Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Dasar Mulut Tidak Berguna!


__ADS_3

"Baiklah, jika jawabanmu seperti itu. Kita lihat saja nanti, ketika anak kalian lahir kamu masih belum juga berubah. Maka, jangan salahkan Ayah. Bila nanti Ayah akan membawa anak serta istrimu pergi menjauh darimu!"


Degh!


Ernest terdiam mematung setelah mendengar semua perkataan dari Sakha. Dia tidak mengerti perasaan apa yang saat ini sedang dia rasakan.


Kedilemaan yang Ernest alami, berhasil membuatnya bingung. Dia memang tidak mencintai Moana, tetapi kenapa berat sekali rasanya kalau harus berpisah dengannya.


Entah perasaan apa yang sekarang di landa oleh Erenst, hingga akhirnya dia mengatakan sesuatu di luar dugaannya sendiri.


"Kalau, Ayah sampai melakukan itu semua. Jangan salahkan Ernest bila suatu saat nanti, diam-diam Ernest akan membawa kabur Moana dan juga cucu kalian. Dengan begitu kalian tidak akan pernah bertemu sampai kapanpun!"


Sakha terdiam menatap istrinya, begitu juga Elice yang menatap suaminya. Mereka tidak menyangka kalau sebenarnya Ernest memang sudah memiliki perasaan kepada istrinya, hanya saja itu sangatlah tipis. Setipis tisu di belah dua, sehingga Ernest sendiri pun belum menyadari akan hal tersebut.


Moana yang terkejut langsung duduk sambil menatap suaminya. Dimana Ernest kembali terdiam setelah menyadari perkataannya sendiri.


"Astaga, kenapa aku bisa berbicara seperti itu sama Ayah? Perasaan tadi yang ada di dalam pikiranku bukan itu, terus kenapa yang keluar malah ancaman?" gumam Ernest di dalam hatinya.


Tanpa mereka sadari, kedua orang tua Ernest sedikit mengukir senyuman yang sangat kecil. Mereka sudah mengerti, bila Ernest memiliki rasa gengsi yang cukup besar terhadap istrinya.


Namun, itu malah semakin bagus. Artinya di balik sikap Ernest yang terbilang cuek dan masa bodo, terdapat sebuah cinta yang sangat tipis terhadap Moana.

__ADS_1


Mereka hanya perlu sedikit saja menaburkan pupuk, kemudian menyiraminya. Maka cinta itu akan selalu tumbuh di dalam hati mereka masing-masing.


"Oh gitu, jadi sekarang anak yang terbilang sopan terhadap orang tua. Kini, sudah berani mengancam Ayahnya sendiri?" ucap Elice dengan tatapan penuh arti.


Seketika sikap Ernest berubah menjadi bingung dan juga gugup. Dia mulai menyalahkan dirinya atas perkataannya yang mungkin melukai hati Sakha.


Ini kali pertama bagi Ernest bisa mengancap kedua orang tuanya sendiri. Selama ini dia tidak pernah mengatakan hal kasar atau pengancaman terhadap kedua orang tuanya. Sebab, Ernest sangat menghormati mereka.


Akan tetapi sekarang berbeda, Ernest yang menyadari kesalahannya langsung meminta maaf pada kedua orang tuanya. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk mengancamnya, karena itu semua spontan terucap tanpa dia sadari.


Sakha dan Elice pun pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua di ruang keluarga. Bukan berarti marah, melainkan mereka hanya ingin mengetes anaknya. Mungkin dengan cara seperti ini, sedikit demi sedikit Ernest dan Moana bisa lebih dekat.


Apa lagi Elice dan Sakha sangat tahu tentang anaknya. Jika Ernest sedang kebingungan, pasti akan mencari teman ngobrol yang bisa memberikannya saran, atau sekedar mendengarkan semua keluh kesalnya.


Apakah dia harus senang ketika mendengar suaminya seakan-akan membelanya, karena tidak mau di pisahkan. Atau, dia harus sedih saat melihat seorang anak melawan kedua orang tuanya sendiri, meski apa yang Ernest lakukan tidak sepenuhnya salah.


"Apa perkataanku tadi, sangat menyakiti hati Ayah dan Bunda?"


Ernest menatap Moana penuh keseriusan, sesekali wajahnya terlihat sedikit ketakutan. Bagi Moana, Ernest memang tipikal pria yang sangat menyayangi keluarganya.


Hanya saja sifat menjengkelkannya tidak bisa Moana ungkapkan dengan kata-kata. Walaupun Moana tahu, Ernest begitu karena dia masih belum bisa sepenuhnya berdamai dengan kejadian yang telah terjadi.

__ADS_1


"A-aku tidak tahu, mu-mungkin saja perkataan Tuan sedikit menyakitkan. Sebab, semua yang Tuan ucapkan itu di sertai oleh pengancaman."


"Me-memangnya Tuan lupa, jika mereka sangat menginginkan anak ini. Jadi sudah pasti mereka akan merasa sedih atas perkataan Tuan barusan."


Moana merasa sedikit kasihan setelah menatap wajah suaminya yang sangat pusing dan juga bingung. Ernest tidak tahu harus melakukan apa lagi ketika dia harus membujuk kedua orang tuanya.


"Aarrghh ... Dasar mulut tidak berguna!"


Ernest langsung memukul bibirnya sendiri cukup keras, hingga Moana yang melihatnya refleks langsung pindah posisi di samping suaminya.


Moana berusaha untuk menahan tangan Ernest berulang kali, walaupun tenaga Ernest cukup keras tetapi Moana tetap mencoba untuk melindunginya.


"Cukup, Tuan. Cukup! Tuan tidak boleh seperti ini, kalau Tuan merasa bersalah. Lebih baik pikirkan cara meminta maaf pada Ayah dan Bunda, bukan malah menyakiti seperti ini!"


"Aku tidak tahu harus bagaimana membuat Ayah dan Bunda mengerti, jika aku tidak sengaja mengatakannya. Aku sendiri pun bingung kenapa aku bisa mengatakan semua itu. Ini kali pertama aku menyakiti mereka, sebelumnya aku selalu menjaga perasaan mereka."


Elice dan Sakha melirik satu sama lain, kemudian mereka berdua langsung bertos ria layaknya seseorang yang telah menyelesaikan misi. Wajah mereka terlihat senang, saat menyaksikan anak dan menantunya mulai menepis jarak satu sama lain.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2