karena perut yang sudah terasa lapar. Maklum saja, sebelum berangkat mereka tidak sarapan lebih dulu sebab Elice dan Moana lupa untuk berbelanja bulanan.


Pada akhirnya mereka semua harus terpaksa berangkat dalam keadaan perut kosong. Niatnya ingin makan di kantin rumah sakit, tetapi masih belum pada matang hingga membuat perut Justin sudah mulai terasa keroncongan.


"Mom, Kakak laper! Ayo, kita susul Oma sama Opa di kantin!" titah Justin.


Dia langsung berdiri menatap Moana yang sedang mengobrol serius dengan Dinda mengenai kondisi Felix dan tindakan apa yang harus dilakukan. Sementara Ernest mengejek pekerjaan melalui ponsel, sesekali mendengar mereka mengobrol.


"Sabar, Kak. Mommy lagi bicara sama Tante Dinda. Tunggu sebentar, oke?" ucap Ernest sambil menenangkan sang anak.


"Tapi, Kakak udah laper, Dad. Lagian juga dia baik-baik aja, ngapain kita repot-repot ke sini. Paling dia sakitnya boho---"


"Kakak, dijaga ucapannya. Mommy dan Daddy tidak pernah mengajarkan Kakak berbicara kasar seperti itu ya, dia ini ayahmu, jadi---"


Perkataan Moana terhenti ketika Felix langsung menahan emosinya. Semua itu dilakukan agar tidak membuat hubungan Justin dan mereka bertengkar hanya karena membela orang yang jelas-jelas sudah bersalah.


"Sudah, Naa. Jaga emosimu, jangan sampai nadamu membuat Justin menjadi salah paham denganmu. Aku gapapa, kok. Aku bisa memakluminnya, apa lagi dia juga masih sangat kecil jadi belum mengerti apa-apa. Biarkan waktu yang menjawab semuanya, semoga nanti Justin bisa mengerti apa yang kita sampaikan."


"Udah, kalian bawa Justin ke kantin aja dulu gih, kasihan dia pasti udah laper banget. Nanti makan yang banyak ya, Sayang. Harus jaga kesehatan biar Justin tetap sehat, Ayah tidak mau lihat Justin sakit karena Ayah sayang sama Justin."


Mata Felix melirik ke arah Justin, tetapi malah dibalas dengan deca*pan kesal oleh Justin sambil berbalik membelakangin Felix. Di mana kedua tangannya dilipat ke dada, wajah cemberut persis sekali seperti Moana ketika sedang merajuk.


Moana mengelus dadanya secara perlahan, lalu Dinda yang ada di sampingnya juga ikut mengelus lengan Moana sambil tersenyum, "Sabar, Kak. Justin masih butuh waktu buat bisa menerima semuanya. Kami bisa mengerti itu kok, setidaknya Justin udah datang ke sini aja udah buat Felix senang, kok."


Moana menoleh ke arah samping menatap Dinda yang saat ini mengangguk kecil sambil terus mengukirkan senyuman yang membuat Moana juga ikut tersenyum kecil dan kembali menatao Justin.

__ADS_1


Melihat Justin seperti itu, Ernest segera menaruh ponselnya kemudian menarik lengan sang anak untuk menuntunnya duduk tepat di atas kedua kaki Ernest. Justin hanya bisa mengikuti sang daddy, meskipun wajahnya tetap dalam keadaan tidak ingin melihat ke arah Felix.


"Kakak, dengarkan Daddy, oke. Kakak itu anak yang baik, penurut juga sayang sama semua orang. Jadi, Kakak gak boleh gitu bersikap begitu sama orang yang usianya jauh di atas Kakak. Apa lagi Kakak udah tahu Paman Felix itu ayah kandung dari Kakak, sehingga Kakak harus tetap menghormatinya."


"Daddy paham, kok. Kakak masih belum bisa menerima semua kenyataan ini, sama kaya Daddy dulu. Cuman, setelah Daddy kehilangan kalian barulah Daddy mengerti dan merasakan betapa berharganya kalian untuk hidup Daddy."


"Sekarang yang jadi pertanyaan Daddy, apakah Kakak harus merasakan apa yang Daddy rasakan. Yaitu, kehilangan Paman Felix dulu, baru Kakak bisa mengerti dan merasakan apakah Kakak sayang sama Paman Felix atau tidak. Mau seperti itu, hem?"


