
Wanita itu benar-benar aneh, padahal wanita lain ingin sekali merasakan mobil mewah ini. Sementara dia? Malah mabuk enggak jelas, untungnya mobilku masih aman. Jika tidak, sudah pasti dia akan memuntahkan isi perutnya di sini. Hahh, menjijikan!
Batin Thoms berbicara dengan kesal, sesekali merasa mual akibat mengingat kejadian beberapa saat lalu saat melihat Nay memuntahkan isi perutnya.
"Huekk ...."
Semua spontans menoleh ke arah Thoms yang sedang memijit pelipis ketika merasa pusing. Padahal sebelumnya Thoms terlihat lebih segar dari Nay, tetapi setelah melihat gadis itu memuntahkan isi perutnya seketika tubuh Thoms langsung menjadi lemas. Seolah-olah apa yang dirasakan oleh Nay beberapa menit lalu berpindah ketubuh pria yang jarang sekali sakit.
"Tuan, apakah semuanya baik-baik saja? Apa perlu kita kembali ke rumah sakit?" ucap bodyguard penuh kepanikan sambil menoleh ke arah belakang.
Hanya memberikan kode tangan, sudah membuatnya mengerti jika Thoms tidak ingin dibawa ke rumah sakit. Dia kembali duduk seperti semula untuk mengawasi jalanan cukup sepi, tidak lupa matanya tetap memeriksa keadaan Thoms melalui spion atas.
"Tu-tuan ... Tuan yakin, kalau Tuan baik-baik aja?" tanya Nay sedikit mendekatkan posisi duduknya agar bisa melihat wajah Thoms yang tertutup tangan.
"Ya, saya yakin. Menjauhlah, jangan ganggu saya!" titah Thoms tanpa melihat Nay. Tangannya terus memijit pelipis bertujuan supaya rasa pusingnya sedikit membaik.
"Tapi, Tuan---"
"Saya harap Nona bisa mengerti kondisi Tuan. Saat ini Tuan membutuhkan ketenangan, jadi saya harap Nona bisa paham apa yang Tuan minta," pinta salah satu bodyguard Thoms. Dia duduk di samping bodyguard lain yang ditugaskan sebagai supir.
"Baiklah, aku tidak akan mengganggunya," ucap Nay, sedikit kesal.
Susah memang kalau dari lahir udah punya watak sekeras batu, jelas-jelas niatku itu baik dan tulus mau nolongin karena rasa manusiawi. Lah, ini malah dapet omelan, itulah pria, egois!
Lagian siapa juga yang mau ganggu dia, kaya orang paling penting aja. Cihh ... Kalau bukan karena balas budi, aku juga ogah dekat-dekat sama orang egois kaya mereka. Udah pakaian hitam-hitam, wajah datar tanpa senyum, badan gede kek raksasa, auranya suram. Udahlah, cocok mereka semua tuh, kek malaikat pencabut nyawa!
Lebih bagus juga hulk, meskipun bentuknya kaya kolor ijo tetap aja gak semenyeramkan mereka yang auranya terkesan lebih negatif. Jangan-jangan, mereka semua lahir di malam jum'at kliwon? Huaa ... Gila sih, ini mah, namanya aku masuk ke dalam kandang singa hanya untuk menyerahkan nyawa. Ckk! Menyebalkan!
Nay menggerutu sepanjang jalan dengan wajah kesalnya sambil menatap ke arah luar jendela dengan tingkah seperti anak kecil yang lagi kesal. Walaupun Nay berbicara sendiri dengan suara yang sangat kecil, tetap saja. Telinga mereka begitu tajam, sehingga bisa menangkap gelombang suara yang berasal dari mulut Nay.
__ADS_1
"Udah selesai komat-kamitnya?" tanya Thoms, membuat Nay menoleh sekilas dan kembali seperti semula.
"Apa sih, gak jelas. Siapa juga yang komat-kamit, dikata aku Mbah dukun lagi baca mantra kali," sahut Nay, cuek.
"Mungkin, tapi lebih tebatnya nenek lampir!"
Sindiran yang berasal dari mulut Thoms mampu membuat Nay langsung menyerongkan tubuhnya, lalu kedua bola matanya membola besar dalam keadaan kedua tangan dipinggang.
"Apa Tuan bilang tadi, hahh? Nenek lampir?" tanya Nay, da*rahnya mulai mendidih ketika tidak terima atas perkataan Thoms barusan.
Sementara Thoms, tidak menanggapinya dan memilih untuk terus memijit kepalanya yang semakin pusing menghadapi Nay.
