
"Syukurlah, akhirnya hubungan mereka mulai membaik. Aku seneng lihatnya, semoga saja mereka bisa saling mencintai dalam waktu dekat ini. Supaya kelak, ketika anak mereka lahir. Maka kedua orang tuanya sudah bersikap layaknya seorang Ayah dan Ibu yang sangat diinginkan anaknya."
Suara batin Elice terus berbicara, rasanya dia tidak sabar melihat kebucinan anak dan juga menantunya. Sampai akhirnya, dia perlahan menutup kembali pintu kamar Ernest. Dan langsung pergi menuju kamarnya untuk menularkan kebahagiaan yang baru saja di rasakan.
Ernest sedikit melirik ke arah samping, lalu tersenyum miring bersamaan dengan menutupnya pintu kamar. Sefokus apapun Ernest, dia tetap tahu bila Bundanya masih menyelidiki sikapnya terhadap Moana.
"Aku tahu, Bunda sama Ayah sedang memantau pergerakanku. Jadi, teruslah menyelidiku sampai Bunda dan Ayah percaya bila aku tidak akan menyakiti anakku sendiri. Hanya saja, aku tidak bisa berjanji kalau aku bisa mencintai Ibu dari anakku."
Ernest kembali menatap ke layar televisi sambil berbicara di dalam hatinya. Meski keadaan seperti ini entah mengapa membuat Ernest sedikit nyaman, tetapi dia tetap menganggap bila kenyaman ini bersumber dari anaknya. Bukan suatu perasaan yang mulai tumbuh untuk istrinya sendiri.
"Aku tahu, Tuan. Kau sedang bersandiwara di depan semuanya, demi kembali mengambil hati kedua orang tuamu. Akan tetapi, aku pun tidak akan tinggal diam. Aku akan mencoba menuruni egoku demi janjiku kepada mertuaku. Jika aku akan berusaha keras belajar membuka hati, meski aku tahu resiko apa yang akan aku terima sepanjang aku menjadi istrinya."
Moana sedikit mendoangak ke atas melihat Ernest yang baru saja selesai melihat keberadaan Elice. Sama halnya seperti Moana yang juga mengetahui semua itu.
Jika saat ini rumah kediaman keluarga Ernest sedang di landa oleh peperangan antara hati dan juga pikiran. Berbeda halnya ketika di luar rumah, dimana Felix sedang kebingungan untuk mencari apa yang di inginkan Moana.
Semua tempat sudah Felix telusuri setiap jalan, hanya untuk mencari lapangan besar. Sebab, akan ada banyak pasar malam yang menjual gulali atau permen kapas. Meski, di pinggir ruko-ruko pun juga ada. Akan tetapi, tidak sebanyak yang ada di pasar malam.
"Astaga, aku harus mencari gulali dimana lagi ini. Sudah hampir 1 jam aku muter kesana-kemari tidak ada satupun yang jualan. Apa karena hujan, jadi pasar malam pun tutup?"
Felix berbicara sambil menatap fokus ke arah depan sesekali menolah-noleh ke arah samping kanan dan kirinya. Lalu, dia melihat jam arloji di tangan kanannya yang langsung membuatnya terkejut.
"Ckk, pantesan pada enggak jualan. Ini aja udah jam 12 lewat, malah hampir setengah 1 pagi. Astaga, Tuan, Moana. Kalian itu kenapa sih, senang sekali membuatku pusing. Baru juga mau merasakan kehangatan bibir Enza, sudah ada aja gangguannya."
__ADS_1
"Aarghh ... Dasar suami-istri menyebalkan!"
Tin!
Suara klakson beberapa kali berbunyi, ketika Felix memukulnya cukup keras untuk melampiaskan rasa kesalnya yang dari tadi dia tahan.
Sampai ketika Felix menggigit tangannya, tiba-tiba ponselnya berbunyi. 1 notif pesan pun masuk, membuat Felix segera mengambil ponselnya dari saku celana sebelah kanan.
Felix hanya takut jika itu dari Moana ataupun Ernest, karena kalau itu sampai benar terjadi dan dia terlambat membalasnya. Sudah bisa di pastikan nyawanya akan berada di dalam bahaya.
Setelah di buka, syukurlah itu bukan dari atasannya. Melainkan dari kekasihnya yang memberikan kabar sedikit tidak enak.
[Sayang, aku pergi dulu ya. Managerku mau jemput, katanya besok aku ada pemotretan mendadak di Puncak. Jadi harus berangkat malam ini juga, kamu hati-hati di jalan ya. Kalau sudah pulang langsung istirahat. ya. Dadahh, Sayangku. Muuachh!]
"Akhhh, kenapa nasibku gini banget sih! Baru juga mau sayang-sayangan harus tertunda. Nasib-nasib! Kacau!"
Felix terus mengeluh di dalam mobilnya sambil terus menjadi apa yang diminta oleh Moana. Sampai akhirnya tanpa di sengaja Felix hampir saja ingin menabrak seseorang, jika dia tidak refleks menginjakan rem.
"Astaga!"
Felix langsung menghentikan mobilnya, kemudian menarik pedal remnya. Dan dia segera turun untuk memastikan seseorang itu tidak sampai celaka.
"Aduh, Pak. Ma-maafkan saya, saya kurang fokus menyetir mobilnya. Sekali lagi maaf, ya. Saya akan bawa Bapak ke rumah sakit, atau saya akan mengganti semua biaya gerobak Bapak. Gimana?"
__ADS_1
Felix menolong membangunkan seorang Bapak-bapak yang usianya kurang lebih 50 tahun. Dia mendorong sebuah gerobak yang ikut terjatuh saat terkejut.
"Tidak perlu, Tuan. Saya hanya kurang hati-hati saja saat menyebrang jalan, tapi mobil Tuan tidak apa-apa?" tanya Bapak itu, yang malah mengkhawatirkan mobil Felix.
"Justru saya yang mengatakan semua itu sama Bapak. Saya takut ada cedera di tubuh Bapak, jika masalah gerobak saya bisa ganti kok." jawab Felix, kembali.
"Gerobak saya masih bagus, tidak ada yang rusak. Hanya perlu saya rombak dikit aja. Ohya, ngomong-ngomong Tuan kenapa lewat jalan kecil dan sedikit berlubang ini. Bukannya mobil mewah ini cocoknya berada di jalan raya, bukan di jalan kampung?" ucap Bapak itu, saat melihat ke arah mobil yang sangat mewah.
"Oh ini, Pak. Saya lagi cari seseorang yang jualan gulali atau permen kapas, cuman kayanya udah pada tidak ada. Jadi Saya bingung harus mencari kemana lagi." sahut Felix, wajahnya benar-benar kusut.
"Permen kapas seperti ini?"
Bapak itu menunjukkan dagangannya yang sudah habis, tetapi masih tersisa satu di dalam gerobaknya. Felix yang melihat itu sambil memegangnya langsung tersenyum lebar.
Akhirnya penantiannya setelah sekian lama mengarungi gelapnya malam, kini telah berhasil menemukan penjual permen kapas atau pun gulali. Dia tidak menyangka, bila Tuhan memang baik. Jadi, jalannya langsung di permudah agar tidak membuat anak dari seorang pembisnis terkenal menjadi ileran.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung