
Beberapa bulan kemudian, tepat di hari ini Moana baru saja di bawa ke rumah sakit oleh Elice bersama supir pribadinya. Sementara Sakha dan Ernest masih berada di dalam perjalanan menuju rumah sakit.
Elice yang merasa khawatir sama keadaan Moana, mencoba untuk terus mendampinginya sampai Ernest tiba. Apa lagi Moana masih pembukaan ke-2, sehingga dia baru merasakan rasa mules layaknya orang sakit perut biasa.
"Kuat ya, Sayang. Bunda yakin kamu pasti bisa, sabar ya. Kamu harus terus belajar mengontrol napasmu, karena itu sangat di perlukan untuk proses lahiran nanti."
"Kamu masih ingat 'kan, apa saja yang di ajarkan oleh guru private waktu kamu senam kehamilan? Jadi, sudah saatnya kamu harus mempraktekkannya sekarang. Paham, apa yang Bunda sampaikan ini?"
Tangan Alice terus menggenggam tangan Moana, dimana Moana masih tertidur miring menghadapnya sambil merasakan perut yang terus melilit.
"Huhh, huhh ... I-iya, Bunda. Doakan Moana ya, supaya Moana bisa melahirkan cucu Bunda dalam keadaan baik-baik saja." ucap Moana, menatap sayu ke arahnya.
"Tanpa kamu minta, Bunda akan selalu mendoakan kalian. Pokoknya kalian harus selalu semangat ya, sebentar lagi, suamimu pasti akan segera sampai. Jadi, kamu harus tetap dalam keadaan tenang, tidak boleh panik biar tekanan darahmu bisa stabil. Oke?"
Moana menatap mata Elice sangat lekat, rasanya Moana benar-benar bersyukur telah di berikan mertua sebaik Elice. Bahkan Elice begitu menyayanginya seperti anaknya sendiri.
Semua bisa di lihat dari cara Elice yang menjaga Moana, memperhatikannya serta selalu ada di saat dia dalam keadaan seperti ini.
"Terimakasih, Bun. Selama ini Bunda sudah begitu baik sama Moana. Bunda selalu ada di saat Moana butuh, ta-tapi maaf bila Moana belum bisa menjadi menantu yang baik. Moana hanya sedang berjuang untuk mendapatkan hak sebagai seorang istri, meskipun Moana selalu gagal di depan Ernest."
"Moana juga tetap berusaha menempati janji Moana kepada kalian. Moana yakin, suatu saat entah itu kapan. Moana pasti bisa mendapatkan cintanya Ernest, Moana hanya butuh suport dari kalian. Moana mohon, Bun. Kalau nanti Moana sudah melahirkan, tolong jangan pisahkan Moana dengannya. Moana tidak bisa jauh dari anak Moana, Moana tidak bisa hiks ...."
__ADS_1
Air mata Moana runtuh, saat dia kembali teringat akan perkataan Elice saat itu. Tangannya pun menggenggam tangan Elice, terus memohon agar tidak di pisahkan dengan anaknya sendiri.
"Bunda mau kamu jawab dengan jujur dari lubuk hatimu yang paling dalam, apakah kamu sudah mencintai Ernest atau tidak? Bunda tidak mau, sampai kamu harus memaksakan perasaanmu sendiri hanya demi kamu tidak ingin berpisah sama anakmu sendiri."
Pertanyaan Elice berhasil membuat Moana menjadi bingung. Wajahnya terlihat gugup, tatapannya mulai berusaha menghindar, serta bibirnya pun perlahan bergetar.
"Ka-kalau boleh Mo-moana jujur, Moana su-sudah mulai mencintai Ernest. Akan tetapi, Moana sadar pasti Ernest masih memiliki dendam terhadap Moana atas kejadian waktu itu."
Setelah mendengar jawaban dari Moana, Elice pun tersenyum lebar sambil mengusap kepala dan juga perutnya.
"Syukurlah, kamu sudah memiliki perasaan kepada suamimu sendiri. Bunda seneng dengernya, pokoknya kamu jangan menyerah ya. Apapun yag terjadi nantinya, Bunda akan selalu ada bersamamu."
"Sekarang kamu tidak perlu memikirkan apa-apa dulu, kamu fokus saja untuk hari bahagia ini. Ingat, sebentar lagi kamu akan melihat anakmu lahir. Jadi, Bunda harap kamu bisa berkonsentrasi dengan semua persiapan ini."
Elice selalu memberikan nasihat-nasihat kepada menantunya sendiri. Apa lagi posisinya sedang merasakan sesuatu yang cukup menantang bagi hidupnya. Sehingga Elice harus menanamkan semangat yang tinggi, agar Moana tidak menjadi putus asa.
Moana tersenyum menganggukan kepalanya, apa yang di katakan Elice memang benar adanya. Karena Moana juga merasakan bila ada perasaan di dalam diri Erenst. Hanya saja, dia terlalu mengikuti egonya dari pada apa kata hatinya.
Air mata Moana terus tumpah ketika dia merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Sang dokter yang baru saja datang, segera menyarankan sama Moana untuk belajar berjalan demi mempercepat proses pembukaan.
Tidak lama Ernest dan Sakha pun datang, langsung masuk ke ruangan dengan wajah cemasnya. Melihat Elice menuntun Moana jalan membuat Ernest langsung mengambil alih.
__ADS_1
"Sini , Bun. Biar Ernest yang membantu Moana, kasihan Bunda pasti lelah." ucap Ernest.
"Benar, Bun. Biarkan Ernest yang melakukannya, karena suport suami dalam hal ini sangatlah penting." sahut Sakha.
Moana terkejut saat melihat Ernest yang baru saja datang dan memegang kedua tangannya. Elice pun menganggukan kepalanya, lalu membiarkan Moana bersamanya.
Berbagai cara mereka lakuin untuk mempercepat proses kelahiran anak pertamanya. Sampai akhirnya Moana yang sudah tidak kuat, hanya bisa meringkuk di atas bangkar dalam keadaan menangis, merin*tih kesakitan dan juga wajahnya penuh keringat.
Sementara Elice dan Sakha menunggu di depan ruangan, menunggu proses kelahiran cucunya yang sebentar lagi akan bertemu mereka.
Tidak lama, sang dokter pun kembali mengecek pembukaan yang Moana alami. Ternyata jalan bayi sudah mulai terbuka, artinya proses kelahiran akan segera di lakukan.
Semua suster bergegas berlari kesana-kemari untuk membantu sang dokter. Mereka menyiapkan semuanya perlengkapan yang akan butuhkan selama proses melahirkan.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1