Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Beberapa bulan telah berlalu, hanya tinggal menghitung hari Felix dan Enza akan melangsungkan pernikahan. H-5 adalah hari di mana semua persiapan sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit, Felix sudah mengajukan cuti kepada Ernest selama beberapa hari ke depan untuk melakukan Honeymoon.


Ernest tidak masalah sama pengajuan yang Felix berikan, dia hanya tidak merestui hubungannya bersama Enza setelah kejadian waktu itu. Sementara kedua orang tua Ernest dan Moana tidak bisa apa-apa, jika ini sudah keputusan yang tepat bagi Felix.


Kalau di bilang ada keraguan atau tidak di dalm hati Felix, maka jawabanya ada. Beberapa kali Felix merasa curiga pada Enza, lantaran dia tidak pernah ingin ikut campur untuk menentukan konsep pernikahan mereka dan persiapan lainnya.


Enza selalu beralasan sibuk, sibuk dan juga sibuk. Sehingga, semua ini murni 100 persen Felix yang menyiapkan seorang diri di bantu oleh Elice dan juga Moana.


Hari ini adalah hari di mana mereka harus melakukan fitting baju pengantin yang sudah di desain sendiri sesuai ukuran badan mereka satu sama lain.


Namun, Enza selalu mengulur waktu untuk bisa melakukan itu semua karena kesibukannya yang tidak bisa di tunda.


"Aishh, kemana sih Enza? Dari kemarin di hubungi enggak ada respon sama sekali, sebenarnya dia niat mau nikah apa enggak sih!" ucap Felix, terus mencoba menghubungi Enza berulang kali.


"Akhhh ...."


Felix berteriak sekeras mungkin di dalam kamarnya, ponsel yang berada di tangannya pun sudah hancur tidak tersisa ketika dia melemparkannya ke arah dinding.


"Pokoknya kali ini enggak bisa gua biarin! Enza sudah benar-benar keterlaluan, kalau memang dia tidak ingin menikah sama gua, apa salahnya bilang, bukan malah menghilang dan susah untuk di hubungi!"


"Waktu sudah semakin dekat, hanya hitungan hari kita akan menikah, tetapi kenapa dia tidak bisa sedikit saja mementingkan pernikahannya. Apakah suatu saat nanti saat gua nikah, dia tetap bersikap seperti ini?"


"Ayolah, Enza. Please! Jangan buat aku frustasi seperti ini. Semua undangan sudah di bagikan ke semua orang, bahkan kita pun sudah mengundang berbeagai wartawan televisi. Lantas bagaimana pernikahan bisa terjadi, apa bila mempelai wanitanya seperti ini, hahh!"

__ADS_1


"Lebih baik aku malu di awal sebelum acara di mulai, dari pada aku harus menanggung malu ketika ada di depan semua orang saat kamu tidak hadir di acara kita!"


Felix mengoceh dengan sendirinya untuk meluapkan rasa kekesalahannya terhadap diri sendiri dan juga Enza. Seakan perkataan Ernest mulai kembali terngiang-ngiang di isi kepalanya.


"Apakah kau yakin dengan pilihanmu itu? Lebih baik coba pikirkan berulang kali, sebelum semuanya terlambat!"


"Aku sudah menganggapmu sebagai saudaraku sendiri, maka dari itu aku mengatakan semua ini karena aku tidak ingin adikku tersakiti!"


"Dia bukanlah wanita baik-baik, jika dia baik tidak akan ada penuturan kata seperti itu pada seorang anak kecil. Bagaimana jika nanti kalian punya anak? Apakah anak kalian akan selalu menerima caci maki dari mulut Mamahnya yang pedas itu? Terus apakah itu baik bagi kesehatan mentalnya kelak? Jadi saranku lebih baik batalkan, dan carilah yang jauh lebih darinya!"


Semua itu berasal dari perkataan Ernest saat dia kembali terus meyakinkan Felix, apakah langkahnya sudah benar atau salah. Meskipun, Ernest adalah orang yang cuek dan juga masa bodo terhadap kehidupan orang lain, tetapi tidak berlaku kepada Felix.


Secuek apapun dia pada Felix, tetaplah Felix adalah partner kerja sekaligus sahabat yang selalu ada di saat dia susah atau pun senang. Maka dari itu, mereka selalu menang tender saat melawan Perusahaan lain untuk memperebutkan kontrak yang cukup besar berpengaruh pada Perusahaan Ernest.


Ketika hati dan pikiran sudah mulai tidak karuan, Felix segera bersiap-siap. Setelah itu, dia segera pergi ke tempat biasa Enza melakukan photo shoot dan beberapa tempat lainnya.


Tepat jam 8 malam, Felix masih tidak menemukan keberadaan Enza sama sekali. Apa lagi di rumahnya juga tidak ada, sampai akhirnya Felix pergi ke satu tempat yang benar-benar dia yakini bila seseorang itu tahu kemana perginya Enza saat ini.


Sebuah Apartemen yang terbilang mewah, kini menjadi tempat terakhir bagu Felix untuk mencari informasi tentang Enza. Di mana Apartemen itu adalah tempat teman Felix, dia adalah produser Enza yang membuat karier Enza bisa berada di atas.


Suara ketukan pintu itu terdengar jelas, membuat pemiliknya langsung keluar sambil membuka pintu. Saat pintu terbuka dia terkejut dengan kedatangan Felix yang secara tiba-tiba tanpa memberitahukannya lebih dulu.


"Hai, Bro. Gimana kabar lu?" Felix langsung memeluknya ala laki-laki sambil sedikit berbasa-basi.

__ADS_1


"Gu-gua baik-baik aja, Bro. Lu-lu sendiri gimana?" tanyanya kembali dan perlahan mulai melepaskan pelukan Felix.


"Syukurlah, terus kenapa kok suara lu jadi gugup gitu pas gua dateng. Lu enggak seneng gua dateng, hem?" sahut Felix, merangkul sahabatnya tersebut.


"E-ehh, e-enggak gitu ya, Bro! Gua cuman kaget aja, biasanya lu kalau mau datang kontek gua dulu, tapi ini enggak ada sama sekali. Malah langsung ke sini, untungnya gua ada. Coba kalau enggak ada, sia-sia lu ke sini jauh-jauh, 'kan?"


Wajah gugupnya memang tidak bisa di sembunyikan, lantaran itu terlihat jelas. Felix hanya terkekeh kecil menanggapi jawaban dari sahabatnya tersebut.


"Santai aja, Bro. Gua ke sini cuman sebentar aja kok, ehh ... Tu-tunggu, tumben lu pakai itu. Baru kelar mandi?" ucap Felix, memperhatikan pakaian yang di gunakan oleh sahabatnya.


"Biasalah, gua baru balik jadi baru kelar mandi. Ohya, tadi lu ke sini cuman sebentar. Ma-maksudnya gimana? Apa lu ada keperluan sama gua? Kalau ada dan penting, bentar gua ganti baju dulu. Lu tunggu di sini dulu ya, ben---"


Ucapannya langsung terhenti saat seseorang memanggil namanya, begitu juga Felix. Wajahnya sedikit terkejut saat mendengarnya, bahkan dia juga meledeknya berulang kali. Semua itu karena Felix sangat tahu sahabatnya ini sama sekali belum memiliki istri atau pun seorang kekasih, akan tetapi dia berani membawa seorang wanita ke Apartemennya.


Hanya saja, sahabatnya itu terlihat panik akibat dia merasa malu sama apa yang Felix lakukan. Saking dia penasarannya, Felix pun masuk ke dalam Apartemen untuk mencari sumber suara tersebut.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2