
Ketika Justin terdiam mendengarkan penjelasan yang Dinda katakan, tiba-tiba Moana kembali masuk dalam keadaan tersenyum. Kemudian berjalan mendekati mereka dan duduk tepat di depan Justin dan Dinda yang masih setia di lantai.
"Apa yang Tante Dinda katakan itu benar, Sayang. Seburuk apa pun Paman Felix, dia tetap adalah ayah kandungmu. Paman Felix tidak ingin membuang Justin, hanya saja pada saat itu keadaan yang mengharuskan Paman Felix menyatukan kita dengan Daddy."
"Justin masih ingat, gak? Waktu itu Justin dekat sekali sama Paman Felix, sampai Justin tidak ingin dekat-dekat sama Daddy. Dulu Justin pikir Daddy orang jahat karena selalu buat Mommy nangis, nyatanya? Daddy jahat karena keadaan yang merubahnya, tetapi hati Daddy tetap jadi milik kita. Terbukti 'kan, sekarang Daddy bisa mencintai kita sebagaik mungkin. Daddy tidak pernah membandingkan Barra sama Justin, meskipun Justin bukan anak kandung Daddy. Sama halnya kaya Paman Felix, dia berubah karena dipaksa oleh keadaan. Akan tetapi, dibalik itu Paman Felix orang baik, bukan?"
"Dia selalu belikan mainan untk Justin setiap datang ke rumah, dia selalu berusaha buat Justin ketawa dan nyaman di dekatnya. Lalu, apa yang Justin ragukan sama Paman Felix? Dulu Justin pernah bilang, kalau Justin jadi anak Paman Felix pasti bahagia karena disayang terus. Nah, sekarang kenapa Justin marah ketika tahu Paman Felix benar-benar ayah kandung Justin?"
"Apa karena Justin berpikir Paman Felix sudah mencampakan kita itu artinya dia orang jahat, gitu? Terus enggak boleh mendapatkan maaf dari kita, iya? Kalau gitu Justin udah buat Tuhan kecewa dong, sebab sejahat apa pun orang tersebut. Bagi Tuhan tetap sama, jika orang itu sudah bertekat buat tobat atau meminta maaf pasti Tuhan akan maafkan, tetapi dengan syarat tidak mengulangi melainkan memperbaikinya."
"Tuhan itu benci dengan orang-orang yang sombong karena merasa paling benar. Justin tahu 'kan, orang yang punya dendam terhadap orang lain hidupnya tidak akan pernah bahagia. Dia tidak lagi jadi kesayangan Tuhan, tapi jadi kesayangannya se*tan. Masih ingat dongeng yang pernah Mommy ceritakan waktu itu tentang anak durhaka yang dikutuk jadi batu, nah ... Itu juga sama kasusnya sama Justin. Bedanya dia tidak mengakui ibunya, sementara Justin tidak mengakui Paman Felix sebagai ayah kandung. Apa Justin mau jadi anak seperti itu?"
Justin menggelengkan kepalanya secara cepat, dia langsung berhambur memeluk Moana menggunakan satu tangan. Tangis Justin langsung pecah begitu saja, lantaran mengingat semua kebaikan yang selalu Felix berikan.
Justin benar-benar bingung, tidak tahu kenapa dendam yang ada di dalam hatinya terus menerus membuat Justin menjadi tidak nyaman. Jelas-jelas Justin sangat mengenal Felix, hanya saja rasa kecewa atas perbuatan Felix yang tidak mengakui Justin membuatnya tidak terima.
__ADS_1
Moana terdiam sambil memeluk Justin tanpa berkata apa-apa, matanya terus menatap ke arah Dinda sambil tersenyu. Dinda sendiri tidak tega melihat Justin tersiksa seperti ini sampai mereka menetaskan air mata bersama.
Anak seusia Justin yang harusnya hanya tahu tentang kebahagiaan juga kesenangan bermain sama teman-temannya harus dipaksa mengerti oleh keadaan yang rumit ini. Tangan Dinda mengusap kepala Justin sambil menghapus air mata yang sudah menetes.
Namun, di saat Moana dan Dinda mencoba untuk tetap kuat menyaksikan penderitaan Justin, tiba-tiba saja kata-kata yang keluar dari bibir Justin begitu menyayat hati kedua wanita tersebut. Tangis mereka kembali pecah ketika mendengar semua isi hati Justin saat ini.