Ernest berusaha keras menasihati sang anak meskipun harus menggunakan bahasa dan nada yang selembut mungkin. Ernest paham betul, jika mereka sedikit saja meninggikan suara sudah psti Justin akan merasa kalau kedua orang tuanya sudah tidak lagi menyayanginya, atau bisa jadi Justin akan berpikir mereka tidak mengerti bagaimana perasaannya.


Justin terdiam menundukkan kepalanya sambil memainkan jari jemari kecil yang cukup menggemaskan itu. Justin tidak tahu harus menjawab apa lagi, lantaran nasihat yang Ernest berikan membuat hati Justin merasa sedih dan sedikit kesal. Seakan-akan Justin tidak terima jika Ernest mengatakan semua itu mengenai Felix.


Justin tidak ingin kehilangan Felix karena dari kecil sampai saat ini dia masih sangat menyayangi Felix, tidak ada yang berubah sama sekali, kecuali rasa kecewanya terhadap sikap Felix yang sudah menyakiti Moana.


"Sepertinya, Daddy udah laper, kita ke kantin duluan, yuk! Biarkan Mommy di sini jagain Ade yang lagi tertidur, nanti kalau Mommy gak menyusul. Gimana kalau kita bawain makanan aja sekalian buat Tante Dinda. Mau?"


Ernest tersenyum mencoba untuk merayu Justin agar tidak lagi bersedih atas ucapannya yang mungkin sedikit mencubit hati sang anak. Justin sedikit mengangkat kepalanya menatap Ernest, kemudian mengangguk-angguk pertanda kalau Justin telah menyetujuinnya.


Tanpa berlama-lama lagi, Ernest langsung berpamitan pada semua untuk pergi ke kantin mencari makan. Moana menganggukan kepalanya tanpa mengatakan sesuatu. Setelah itu Ernest pergi keluar dari kamar Felix dengan kursi roda yang sudah mulai terbiasa menyatu dengannya.


Tombol tersebut Ernest tekan sekalian di arahkan agar bisa berjalan sesuai sama apa yang Ernest inginkan. Sedangkan Justin, hanya duduk manis bercanda dengan Ernest agar membuat senyuman itu kembali terukir di sudut bibirnya.


Moana yang sedikit pusing membuat Dinda segera menuntunnya untuk duduk tepat di kursi tunggal samping bangkar sambil mengambil Justin dari gendongan Moana dan menaruhnya perlahan ke trolly baby.


"Kamu gapapa, Naa?" tanya Felix untuk mastikan agar semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Aku gapapa, Kak. Maafkan, Justin. Dia masih belum bisa menerima keadaan ini, tapi aku enggak nyerah, kok. Aku dan Ernest masih tetap berusaha untuk membuat Justin mengerti, hanya saja Kakak harus sabar dulu, ya. Aku belum bisa mengendalikan emosi Justin itu, rasanya pun lelah sekali. Aku tidak tahu harus gunakan cara apa lagi," ucap Moana memijit sedikit kepalanya.


"Sudahlah, Kak. Jangan banyak pikiran, kasihan anak Kakak yang kecil. Dia masih butuh ASI, jangan sampai karena Kakak setres bisa menyumbat ASI Kakak untuknya. Kami gapapa, kok. Ya 'kan, Sayang?"


Dinda mengelus pundak Moana sesekali memeluk dari arah belakang demi mengurangi beban yang Moana pikul saat ini. Dinda dan Moana menatap ke arah Felix, di mana wajahnya terlihat seperti orang yang sedang terkejut.


"Sayang, kenapa? Kok melamun?" tanya Dinda khawatir, segera mendekati bangkar Felix dan duduk di tepi bangkar sambil mengelus punggungnya.


"Sayang, hei! Ada apa denganmu, jangan melamun! Ingat, dokter tidak memperbolehkan kamu seperti ini bisa-bisa nanti depresimu kembali, loh. Ayolah, sadar, Sayang. Please!" sambung Dinda membuat Moana ikut terlihat panik.


"Loh, hei! Kak, ada apa? Kenapa Kakak diam, jawablah, Kak. Jangan bikin kita panik!" sahut Moana berdiri di depan mereka.


"Say---"


"A-apa tadi yang ka-kamu bilang, Naa? Ka-kakak?" tanya Felix menatap Moana dengan tatapan terkejut.


Dinda dan Moana saling menatap satu sama lain untuk beberapa detik. Setelah itu mereka langsung paham kalau Felix terkejut atas panggilan yang Moana berikan, hingga membuat Dinda tersenyum ke arah Moana dan membuatnya kembali menatap Felix.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2