Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kecelakaan


__ADS_3

Hari-hari Moana jalani dengan penuh suka duka. Dia mencoba untuk menasihati Justin agar bisa menjadi anak pemberani, di mana dia harus mengambil hati Daddynya seperti semula.


Pertama-tama Justin ketakutan, tubuhnya juga gemetar karena berulang kali mendapat penolakan keras. Hanya saja Moana kembali menguatkan Justin, untuk terus berjuang.


Namun, ketika Justin mengatakan kalau dia lelah dan juga capek. Di situlah Moana pun bingung, haruskah dia mengakhiri semua ini ketika sedang mencoba mempertahankan sesuatu.


Sampai akhirnya ada suatu kejadian yang sangat mengejutkan. Di mana Moana dan Justin sedang jalan-jalan ke kebun binatang, tiba-tiba arah pulang mengalami sebuah kecelakaan hebat.


Di mana mobil yang mereka tumpangi di tabrak dari arah belakang oleh sebuah mobil besar akibat rem blong. Kini, keadaan sang supir tidak begitu parah Dia hanya mengalami sedikit keretakan di tulang kakinya akibat terjempet bagian mobil belakang.


Lantas bagaimana keadaan Moana dan Justin? Apakah dia baik-baik saja? Jawabannya, tidak. Moana dan Justin mengalami koma, hampir semua bagian tubuh mereka mengalami keretakan yang cukup membayakan.


Setelah mendengar kejadian itu Ernest meninggalkan meeting pentingnya. Padahal sudah lama dia nanti-nantikan, sampi beberapa tahun lamanya hanya untuk sekedar kerja sama oleh Perusahaan terbesar yang ada sedunia.


Tidak banyak Perusahaan yang bisa berkerja sama olehnya, tetapi di saat Ernest memiliki peluang yang besar. Dia malah mendapatkan kabar buruk mengenai istri dan anak sambungnya.


Dengan mengurangi rasa hormat, Ernest meninggalkan ruangan meeting dalam keadaan tergesa-gesa ketika Dinda mendapatkan kabar dari Sakha.


Berulang kali Sakha mencoba menghubungi Ernest, tetapi tidak diangkat karena ponselnya di senyapkan agar tidak mengganggu jalannya meeting.


Kabar yang penting itu Sakha terima langsung dari rumah sakit yang selalu menangani keluarganya. Semua berkat sang supir yang masih tersadar dan menghubungi pihak rumah sakit yang jaraknya tidak jauh dari tempat kejadian.


Sakha dan Elice kebetulan berada di jalan pulang, sehingga dia bisa langsung pergi untuk melihat kondisi menantu serta cucunya.

__ADS_1


...🌟🌟🌟🌟🌟...



Sesampainya di rumah sakit, Ernest berlari seorang diri menuju resepsionis untuk menanyakan di mana ruangan istri serta anak angkatnya di rawat.


Setelah mendapatkan informasi mengenai Moana dan Justin, Ernest langsung pergi menuju ruangan ICU. Setibanya di sana mata Ernest langsung melihat ke arah Moana dan Justin yang sedang terbaring lemah tak berdaya di atas bangkarnya, tidak hanya itu. Alat-alat medis pun menempel di tubuh mereka tanpa terkecuali.


Semua itu bertujuan agar dokter dan suster bisa memeriksa semua organ-organ tubuh manusia yang ada di dalam. Apakah masih berfungsi dengan baik, atau tidak.


Ernest berdiri di depan kaca besar, tangannya mulai mera*ba kaca tersebut seakan dia ingin menggenggam tangan Moana dan juga Justin.


Melihat keadaan mereka seperti ini, hati Ernest begitu hancur. Seakan-akan emosi, kekecewaan dan juga keegoisan, semua melembur jadi satu di dalam penyesalan yang teramat mendalam.


"Ma-maafkan a-aku, se-semenjak kejadian itu a-aku sudah menyakiti kalian. Se-sekali lagi ma-maaf!"


Air mata mulai menetes perlahan, bersamaan hatinya yang remuk. Berulang kali Ernest hanya bisa mengucapkan kata maaf dengan bibir bergetar untuk mereka atas semua sikap kasar dan juga egonya.


"Semua sudah terlambat, Ernest! Di saat mereka berada dalam kondisi tidak berdaya berperang oleh kema*tian barulah kamu menyadari semuanya? Hebat, benar-benar hebat!"


"Kemarin di saat mereka masih dalam keadaan baik-baik saja, kamu malah mencoba menyakiti demi membuat mereka membayar semua rasa sakit dan juga kekecewaan hatimu, bukan?"


"Nah, inilah. Mereka sudah membayar lunas semuanya, bahkan berkali-kali lipat dengan nyawanya. Jadi, gimana? Puas sama hasilnya? Ya, walau ini kecelakaan. Akan tetapi, kamu pasti happy 'kan melihat mereka sekarat?"

__ADS_1


Seseorang berbicara dari arah belakang, membuat Ernest langsung berbalik menatap Sakha yang sedang merangkul Elice dalam kondisi menangis.


"Jangan kamu kira selama ini Bunda sama Ayah pergi, dan tidak tahu apa-apa tentang kelakuanmu! Dari awal kalian menikah, Bunda sama Ayah mengirimkan mata-mata yang bisa mengontrol isi rumah tanpa kau ketahui!"


"Semua kami lakukan demi melihat perkembanganmu, kami kira kamu hanya butuh waktu buat berdamai. Nyatanya, kami salah. Kamu malah menyewa wanita bernama Dinda untuk mbuat istrimu cemburu. Tapi, apa yang kamu dapat? Apakah Moana cemburu? Tidak!"


"Kamulah yang terjebak di dalam perangkapmu sendiri. Sampai kamu pun bingung, kenapa bisa bukan Moana yang emosi saat melihat kemesraan itu. Malah, kamu yang emosi sendiri akibat Moana terlalu biasa saja menanggapi perselingkuhan pura-puramu itu!"


"Dan, sekarang buat apa kamu nangisin mereka? Harusnya kamu happy, ketawa puas menyaksikan penderitaan mereka. Dengan begitu balas dendammu selesai!"


Ernest baru sadar kalau apa yang di katakan kedua orang tuanya memang benar. Padahal dia berpikir Moana yang mengadu pada mereka, tapi ternyata merekalah yang mencari tahu sendiri tentang sikap Ernest kepada Moana saat mereka tidak ada.


Ernest tidak tahu harus berbicara apa lagi, dia hanya bisa terdiam. Lalu, tiba-tiba berlari memasuki ruang ICU, menghiraukan ucapan kedua orang tuanya.


Pikiran Ernest mulai kacau ketika dia berada di tengah-tengah bangkar istri dan anak sambungnya. Secara bergantian Ernest mulai menatap mereka berdua, di mana air matanya terus jatuh menetes deras saat kedua tangannya perlahan mulai gemetar memegang tangan Moana dan Justin secara bersamaan.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2