"Justin gak mau jadi anak durhaka, Mom. Justin tidak mau hiks ... Justin pengen jadi kesayangan Tuhan, bukan se*tan yang jahat. Cuman, Justin bingung hati Justin sakit banget saat Justin lihat wajah pria itu. Justin tahu, gimana sakitnya Mommy saat itu selalu nangis tiap malam karena sifat Daddy yang tidak perhatian. Coba aja kalau dia tidak buang kita, pasti kita udah bahagia dari dulu, Mommy juga gak perlu nangis terus sama Daddy. Justin tidak terima karena Mommy menderita itu karena dia, bukan Daddy!"
"Justin tahu kok, dia itu orang baik bahkan semua mainan yang di kasih masih Justin simpan di kamar dengan rapi. Tapi, kenapa sekalinya dia salah itu rasanya sakit banget, Mom. Kenapa? Apa Justin tidak boleh bahagia kaya anak-anak yang lain, iya? Mereka hanya punya orang tua yang terdiri dari ayah dan ibunya, sedangkan Justin? Justin punya banyak orang tua, ada Mommy, Daddy, pria itu sama Tante ini."
"Gimana kalau nanti ada yang tanya sama Justin itu siapa masa Justin jawab orang tua Justin, terus kalau mereka bingung kenapa orang tua Justin ganti-ganti terus Justin harus jawab apa, Mom? Apa Justin harus jawab kalau Justin punya dua ayah sama dua ibu, gitu? Terus kalau Justin diledekin sama mereka karena serakah punya orang tua gimana? Apa Mommy bisa jawab itu semua, atau Mommy bisa jelasin ke Justin apa yang harus Justin katakan sama teman-teman Justin nanti supaya mereka mau berteman sama Justin. Gimana kalau mereka musuhin Justin, terus Justin harus berteman sama siapa?"
Diusia yang terbilang masih kecil, tetapi pemikiran Justin benar-benar sudah mulai dewasa. Dinda saja terkejut mendengar kata-kata menyedihkan itu keluar dari anak kecil yang usianya sudah memasuki 7 tahun.
Dinda tidak menyangka ujian hidup Justin ketika masih kecil sangatlah pedih, hanya mendengar ceritanya saja Dinda sudah bisa membayangkan bagaimana sulitnya Moana dituntut untuk memperjuangkan kebahagiaan anak-anak sampai detik ini.
__ADS_1
Moana tersenyum dibalik tangisannya. Dia tidak menduga Justin bisa menyimpan memori perjuangan Moana untuk mempertahankan rumah tangga sebaik mungkin. Moana tidak pernah menyerah diawal pernikahan sampai seketika Moana menyerah akibat Ernesti tidak bisa menerima Justin sebagai anak sambung.
"Sudah cukup, Sayang. Sekarang Justin dengarkan Mommy, ya!" titah Moana melepaskan pelukannya, lalu meraup wajah sang anak sesekali mengusap air mata di wajah Justin.
"Semua itu sudah masa lalu, Sayang. Justin tidak boleh lagi mengingatnya, apa Justin tidak kasihan sama Daddy, hem? Daddy lagi berjuang untuk berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya, tetapi ketika Daddy mendengar perkataan Justin barusan pasti dia sedih banget. Daddy akan menganggap kalau Justin belum bisa sepenuhnya menerima Daddy dengan baik karena kesalahan Daddy dulu."
"Padahal waktu kita belum pulang ke sini Justin selalu membela Daddy, bahkan Justin rela sampai terluka tangannya kaya gini. Iya, 'kan? Sayang dong, kalau bukti kasih sayang Justin sama Daddy itu sia-sia karena Daddy akan tetap menganggap Justin tidak bisa nerima Daddy sebaik dulu. Justin paham 'kan, apa yang Mommy katakan ini?"
Justin tidak menjawab perkataan Moana sama sekali, hanya terdengar isak tangis yang cukup menyesakkan hati. Dinda benar-benar sudah tidak kuat menyaksikan penderitaan Justin yang cukup menguras kesedihan.
Tanpa berkata apa-apa Dinda pergi keluar kamar Justin agar Moana bisa lebih menenagkan Justin yang emosinya masih sulit untuk dikontrol. Wajar saja, anak seusia Justin masih cukup berat untuk menerima pengertian. Jalan satu-satunya mereka semua harus perlahan mendekati Justin dan tidak menyerah untuk tetap memberikan nasihat setiap hari.
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...