
Hampir setengah jam, akhirnya Moana telah selesai menyusui Justin. Lalu, dia kembali menaruhnya di box bayi. Kemudian Moana sedikit merenggangkan semua otot lengan dan badannya, setelah itu barulah merebahkan diri di atas ranjang.
"Lama juga dia di kamar mandi, kira-kira ngapain ya? Tidur? Atau bersemedi hihi ... Dasar pria gengsi!"
"Orang tuh kalau mau ya tinggal bilang apa susahnya, dari pada main sendiri enggak ada lawan 'kan enggak seru. Bhaha ...."
Moana tertawa geli saat bayangan-bayangan nakal mulai menjalar merasuki pikirannya. Akan tetapi, tanda di sadari apa yang dia katakan memang benar.
Untuk pertama kalinya seorang Ernest melakukan adegan bersemedi di dalam kamar mandi, menggunakan tangannya.
Semua itu berkat perkataan Moana dan juga matanya yang melihat benda keramat, sehingga berhasil membangunkan sang adik kecil yang sudah lama tertidur.
"Sayang, apakah kamu masih lama? Jika iya, aku tidur duluan ya. Good night!"
Moana berteriak dengan suara manjanya sambil terkekeh sendiri, sedangkan Ernest yang baru merasa lega setelah membuang sesuatu menjadi kembali tegang.
"Tidurlah, a- hem."
__ADS_1
Ernest menjawab sambil sedikit menahan rasa yang sedang beradandi ujung tanduk. Dia benar-benae bingung, kenapa setelah Moana melahirkan banyak sekali perubahannya.
Moana yang awalnya pendiam, seketika berubah agresif dan selalu berusaha untuk memancingnya. Akan tetapi, Ernest tetap bersikeras pada pendiriannya untuk tidak tergoda.
Namun, pada akhirnya malam ini adalah malam yang tidak bisa tahan. Jadi, suka tidak suka Ernest harus mengeluarkan sesuatu yang tidak pernah dia keluarkan, sebelum menjadi bumerang.
Berbeda sama Moana yang sudah tertidur sambil tertidur miring menghadap ke arah kamar mandi. Di rasa sudah lega, perlahan Erenst keluar dari kamar mandi dengan cara mengendap-endap.
Ernest merasa sedikit gugup, ketika Moana akan kembali menjahilinya. Hanya saja, saat melihat Moana sudah tertidur, jantungnya langsung merasa lega.
"Huhh, akhirnya dia udah tidur juga. Syukulah, mana si Gatot habis ganti oli bukannya enakan, malah tambah tegang. Apa karena kelamaan kali ya, settingannya jadi belum benar? Akhh, tahulah. Lagi pula selama ini aku hanya menyentuh Moana sekali, itu pun dalam keadaan tidak sadar. Setelah itu tidak lagi, cuman kenapa ketika aku melihat benda keramat itu si Gatot langsung bangun?"
Ernest mengacak-ngacak rambutnya sendiri penuh frustasi. Entah itu karena si Gatot, atau karena dia berusaha untuk menghilangkan pikiran yang ada di dalam kepalanya.
Perlahan, Ernest menaiki ranjang tanpa ingin membangunkan istrinya. Pertama dia tertidur dalam keadaan membelakangi Moana, tetapi kembali merubah posisinya menjadi terlentang menatap langit.
Namun, dia tetap tidak bisa tertidur. Rasanya bayang-bayang akan benda keramat itu semakin terlihat jelas. Akhirnya, sedikit demi sedikit Ernest mulai memberanikan diri untuk merubah posisinya.
__ADS_1
Matanya melihat ke wajah Moana, tanpa di sadari tangannya bergerak untuk membenarkan anakan rambut istrinya yang sedikit menutupinya.
"Wajahmu memang cantik, apa lagi hatimu yang baik. Cuman, entah mengapa aku tidak bisa melupakan kejadiaan itu. Aku masih belum percaya bila kejadian itu memang aku yang melakukannya. Hanya saja, semua sudah terbukti. Jadi, aku tidak bisa mengelaknya."
Ernest berbicara di dalam hatinya sambil mengelus pipi Moana secara perlahan. Ernest memang sudah menyadari akan rasa cinta yang dia rasakan, tetapi ego yang masih membuatnya untuk selalu berada di kejadian tersebut, tanpa ingin melewatinya.
"Errrghh ...."
Moana menggeliat merubah posisnya menjadi terlentang, hingga berhasil membuat Ernest terkejut dan langsung berpura-pura tidur menghadap ke arahnya.
Beberapa menit, ketika tidak lagi mendengar suara rengkuhan Moana. Perlahan Ernest membuka matanya, mengintip ke arahnya. Matanya langsung membelalak, lantaran dia tidak percaya sama apa yang telah lihatnya saat ini.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung