
Baru kali ini aku mendapatkan penghinaan dari seorang wanita tanpa rasa takut! Sungguh, baru dia satu-satunya orang yang bisa melakukan ini pada ketua King Mafia kejam sepertiku. Andaikan dia tahu pekerjaanku, mungkin sekarang dia akan bertekuk lutut padaku hanya sekedar meminta pengampunan!
Namun, kali ini aku tidak terima. Semakin aku diam dia akan semakin ngelunjak! Lagian juga kenapa sih, kok, akhir-akhir ini aku selalu lemah sama tuh, gadis. Padahal, semua orang tertunduk padaku setelah mengenali wajah yang selalu aku tutupi dari orang tertentu. Intinya, sekarang aku harus bisa membuat dia takluk, bagaimanapun caranya!
Thoms duduk sambil tangannya mencekram erat seprei kasur yang berada di tepi dengan tatapan tajam ke arah pintu lemari yang masih terbuka. Nay terlihat sibuk untuk mencari kotak obat sampai menimbulkan suara berisik yang sedikit mengganggu telinga pria tersebut.
"Ishh, di mana sih, tempat obatnya! Kenapa dari tadi aku cari-cari gak ketemu terus, apa jangan-jangan di sini ... Akhhh, menyebalkan!"
Nay kembali membereskan laci kecil, beserta mengembalikan penataan pakaian yang ada di dalam lemari agar terlihat rapi seperti semula. Setelah itu, Nay menutup pintu lemari dipenuhi oleh rasa kesal.
Mata Nay melirik sinis ke arah Thoms yang masih duduk dengan keadaan kedua tangan mencekram sprei kasur, "Kenapa di tempat semewah ini tidak Tuan berikan kotak P3K, atau kotak-kotak khusus obat lainnya?"
"Dari semua tempat yang aku cari, sedikit pun tidak menunjukkan tanda-tanda keberadaan kotak obat tersebut. Lantas, buat apa Tuan punya rumah semewah ini jika tidak ada kotak penyelamat yang paling penting itu?"
"Sementara, rumah kontrakanku yang kecil dan jauh sekali dari kemewahan selalu ada terdapat kotak P3K untuk berjaga-jaga jika aku terluka. Kotak tersebut sangat penting untuk menangani suatu kejadian kecil ataupun besar lebih cepat, sebelum kita ke rumah sakit jika itu memang tidak bisa ditangani oleh diri sendri!"
Nay mengoceh sesuka hatinya sambil memegangi pergelangan tangan yang terasa sangat perih, nyut-nyutan, serta semakin merah. Dia hanya takut jika tangannya itu sampao iritasi dan sebagainya, maka akan lebih berbahaya lagi untuk diri sendiri.
Perlahan Thoms berdiri terus menatap bola mata Nay sambil mendengarkan sertiap ocehan gadis itu yang sangat berisik. Langkah demi langkah Thoms lakukan mendekati gadis tersebut hingga membuatnya tanpa sadar memundurkan kakinya.
__ADS_1
Sampai akhirnya, Thoms berhasil mengunci tubuh Nay tepat di belakang lemari dalam keadaan kedua tangan Thoms menempel di pintu. Sedikit menundukkan kepala untuk bisa menatap tajam wajah gadis yang dari tadi tidak berhenti menyalahkan dirinya.
Nay benar-benar terkejut atas tingkah Thoms saat ini, di mana wajah mereka terlaru dekat dengan jarak kurang lebih 5 senti meter. Anehnya, Nay tidak sedikit pun merasakan trauma ketika berdekatan oleh pria tersebut.
Lain cerita, apabila Nay didekati oleh anak buah Thoms, maka trauma itu cepat sekali muncul. Seakan-akan Nay telah mendapatkan kenyaman tersendiri meskipun dia tahu kalau Thoms itu sama dengan pria lain yang tidak ada ikatan da*rah sama sekali.
"Udah ngocehnya, hem?" tanya Thoms, tatapan mata cukup membuat dada Nay seperti berdetak sangat kencang bagaikan serangan jantung secara mendadak.
Thoms memainkan jari jemari tangan kanannya untuk memancing Nay agar semakin takut atas tingkahnya saat ini. Perlahan Nay menoleh setelah mendengar suara itu, kemudian kembali menatap Thoms dengan perasaan yang tidak boleh melemah.
Tenang, Nay, tenang! Ini hanya gertakan kecil darinya demi menakutimu. Jadi, aku mohon tetap stay kalem dan tidak boleh takut padanya. Ingat! Kau dan dia sama-sama makan nasi. Terus, apa yang harus kau takuti? Dia bukanlah monster yang menyeramkan, bukan? Hanya saja, dia meruoakan manusia yang menyerupai monster menyebalkan!
"Kenapa diam? Apa kau merasa takut padaku gadis kecil?" tanya Thoms menyeringai sambil mengusap pipi kanan Nay menggunakan jari telunjuk yang sedikit dibengkokkan.
"Ta-takut? Haha ... Tidak!" jawab Nay tertawa dan kembali menatap mata Thoms dengan sangat datar.
Entah mengapa, Thoms sangat menyukai sifat Nay yang cukup pemberani, tetapi hanya diawal. Dikarenakan Thoms sangat tahu kalau saat ini Nay sedang mencoba mengontrol rasa takut yang berlebihan di dalam hati, serta melawan rasa trauma yang pernah dia alami sebelumnya.
"Waw, cukup mengejutkan. Baru dirimulah satu-satunya orang yang berani menghina saya bahkan di depan anak buah saya sendiri. Sungguh, menarik!" ucap Thoms semakin membuat napas Nay mulai tidak terkontrol.
__ADS_1
Nay hanya bisa memegangi pergelangan tangan yang sakit, tanpa sedikit saja melepas tatapan pria itu supaya tetap berani melawan semua rasa di dalam hatinya.
Merasa kurang nyaman, Nay langsung menyingkirkan jaru telunjuk pria menyebalkan itu dengan cara menepis keras tanpa memperdulikan Thoms akan semakin marah atau tidak.
"Jangan coba-coba menyentuh pipiku dengan tanganmu, Tuan! Atau aku tidak segan-segan untuk melayangkan tanganku tepat dipipimu!" ancam Nay semakin membuat Thoms merasa senang memiliki lawan yang tidak gentar atas dirinya.
"Upss, sorry, Nona! Sayangnya, tangan ini tidak akan pernah berhenti sebelum kau mencium di sini!"
Thoms menunjuk ke arah bibir sendiri menggunakan jari telunjuk hingga membuat kedua mata Nay spontans melotot sangat besar.
"Santai saja, Nona. Tidak perlu gugup, kita hanya bercum*bu sedikit saja. Tidak perlu banyak-banyak hanya sekedar icip-icip seperti kau menyicipi bibir saya di dalam mobil, masih ingatkah?"
Sumpah, jantung Nay berdetak sangat keras membuat napasnya sulit dikendalikan. Thoms terkekeh di dalam hati ketika wajah Nay terlihat memerah padam sampai pria itu bisa merasakan embusan napas Nay yang sudah tidak beraturan.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...