
"Waktu itu saya sudah berjanji akan memberikanmu pekerjaan, jadi saya berikan tawaran pekerjaan menjadi asisten saya. Kapan pun saya butuh kamu harus selalu siap, dan kamu harus ikut ke mana saya pergi selama jam kantor. Apa kau sanggup?"
Dinda tidak bisa berkata apa-apa lagi. Wajahnya terlihat sangat syok parah, ini pekerjaan di luar dari pemikiran Dinda. Dia mengira Ernest akan menjadikannya seorang OB di Perusahaannya atau pekerjaan lainnya yang tidak memiliki peran penting di dalam usahanya.
Akan tetapi, semua ini malah di luar nalar pikirannya. Rasanya Dinda ingin pingsan, hanya saja tidak jadi. Dia terdiam seribu bahasa, bukan karena dia merasa bahagia atas pekerjaan yang Ernest berikan. Melainkan Dinda bingung, jika dia menerimanya otomatis 24 jam kedepan hidupnya akan di atur oleh Ernest tanpa bisa membantahnya.
Namun, bila tidak di terima kesempatan emas ini tidak akan pernah datang untuk kedua kalinya. Tidak semua orang beruntung seperti Dinda, di saat dia tidak memiliki pendidikan atau ijazah yang tinggi, malah ketiban rezeki yang sangat melimpah.
Melihat kegelisan di wajah Dinda, membuat Ernest berpikir jika Dinda bingung sama pekerjaan yang akan dia jalani nantinya. Jadi, dengan percaya diri Ernest kembali menjelaskan apa yang harus dia jelaskan.
"Kau tidak perlu bingung, cukup jawab iya atau tidak. Jika iya, maka semua tugas-tugasmu akan di beritahukan oleh sekretaris saya. Dan dia akan mengajarimu untuk belajar memahami semua tugas yang akan kau terima nantinya!"
"Jika kau menolaknya, maka tugas saya telah selesai. Saya tidak ada janji lagi yang harus saya bayar, kau bisa mencari pekerjaan sendiri. Apa lagi dalam keadaan seperti ini susah untuk mencari pekerjaan. Ijazah S1 saja tidak menjamin mendapatkan pekerjaan yang layak, bahkan OB di Perusahaan saya pun ada yang lulusan S1. Jadi, harusnya kau bersyukur bisa mendapatkan tawaran sebagus ini. Terus, gimana jawabmu? Iya atau tidak?
Sebenarnya Dinda tidak masalah sama pekerjaan yang Ernest berikan, selagi dia punya niat dan tekat apa pun bisa dia lakukan dengan mudahnya.
__ADS_1
Hanya saja, apakah Dinda akan kuat untuk menghadapi sifat atasannya yang seperti Ernest ini? Apakah jantungnya akan aman ketika mendapatkan bentakan yang cukup keras seperti tadi? Itulah masalah yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada pilihan lain, tanpa ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada Dinda pun langsung menyetujui semuanya. Dia menerima pekerjaan itu, karena hanya dengan begitu dia jalani kehidupan jauh lebih baik. Selebihnya urusan sikap Ernest, Dinda tidak peduli. Dia rela di bentak asalkan dia bisa memiliki kehidupan yang jauh lebih layak demi menggapai cita-citanya.
"Saya mau, Tuan. Saya janji, saya akan belajar sebisa saya untuk menyeimbangi pekerjaan Tuan. Jika saya salah, mohon di berikan pengertian. Tuan tahu, bagaimana pendidikan saya. Jadi, maaf apa bila saya banyak bertanya dan juga bekerja tidak secepat asisten Tuan sebelumnya," jawab Dinda, wajahnya penuh keseriusan.
"Good! Kau mengambil langkah yang benar!" sahut Ernest, tersenyum miring.
Perlahan Ernest merogoh saku celananya, dan mengeluarkan dompetnya. Satu kartu nama Ernest berikan pada Dinda, "Datanglah ke Perusahaan saya, sesuai dengan alamat yang tertera di situ. Nanti kau tunjukan kartu nama itu ke resepsionis dan minta dia untuk mengantarkanmu ke ruangan saya!"
"Dan satu lagi, ini ada uang untukmu mencari kontrakan serta belilah pakaian yang sopan untuk ke Perusahaan saya, layaknya seorang asisten Perusahaan pada umumnya. Paham?"
atas meja depan wajah Dinda.
"Tu-tuan, tidak perlu seperti ini. Tuan sudah memberikan pekerjaan saja, saya sudah bersykur. Jadi---"
__ADS_1
"Ambillah, saya tidak suka penolakan! Ini uang buat bayar semuanya, saya harus segera kembali ke Perusahaan karena ada meeting 2 jam lagi. Gunakan uang itu sebaik mungkin, jika kurang besok akan saya berikan kembali. Saya permisi!"
Ernest berdiri sedikit mendorong kursinya, lalu dia pergi begitu saja meninggalkan Dina yang masih terdiam mematung di tempat. Dia tidak menyangka di balik sifat cuek, dingin dan galaknya Ernest, ternyata dia juga memiliki hati yang baik.
Harusnya Dinda yang merasa hutang budi pada Ernest, dan memberikan atau melakukan apa yang Erneat inginkan. Bukan terbalik seperti ini, selepas perginya Ernest Dinda segera membayar makanan tersebut lalu membawa sisa uang dari Ernest.
"Astaga, barang-barangku? Hyakk, dasar Dinda bo*doh! Cepat kejar Tuan Ernest, sebelum dia pergi jauh!"
Dinda berlari saat teringat kalau semua barang-barangnya masih ada di dalam mobil Ernest dan belum di turunkan. Akan tetapi, saat Dinda sudah keluar mengejar Ernest. Seorang sekurity menahannya serta memberitahukan padanya, jika barang-barangnya sudah di titipkan di tempat penjagaan oleh Ernest.
Di situ, hati Dinda langsung terasa lega. Dia tidak lagi mengejar Ernest, fokusnya saat ini dia harus mencari kontrakan yang tidak jauh dari Perusahaan Ernest. Dengan begitu dia tidak membutuhkan waktu banyak ketika berangkat kerja. Bermodalkan uang 3 juta, semua harus bisa Dinda gunakan sebaik mungkin. Supaya nanti, tidak sampai mengecewakan Ernest.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung