
Selepas perginya mereka semua, Thoms langsung mendekati Moana yang baru saja duduk menatap suaminya. Tidak sedikit pun Moana meninggalkan Ernest di saat semua ini begitu cepat, kesedihan dan ketakutan di matanya memang begitu tersirat membuat Thoms merasa kagum padanya.
Setelah setahun lamanya, Moana dan Justin di sakiti oleh orang yang mereka cintai. Kini, mereka harus kembali bertemu dengan cara yang cukup tragis hingga membuat semua lukanya hilang begitu saja, dan hanya menyisakan rasa rindu yang menggebu di hati mereka.
Thoms tidak menyangka, semudah itu adiknya memaafkan suaminya yang dulu hampir membuat hidup mereka berada diantara gila dan waras. Akan tetapi, kembali lagi pada Moana. Thoms tidak bisa memaksakan semuanya sebab Moana dan dirinya berbeda. Mungkin, Moana bisa saja memaafkan orang yang memiliki masalah. Hanya saja, belum tentu Moana bisa memaafkan orang-orang yang bisa menghancurkan keluarganya serta membu*nuh kedua orang tuanya seperti apa yang Thoms liat semasa kecilnya.
"Dek, makan dulu ya, kasihan perutmu dari tadi belum terisi apa-apa. Kakak tidak mau ngeliat kamu sakit, kamu harus kuat demi anak-anak. Ingat loh, kalau kalian sama sakit terus bagaimana anak-anakmu, hem? Mereka masih sangat kecil dan pastinya lebih membutuhkanmu."
"Biarkan suamimu istirahat, mungkin saja dia lelah jadi harus banyak tidur. Nanti jika sudah capek pun dia akan bangun, apa lagi dokter juga sudah bilang bukan? Suamimu ini masih di kategorikan pria yang cukup kuat, sehingga dia hanya mengalami lumpuh untuk sementara waktu bukan selamanya ataupun koma."
Tangan Thoms berada di kedua pundak Moana membuatnya menoleh menatap sang kakak, Thoms perlahan menganggukan kepalanya sambil tersenyum kecil.
"Ayo, makan dulu. Kakak suapin mau?" tanya Thoms, menawarkan diri untuk memanjakan adik kesayangannya.
"Aku bisa sendiri, Kak. Kakak makan dulu---"
"Sudah, ayo bangun! Kakak suapin untuk pertama kalinya, karena waktu kamu kecil kakak tidak bisa memanjakanmu."
Thoms membantu Moana bangkit dari kursinya, lalu mereka berjalan ke arah sofa panjang. Kemudian Moana duduk dalam keadaan wajah yang masih belum sepenuhnya rela meninggalkan Ernest, padahal jarak di antara mereka hanya sekitar 1 sampai 2 meter saja. Itu pun Moana masih bisa makan sambil memandangi wajah suaminya, tapi baginya dia ingin ada di depannya ketika dia membuka matanya untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Namun, apa daya. Moana juga harus memikirkan tentang kondisinya agar dia bisa tetap kuat dan sehat, supaya ketika Ernest tersadar Moana bisa membantu mengurusnya. Jika dia sakit, kemungkinan tidak akan ada yang mengurus suami ataupun anak-anaknya, meskipun masih ada Thoms dan kedua orang tua Ernest.
"Udah, jangan banyak pikiran. Sekarang buka mulutmu, dan makan dulu nasinya." Sendok yang sudah Thoms arahkan ke mulut Moana, kembali dia turunkan saat Moana terdiam menatap suaminya.
"Suamimy akan baik-baik aja di tempat tidurnya, Dek. Dia tidak akan ke mana-mana, kamu juga bisa melihatnya, bukan? Terus ada apa lagi, hem? Ayo, makan. Lima suap aja, biar perutmu ke isi. Kasihan Barra loh, dia masih butuh ASI."
Lagi-lagi Thoms mencoba untuk membuat Moana mengerti, walaupun dia khawatir dengan kondisi suaminya. Moana juga harus tetap menjaga kesehatannya demi bisa mengurus semuanya.
Setelah Moana mengerti sama apa yang di katakan oleh sang kakak, barulah dia ingin membuka mulutnya perlahan membuat Thoms merasa senang dan bersemangat untuk menyuapini adik kesayangannya.
Moana makan dengan cukup lahap sesekali matanya tidak berhenti dari bangkar suaminya. Tidak lupa Thoms juga sedikit mengajaknya bercanda agar membuat suasana di hati Moana tidak terlalu tegang juga cemas.
Canda tawa mereka terdengar cukup renyah, membuat suasana yang awalnya sunyi bagaikan kuburan kini perlahan menjadi hidup. Sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa Ernest sudah terbangun dari tidurnya.
Ketika Ernest membuka mata untuk pertama kalinya, dia langsung di suguhkan oleh pemandangan yang sangat manis, tetapi begitu menyesakkan hatinya. Kenapa harus suasana seperti ini yang Ernest lihat, dan kenapa juga bukan suasana di mana Moana menangis karena tidak ingin dirinya sampai terjadi sesuatu. Itulah yang ada di pikirannya saat ini ketika melihat ostrinya sudah bahagia bersama pria lain.
Air mata mulai menetes di sudut mata Ernest saat dia menoleh untuk menyaksikan semuanya. Ernest tidak menyangka, kalau Moanamemang sudah tidak lagi mencintainya ataupun mengharapkan kehadirannya.
Apa mungkin, sudah saatnya aku harus merelakan semua ini terjadi dan mencoba untuk melepaskan Moana bersama pria pilihannya? Jika, memang dia sebagia itu. Aku tidak bisa kembali merenggutnya, karena aku sadar. Kesalahan yang pernah aku perbuat memang sudah sangat fatal. Setidaknya aku sudah berhasil menyelamatkan Justin, anggaplah ini sebagai karma karena aku telah menyakiti mereka. Dengan kejadian ini, semoga bisa menebus dosa-dosaku walaupun hanya sedikit dari apa yang pernah aku lakukan pada mereka.
__ADS_1
Suara hati Ernest terdengar sangat menyedihkan. Di mana bibirnya mulai bergetar untuk menahan isak tangis yang hampir saja keluar. Ernest tidak ingin kemesraan mereka terganggu karena dirinya, sudah cukup Ernest mengganggu hidup Moana yang membuat hatinya hancur berkeping-keping.
Ernest hanya bisa menerima semya ini sebagai balasan yang Tuhan berikan padanya, agar dia juga bisa merasakan apa yang Moana rasakan pada saat itu ketika Ernest mencoba untuk menyakitinya.
Tangan Ernest terangkat mengusap air matanya, supaya Moana tidak bisa melihatnya menangis. Ernest tidak ingin terlihat lemah di depan wanita yang sangat dia cintai. Sudah saatnya Ernest harus ikhlas melepas semuanya demi kebahagiaan Moana sendiri.
"Se-sepertinya rumah tangga kalian sangat bahagia ya, terlihat dari wajah kalian yang tersenyum lepas. Maaf, bila kehadiranku membuat kalian terganggu dan menjadi tidak nyaman. Mungkin aku hanya masa lalumu yang belum usai, tapi dia adalah masa depanmu yang jelas-jelas sudah terlihat. Untuk itu, maaf jika beberapa hari lalu pertemuan kita di awali dengan rasa keegoisan di dalam diriku untu tetap berjuang memilikimu."
"Namun, aku sadar. Bukan aku lagi yang menjadi sumber kebahagiaanmu, tetapi pria yang ada di sampingmu yang jauh lebih layak membuatmu bahagia. Aku hanya pendosa yang bisanya mengulangi semua kesalahanku tanpa mau menyadarinya, setelah aku kehilangan semua ini. Barulah aku sadar, jika keegoisan yang dipertahankan maka penyesalan yang akan aku terima. Berbeda jika kita memakai logika dan hati, pasti akan berakhir kedamaian."
"Melihatmu bahagia seperti ini sudah membuatku sedikit tenang. Mungkin jodohmu bukan lagi diriku, jadi maaf atas semua kesalahanku padamu. Aku belum bisa menjadi suami yang baik, kepala rumah tangga yang adil dan seorang ayah yang buruk. Untuk itu, aku akan mencoba merelakan semua yang sudah terjadi sebagai pelajaran yang harus aku terima. Inilah karma yang pantas aku dapatkan, semoga rumah tangga kalian bisa bahagia. Dengan ini, aku sebagai masa lalumu yang belum usai, akan melep----"
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1