
Tangan Ernest mengelus kepala sang anak, sedangkan Moana memeluknya begitu erat demi memberikan kenyamanan kepada Justin yang berada di ambang dilema.
"Sayang, dengerin Daddy baik-baik ya, oke?" Justin mengangguk sambil terus dipeluk oleh sang mommy supaya tidak memberikan rasa takut ketika dinasihati.
"Apa yang Kakak lakukan itu tidak salah kok, Kakak itu seorang laki-laki pemberani hanya untuk membela keluarga. Cuma, masalahnya satu. Mommy sama Daddy pernah bukan, menasihati Kakak apa pun yang terjadi Kakak harus bisa menghormati orang yang lebih tua dari Kakak. Tidak peduli sejahat apa ymorang itu sama kita yang penting kita harus tetap menjadi orang baik. Betul?"
Justin mengangguk antusias sambil mendengarkan apa yang disampaikan pada sang daddy. Moana saja merasa kagum terhadap perubahan-perubahan sang suami yang semakin bijak dalam menghadapi masalah. Tidak seperti dulu selalu mengandalkan emosi lebih dulu, baru memikirkan solusinya.
"Sayangnya, sikap Kakak yang benar itu juga sedikit tidak boleh dilakukan. Karena apa? Karena kata-kata yang Kakak keluarkan untuk Papa Thoms sangatkan menyakitkan, ditambah Kakak memukuli wajahnya padahal, Papa Thoms tidak melawan Kakak. Sama seperti apa yang Daddy ajarkan pada Kakak. Selagi orang itu tidak menyentuh bagian tubuh Kakak, tidak boleh Kakak menyentuhnya. Contoh, jika Kakak ada di sekolah tiba-tiba ada teman yang meledek Kakak, nah, Kakak tidak boleh memukulnya. Cukup senyum dan pergi menjauh dari orang tersebut. Apabila orang itu memukul Kakak secara tiba-tiba, Kakak tidak boleh membalas. Akan tetapi, Kakak cuma perlu menangkis untuk lmembela diri Kakak dan menyelamatkan diri Kakak. Masih ingat apa yang Daddy ajarkan?"
Justin tidak dapat menjawab pertanyaan sang daddy, tetapi dia paham apa maksudnya lantaran semakin Justin bertambah umur semakin Ernest menjaganya dengan memberikan pelatihan bela diri dan beberapa les mata pelajaran demi masa deoan Justin sendiri.
"Jadi, Kakak bisa menilai sendiri apa yang Kakak lakukan itu salah atau bukan? Sementara Kakak dulu sangat menbenci Daddy ketika Daddy hanya bisa menyakiti kalian. Namun, nyatanya apa? Daddy berjuang untuk mendapatkan maaf dari kalian hingga sampai sekarang kita bisa kembali hidup rukun dan bahagia. Nah, itu sama seperti apa yang dirasakan oleh Ayah Felix dan Papa Thoms. Mereka berdua juga menyesal karena udah menyakiti Justin, Mommy, dan Ade. Jika Mommy dan Ade bisa memaafkan, terus kenapa Kakak tidak bisa? Padahal, dari semua rasa sakit yang Kakak rasakan itu jauh lebih sakit Mommy. Tanyakan sama Mommy pasti sakit banget? Cuma, hebatnya Mommy. Dia bisa menjadi orang yang pemaaf meskipun hatinya sangat hancur dan kecewa. Itu alasan kenapa Daddy cinta ma*ti sama Mommy."
Penjelasan yang dikatakan oleh Ernest sangatlah bijak. Pria itu mampu membuat Justin tidak berkutik untuk bisa menjawabnya. Justin diam bukan karena merasa takut akan dimarahi, tetapi diamnya dia lantaran sedang mikirkan apa yang dikatakan oleh sang daddy memang benar.
__ADS_1
Apa yang dikatakan Ernest sudah mencakupi semuanya. Hqnya saja Moana ingin menambahkan sedikit supaya Justin dapat berpikir dengan jernih bahwa dendam, kekecewaan, egois, dan amarah tidak akan selamanya kekal. Semua itu akan kembali pada diri sendiri.
