
"Sudah cukup, Ernest! Kamu itu tidak tahu apa-apa mengenai kisah itu, dan tidak boleh menghakimin istrimu sendiri seperti ini. Seharusnya yang kamu lakuin sekarang adalah menjadi seorang pendengar yang baik, agar istrimu bisa menjelaskan tentang permasalahan ini, bukan malah menuduhnya tanpa bukti!"
"Sebagai seorang suami bersikap selayaknya seorang peminpin, dia akan mendengarkan masukan-masukan baik buruknya dan akan mengambil keputusan berdasarkan fakta yang ada. Barulah, kamu bisa menyimpulkan, apakah istrimu itu bersalah atau tidak!"
"Semarah apa pun Ayah atau Bunda, kami tetap mengutamakan komunikasi dengan baik. Meskipun kami bersikap cuek, dan tidak banyak berbicara. Kami tetap mengunakan kepala dingin untuk menyelesaikan semua masalah, baik masalah ringan, sedang ataupun besar!"
"Ayah dan Bunda sudah tahu cerita yang sebenarnya dari Felix. Dia menceritakan kronologi semua kejadian itu dari awal sampai akhir, dan semua itu murni kesalahan Felix tanpa adanya campur tangan Moana!"
"Felix ceritakan versi full masalah tersebut, membuat kami menjadi syok, Moana sendiri saja baru tahu mengenai semua itu dan langsung jatuh drop. Dokter mengatakan kalau Moana mmdterkena guncangan mental yang cukup berpengaruh untuk aktifitasnya. Bahasa kasarnya, depresi yang menimpa Moana telah merubah semua kebiasaannya."
"Keseharian istrimu yang biasanya terlihat ceria, bawel, jahil dan lain-lain. Kini, hanya tersisa kedataran pada sikap istrimu, dan lebih irit dalam hal berbicara. Seakan-akan tatapan yang istrimu pancarkan menunjukkan, betapa hancurnya dia setelah mengetahui semuanya. Moana memilih untuk berdiam diri demi menstabilkan pikirannya, semua itu karena dia tidak mau hubungannya berakhir sia-sia!"
"Asal kamu tahu saja, sebenarnya pada saat itu Felix yang telah menjebak kalian berdua demi menyelamatkan hidupnya sendiri dari kehancuran. Di mana pada saat itu mereka ...."
__ADS_1
Sakha mulai menjelaskan apa yang sudah terjadi pada Ernest tentang masa lalu mereka. Semua yang Felix katakan, Sakha jelaskan sebaik mungkin tanpa mengurangi ataupun menambahkannya.
Erenest terdiam mematung, bersamaan dengan jantungnya yang berdebar cepat saat dia memikirkan kondisi istrinya. Akan tetapi, semua penjelasan Sakha membuat Ernest menjadi bingung.
Satu sisi dia masih percaya jika Moana dan Felix bersekongkol untuk menjebaknya, tetapi di sisi lainnya. Erenst sangat sedih mendengar keadaan Moana yang begitu kacau.
Sampai akhirnya, Sakha selesai menjelaskan lalu menatap anaknya yang sedang terdiam. Sakha tahu, jika saat ini Ernest pasti memikirkan tentang istrinya. Mungkin Ernest memang sangat kecewa atas semua kenyataan ini, hanya saja cintanya dengan Moana tidak bisa di bohongi.
Namun, ketika Sakha percaya kalau Ernest akan kembali memaafkan Moana. Tiba-tiba dia di kejutkan oleh perkataan Ernest yang sangat menyakitkan hatinya.
"Sungguh, malang sekali nasibmu, Ernest! Selama ini kau berusaha untuk membuat kedua orang tuamu bahagia, dan juga berbakti tanpa pernah mengecewakannya. Namun, sekarang apa yang kau dapat? Kau hanya menerima kekecewaan, atas sikap kedua orang tuamu yang lebih membela orang lain. Sudah jelas jika itu bukan cucu kandungnya masih saja di bela, di kata keluargaku ini tempat penampungan anak apa!"
"Kalau begitu, kenapa tidak sekalian saja. Semua wanita yang hamil di luar nikah tanpa tanggung jawab prianya, Ayah nikahkan saja denganku. Jadikan aku ini Ayah dari semua anak itu, lalu kita buat rumah ini sebagai penampunga wanita hamil di luar nikah!"
__ADS_1
Sakha langsung syok dan spontan untuk memegangi dadanya yang berdetak tidak beraturan. Rasanya sakit sekali, seakan-akan Sakha mengalami serangan jantung ringan ketika mendengar anaknya mengatakan seperti itu. Apa yang sudah dia jelaskan, sama sekali tidak membuka mata hati Ernest dari kesalah pahaman itu.
Anehnya, Ernest sendiri pun terkejut atas perkataannya sendiri. Dia tidak tahu ada apa dengan dirinya, kenapa bisa dia bisa berbicara seperti itu kepada Ayahnya. Akan tetapi, apa daya. Lagi-lagi keegoisan kembali menjadi pemenangnya. Sehingga, Ernest tidak bisa mendengarkan sedikit pun apa kata hatinya.
Sakha yang tidak tahu harus berkata apa pun, dia segera pergi dari rumah dalam keadaan wajah datar sambil terus memegangi dadanya. Ernest yang melihat Sakha bersikap aneh, membuatnya khawatir. Dia memanggil Ayahnya, tetapi tidak di gubris sama sekali oleh Sakha.
Selepas Sakha pergi, Ernest berteriak sekuat tenaga akibat kesalahan dalam berbicara lagi-lagi dia melukai hati Ayahnya.
Peperangan antara hati dan pikiran, selalu membuat Ernest tidak percaya. Dia segera kembali ke dalam rumah, saat beberapa pengurus rumah menatap ke arahnya dalam keadaan bingung atas sikap Ernest yang sangat-sangat berbeda dari bisanya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung