
"Hahh, hahh ... O-omi, U-ustin capek. Ka-kaki Ustin a-atit. U-ustin ndak uat agi hiks ...."
Suara tangisan Justin terdengar begitu lirih, napasnya sudah mulai tersenggal-senggal. Di mana langkah kakinya sudah tidak sekuat pertama kali dia berlari.
Sampai pada akhirnya dari ujung jalan ada sebuah mobil mewah yang tiba-tiba berhenti, saat melihat anak kecil lari seorang diri.
"Tu-tuan, i-tu Justin, bukan? A-apa saya salah lihat!" ucap orang yang ada di kursi pengemudi.
Seseorang yang ada di sampingnya langsung menoleh cepat ke arah yang di tunjukkan. Wajahnya berubah menjadi sedikit senang, karena Justin sudah berada di depan matanya.
"Ya, itu anakku! Ayo, Felix. Cepat kejar dia! Aku tahu, pasti dia berusaha kabur dari wanita licik itu! Cepat!"
Teriakan bergema di dalam mobil, membuat Felix segera melajukan mobilnya mengikuti ke mana larinya Justin. Setelah itu mobil berhenti dan Ernest segera keluar dari mobil untuk mendekati sang anak.
"Justin!" panggil Ernest berlari kencang, membuat Justin yang mengenali suara itu terdiam. Lalu berbalik, matanya berbinar ketika melihat Ernest di ujung jalan.
"Edi? Edi, Ustin atut!" ucap Justin, suaranya mulai melemah karena tenaganya cukup terkuras habis.
"Justin tunggu, Daddy!" Ernest kembali berlari mendekati Justin, sedangkan Justin terdiam sambil tersenyum saat melihat Daddynya datang ingin menyelamatkannya.
Felix yang melihat keberadaan Enza dari jauh, langsung ke luar mobil. Kemudian dia berteriak sekencang mungkin, agar Ernest bisa mencapai Justin lebih dulu dari pada Enza.
__ADS_1
"Tuan, cepatlah! Jangan biarkan wanita iblis itu kembali merebut Justin!" pekik Felix. Dia ikut berlari untuk menghalangi Enza, Ernest yang mendengar itu serta melirik keberadaan Enza langsung menambahkan kecepatannya.
Namun, ketika Ernest hampir saja menggapai sang anak. Tiba-tiba saja Justin yang ketakutan melihat Enza, kembali berlari sekuat tenaga.
"Justin, stop! Jangan lari, sayang. Ini, Daddy!" teriak Ernest, mengkhawatirkan keadaan Justin yang benar-benar menyedihkan.
"Ndak! Ustin ndak au di ubit lagi, Ante itu ahat. Ustin enci! Arrrghhh ...."
"Justin!"
Brak!
Sebuah mobil dengan kecepatan extra, menabrak Justin hingga tubuh mungil itu terlempar jauh dan terjatuh tepat di mana kepalanya membentur sebuah batu yang berukuran sedang.
Felix dan Justin berteriak sekuat tenaga ketika menyaksikan tubuh mungil itu sudah tidak berdaya di lumuri oleh cairan merah yang semakin mengair cukup deras.
Enza menghentikan langkah kakinya ketika melihat Felix dan Ernest sudah mencapai Justin yang tergeletak di aspal. Saking ketakutannya, Enza pun segera pergi menghilang dari tempat kejadian, ini bukan bagian dari rencananya. Jadi dia tidak bersalah atas kejadian yang menimpa Justin saat ini.
Begitu juga mobil tersebut, dia segera pergi karena ketakutan saat dia tidak sengaja menabrak anak kecil. Satu sisi itu bukan kesalahannya karena Justin tiba-tiba muncul dan mengejutkannya. Dan di sisi lain, orang itu menggunakan kecepatan di atas rata-rata ketika mengendarai mobil di jalanan dekat kompleks.
"Justin, ba-bangun, sayang. Bangun! Justin jangan tinggalin Daddy, Daddy mohon!" ucap Ernest sambil memeluk sang anak yang sudah tidak berdaya.
__ADS_1
"Justin, ini Paman, sayang. Kamu harus kuat, kamu harus bertahan ya. Paman tidak akan membiarkan hal buruk terjadi sama kamu. Paman minta, kamu harus tetap menjadi anak yang kuat. Kamu tidak boleh menyerah, oke!" sahut Felix, air matanya mengucur deras saat dia merasakan cairan merah mengenai tangannya.
Segera mungkin Felix langsung menggendong Justin di saat Ernest tidak kuat untuk menyaksikan cairan merah tersebut.
Saat ini posisi Felix berada di kursi belakang sambil terus memeluk Justin dan juga menangis, sementara yang mengendarai mobilnya adalah Ernest. Tangis mereka pecah saat Justin terbangun dan mengucapkan kalimat yang sangat menggetarkan hati keduanya.
"Justin harus kuat ya, sebentar lagi Paman dan Daddy akan membawa kamu ke rumah sakit. Pokoknya Paman tidak rela bila hal buruk terjadi padamu, ingat itu!" ucap Felix, selalu memeluk hingga mencium Justin.
"E-edi, O-omi ... U-ustin a-angen. U-ustin e-engen di eluk!"
Suara lirih itu, mampu menghentikan laju mobil yang Ernest kendalikan. Suara itu membuat Ernest bingung, satu sisi dia ingin memeluk anaknya dan di sisi lain dia tidak kuat untuk melihat cairan merah segar itu sudah melumuri pakaian Felix dan Justin.
"Tu-tuan. A-apakah Tu-tuan ma-mau memeluk Justin? Sepertinya dia sangat merindukan Tuan dan Moana. Saya mohon, Tuan. Tuan harus melawan rasa itu, demi Justin. Saya yakin, Tuan pasti bisa. Tuan mau ya, lakukan semua ini demi memberikan kekuatan pada Justin, Tuan. Saya tidak tega!"
Ernest terdiam, dia masih memikirkan semuanya. Bahkan tangannya yang sudah berwarna merah pun membuat dia mulai merasa mual. Akan tetapi, Ernest masih bisa menahannya.
Namun, apakah dia sanggup memeluk anaknya di saat dia sendiri sedang berusaha keras untuk melawan rasa phobianya terhadap cairan merah tersebut.
.......
.......
__ADS_1
.......
...***💜💜>Bersambung