"Mommy dan Daddy tahu kok, betapa kecewanya Kakak sama Ayah Felix dan Papa Thoms, cuma alangkah baiknya Kakak maafkan mereka. Urusan mereka bersalah atau tidak, mereka mau berubah atau tidak biarlah Tuhan yang menentukan. Ayah Felix adalah ayah kandung Kakak, di dalam da*rah daging Kakak mengalir da*rah keturunannya. Dia juga tidak jahat, dia juga tidak menyia-nyiakan kita malah rasa sayangnya jauh lebih besar dari Daddy. Cuma, pada saat itu Ayah Felix hanya belum siap memiliki anak karena dia punya masalah sendiri. Tapi, dibalik itu dia tetap menyayangi bahkan mencintai Kakak melebihin rasa cinta Daddy sama Kakak. Masa tidak ada kebaikan Ayah Felix yang melekat di hati Kakak, hem? Pasti ada dong, jadi Mommy dan Daddy hanya berharap semoga Kakak bisa memberikan maaf walaupun, Kakak sendiri belum mempercayai mereka tak apa. Setidaknya kata maaf sudah membuat Ayah Felix senang dan dia bisa kembali sehat."
Justin diam merenung menatap wajah Ernest yang berulang kali mengangguk dan tersenyum. Sementara wajah Moana terlihat lebih tenang meskipun, wanita itu harus kembali membuka luka lama hanya demi memberikan pengertian kepada sang anak.
"Tidak hanya Ayah Felix, Papa Thoms juga sangat berjasa loh, untuk kita. Jika Ayah Felix yang telah memberikan kasih sayang seorang Ayah, begitu juga Papa Thoms. Dialah orang yang menyelamatkan kita dari kehancuran mental dan menyelamatkan adikmu dari keguguran. Kamu masih ingat dong, dulu Mommy hampir kehilangan Ade jika bukan karena Papa Thoms. Nah, itulah yang Mommy maksud. Kita boleh marah pada mereka, boleh kecewa atas apa yang dilakukan, tetapi tidak boleh membenci bahkan sampai memutuskan tali kekeluargaan. Kakak boleh kok, cuma memaafkan mereka walaupun, Kakak masoh belum percaya. Seiring berjalannya waktu Mommy sama Daddy yakin hubungan kita bisa jauh lebih baik lagi. Di mana Kakak dan Ade akan berteman lagi sama Ayah Felix dan Papa Thoms. Ya, 'kan, Dad?"
Ernest mengangguk antusias membuat Moana tersenyum. Berbeda sama Justin yang tetap memilih diam sambil mencerna semua perkataan orang tuanya. Jika dipikir-pikir oleh sang anak memang benar, selama ini hanya Felix dan Thoms yang sangat baik untuk menolong kehidupan mereka dulu. Sementara sang daddy selalu menyakiti tanpa henti.
Jangan salah, berkat nasihat yang diberikan oleh Moana dan Ernest sang anak menjadi paham. Dia langsung tersenyum kecil membuat keduanya merasa senang.
"Jadi, aku harus memberikan maaf sama mereka sebagai tanda terima kasihku karena mereka sudah sangat baik sama kita. Gitu, Mom, Dad?" tanya Justin, wajahnya terligat serius.
"Betul sekali, jika dulu kita tidak bisa membalas kebaikan mereka cukup sekarang kita balas dengan maafkan mereka. Dengan begitu, Mommy yakin Ayah Felix dan Papa Thoms tidak akan lagi menyakiti kita karena sekarang kita punya Daddy yang sayang banget, juga selalu melindingi kita dari bahaya apa pun."
__ADS_1
Ernest terharu mendengar perkataan Moana. Ternyata Tuhan memang baik sekali, walaupun diantidak mendapatkan wanita seperti apa yang diinginkan. Namun, Tuhan memberikan wanita yang jauh lebih berkali-kali lipat jauh lebih baik untuk menjadi pendamping hidupnya.
"Terima kasih, Mom, Dad. Kalian sudah membuat Justin tenang, pokoknya Justin sayang kalian semua dan Ade. Sayang banget, banget, banget, banget ...."
Justin langsung memeluk kedua orang tua dengan rasa bangga. Tidak menyangka apa yang disembunyikan memang tidak baik untuk terus dipendam. Akan tetapi, ketika sudah diceritakan bersama orang tepercaya hati anak itu langsung lega dan tenang. Tidak lagi ada kepanikan di wajah bahkan sakit kepalanya mulai memudar.
Mereka saling berpelukan satu sama lain demgan wajah bahagia. Setelah itu, Moana mencarikan obat untuk meredakan rasa sakit kepada untuk sang anak. Sehabis diminum Justin tidur dengan tenang di dalam pelukan kedua orang tua. Sampai akhirnya, mereka kembali tertidur tepat pukul setengah lima.
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1