"Hehh, Tuan! Lihatlah ke sini, aku ini sedang marah padamu. Kenapa kau tidak takut padaku, apa wajahku kurang menyeramkan sehingga Tuan tidak merasa takut, iya?" tanya Nay sangat polos dan hampir membuat Thoms tertawa dibalik wajah yang tertutup lengan kekarnya.
Tanpa Nay ketahui, Thoms tetap memperhatikan cara marahnya. Akan tetapi, entah mengapa Nay malah terlihat seperti anak kecil yang menggemaskan. Unungnya Thoms masih bisa mengendalikan semua itu, sampai Nay tidak mengetahui jika Thoms sedang tersenyum.
"Dasar tidak sopan!" Nay menurunkan secara kasar tangan Thoms yang masih menempel dipelipis. "Kalau orang bicara itu lihat matanya bukan ditutup seperti ini!" Naya menatap tajam ke arah Thoms sambil bertolak pinggang.
Cup!
Degh!
Stempel bibir dan pelukan dari Nay membuat jantung Thoms berdebar begitu cepat. Di mana Nay keseimbangan Nay hilang lalu terjatuh tepat di atas Thoms yang refleks menangkapnya. Tatapan mata mereka sangatlah mendalam dalam waktu kurang lebih 2 menit.
"Tuan, maaf! Sepertinya kita salah jal---"
Bodyguard tersebut nelihat adegan romantis itu langsung membuang wajah dan duduk dalam keadaan menatap ke arah jalan. Membuat temannya merasa penasaran dan sedikit mengintip dari spion lalu mengalihkan pandangannya.
Mendengar suara itu mereka langsung kembali duduk dalam perasaan canggung satu sama lain. Keduanya saling membenarkan pakaian demi mengurangi kegugupan di dalam hati serta menutupi rasa malu.
__ADS_1
"Ini hanya sebuah kecelakaan, jangan sampai ada orang yang tahu selain kalian. Jika berita hoax ini menyebar, saya akan pastikan kalian tidak akan bisa melihat dunia kembali. Paham!" ucap Thoms diiringi ancaman. Nay bergedik ngeri saat melirik sepintas wajah datar Thoms bagaikan malaikat pencabut nyawa.
"Pa-paham, Tuan. Ma-maafkan kami!" jawab kedua bodyguard dengan tegas.
"Semua ini gara-gara kalian!" Suara Thoms terdengar marah membuat mereka menundukkan kepalanya.
"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami salah jalan, diperempatan tadi ada perbaikan sehingga kami tidak melihat tanda tersebut. Seharusnya kami belok ke arah kanan, tetapi kami malah lurus. Sebagian mobil yang berjaga menunggu di perempatan sebelumnya, sekali lagi maafkan atas keteledoran kami!"
"Lain kali punya mata dipakai dengan benar, kalau memang sudah tidak membutuhkannya saya akan mengambilnya dan memberikan kepada orang yang membutuhkan!" seru Thoms diselimuti amarah begiru besar
"Ma-maaf, Tuan!" ucap bodyguard itu.
"6 bulan kedepan, tidak akan ada gaji yang turun untuk kalian, mengerti!" bentak Thoms.
"Mengerti, Tuan!" sahut keduanya, kemudian kembali memutarkan arah mobil ke tenpat semula. Terlihat sekali wajah Nay begitu pucat saat mendengar percakapan merekanyang sangat ekstream.
Bulu kudu Nay langsung terbangun dari tidur lamanya, inilah yang Nay tidak mengerti atas sifat Thoms yang selalu berubah-rubah bagaikan bunglon menyesuaikan keadaan.
Namun, entah mengapa sifat Thoms yang mampu membuat Nay merinding tidak sampai membuat Nay ketakutan seperti respons tubuhnya. Hati gadis itu selalu berkata bahwa Thoms bukanlah pria yang kejam. Kemarahan yang Nay lihat sekarang bukanlah kemarahan tanpa alasan.
Bagi Nay, Thoms terlihat seperti Naruto. Jika Naruto memiliki jurus seribu bayangan, sedangkan Thoms memiliki serubu sifat yang bisa menipu semua orang. Bahaya? Oh, jelas. Akan tetapi, gadis itu tidak merasa dirinya dalam keadaan berbahaya. Selagi Nay tidak membuat kesalahan, maka hidupnya akan aman sentosa.
Tidak seperti kedua bodyguard itu, mereka harus terkena amarah Thoms sampai gaji menjadi taruhan. Keduanya harus menelan pahit akibat keteledoran sendiri, sehingga selama setengah tahun ke depan mereka bekerja tanpa gaji.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...