
Enza langsung membuka kedua matanya menatap Felix yang sudah duduk tepat di sebelahnya, lalu mengangkat panggilan dari seseorang.
"Huhh, gagal aja terus!"
"Gini banget nasip wanita yang punya calon suami super duper sibuk, pasti ada aja gangguannya setiap kali mau berdua. Bagaimana nanti pas udah nikah? Baru juga mau nyelup langsung pending, hanya karena urusan kerjaan. Sungguh nasibmu sial sekali, Enza, Enza*."
Kedua mata Enza melihat ke arah Felix yang sedang mengangkat panggilan dalam keadaan wajah yang cukup murung. Felix harus memaksakan semua itu demi mewujudkan keinginan seseorang.
[Hahh, ma-malam-malam gini saya harus mencari gulali di pasar malam? Ba-bagaimana mungkin, Tuan!]
[Huhh, ba-baiklah. Akan saya coba carikan, kalau tid--]
Tut, tut, tut!
Panggilan langsung terputus begitu saja. Felix yang terlihat sangat kesal hanya bisa mendumel di dalam hatinya.
Sebenarnya dia bukan tidak mau menurutinya, tetapi dia hanya tidak enak dengan kehadiran Enza yang saat ini ada di sampingnya.
Dengan berat hati, perlahan Felix melihat wajah Enza yang sedang tersenyum menatapnya. Entah senyuman itu berarti Enza sedang baik-baik saja, ataukah dia menahan sesuatu di dalam hatinya.
"Ma-maafkan a--"
"Sudahlah, tidak perlu meminta maaf. Lebih baik kamu siap-siap, terus pergilah sebelum Tuanmu marah." ucap Enza tersenyum sambil membenarkan jas yang sedang Felix gunakan.
"Ka-kamu tidak marah?" tanya Felix, tidak percaya.
Enza menggelengkan kecil kepalanya, dimana senyumannya tidak pernah usai. "Tidak, aku akan mencoba untuk mengerti kondisimu. Toh, kamu kerja juga buat aku nantinya. Jadi, aku tidak masalah."
Felix yang merasa bahagia dengan perkataan Enza langsung memeluknya begitu erat, kemudian mencium seluruh wajah Enza dengan gemas. Lalu, Felix pergi untuk sekedar mengganti pakaiannya.
__ADS_1
Setelah siap, Felix pun pergi meninggalkan Enza yang berada di Apartemennya. Tidak lupa Felix memberikan pesan agar Enza beristirahat lebih dulu, jika dia belum kembali dalam waktu dekat.
Enza hanya menganggukan kepalanya, sambil melambaikan tangan bersamaan dengan perginya Felix menuju lift.
Enza menutup pintu, lalu berdiri tepat di belakangnya dalam keadaan wajah yang sangat kesal.
"Arrghh ... Dasar bos tidak tahu diri!"
"Sebenarnya dia itu siapa sih, kenapa seenak jidatnya memperkerjaan seseorang di jam yang tidak seharusnya. Bukannya ini jam untuk semua orang beristirahat? Lantas, kenapa dia malah membuat Felix bekerja bagaikan kuda. Menyebalkan!"
Enza uring-uringan di dalam kamar dengan melihat suasana kamar yang sangat menyedihkan. Baru juga beberapa menit lalu dia merasakan orang yang paling bahagia, saat ada seorang pria memperlakukannya layaknya seorang Ratu.
Namun, semua itu hilang dengan sekejap mata ketika atasan Felix meneleponnya. Demi menuruti rasa ngidam istrinya, yang jelas-jelas dia sendiri pun bisa menurutinya tanpa harus menyuruh asistennya sendiri.
Sementara di tempat yang berbeda, seseorang pasutri sedang di landa rasa ngidam yang luar biasa. Terlihat dari wajah istrinya yang bahagia dengan perlakuan suaminya, berbeda sama suaminya yang harus terpaksa melakukannya demi sang anak.
Entah mengapa, setelah kejadian Ernest yang merasa bersalah dengan kedua orang tuanya. Perlahan sifatnya mulai mencair. Apakah dia telah menyadari akan perasaannya? Atau ini hanya sekedar formalitas, supaya kedua orang tua Ernest bisa memaafkannya dan kembali bersikap seperti biasanya, tanpa mendiaminya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di dalam kamar, Moana sedang tersenyum lebar saat pertama kali merasakan tiduran tepat berbantalkan paha suaminya.
Ernest hanya bisa pasrah ketika istrinya ingin bermanja dengannya. Dimana posisi Ernest lagi duduk di sofa panjang sambil menonton televisi.
"Terimakasih, Tuan. Tuan sudah mau menurunkan ego, untuk sekedar mengabulkan permintaan anak kita." ucap Moana sambil mendongak menatap wajah Ernest yang terlihat datar.
"Kalau bukan karena anak itu dan juga kedua orang tuaku, mungkin saja aku tidak mau seperti ini. Hanya ini jalan satu-satunya supaya mereka kembali memaafkanku, makannya aku terpaksa melakukannya!" balas Ernest di balas hatinya.
"Yayaya, udah enggak usah banyak ngoceh. Saya sedang fokus nonton film!" ucap Ernest, ketus.
__ADS_1
Moana tersenyum dan kembali menatap ke layar televisi. Hatinya memang sedikit senang saat Ernest ingin menuruti permintaannya, tetapi tidak dengan pikirannya.
"Ohya, Tuan. A---"
"Kalau mulutmu itu tidak bisa diam, minggirlah!" sahut Ernest yang mulai jengah dengan kebawelan Moana.
"Ma-maaf, tapi satu lagi pertanyaanku, Tuan. Please!" ucap Moana, memohon.
Ernest berusaha menahan rasa kesal di dalam hati sambil mendengus kesal. "Ckk, ya udah cepat katakan!"
Moana tersenyum lebar menunjukkan sederetan giginya yang sangat menggemaskan. "Hehe, i-itu, Tuan. Eee ... A-anu, gu-gulali yang aku inginkan sudah dapat?"
"Belum, Felix lagi mencarinya. Terus, apa lagi?" tanya Ernest, menatap tajam Moana.
"Ti-tidak, itu saja sudah cukup. Se-setidaknya anak ini tahu kalau permintaannya akan di turuti." ucap Moana tersenyum lebar.
Mereka kembali fokus dengan film yang terbilang cukup mengerikan, tetapi entah mengapa Moana tidak takut melihat adegan-adegan yang cukup memilukan. Malah dia terlihat enjoy menikmati film bersama suaminya tanpa adanya obrolan.
Mereka tidak tahu, ternyata Elice mengintip mereka dari arah pintu. Dimana dia menyaksikan Moana sedang bermanja dengan suaminya. Walau wajah Ernest masih terlihat kaku, setidaknya Elice bisa merasakan sedikit bahagia melihat berubahannya.
Padahal tanpa di sadari, semua itu hanya tipu daya Ernest agar kedua orang tuanya bisa kembali bersikap seperti semula. Semua karena Ernest sangat takut, jika Elice dan Sakha akan pergi meninggalkannya.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1