Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Hinaa Menyakitkan


__ADS_3

Sementara itu, Edo dan teman-temannya tertawa kecil berusaha untuk memasang wajah melas ketika melihat Justin terjatuh.


"Akhhhh ...." Suara teriakan Justin berhasil menembus telinga Moana. Dia yang baru saja selesai memesan semua yang di butuhkan segera berlari untuk mendekati anak juga suaminya yang sudah terjatuh.


Ernest terjatuh ketika dia refleks ingin menolong Justin yang sengaja di dorong oleh salah satu teman Edo. Saat Justin berjalan dengan Edo di depan, kedua temannya berjalan dari arah belakang lalu salah satu temannya berpura-pura tersandung agar bisa mendorong Justin seolah-olah semua itu murni kecelakaan.


Akan tetapi, siapa sangka. Mereka menyaksikan jelas jika itu bukan kecelakaan melainkan kesengajaan ketiga anak itu yang ingin menyakiti Justin.


"Justin, gapapa?" tanya Ernest, setelah para bodyguard sudah menolong mereka. Di mana Ernest duduk di kursi rodanya dan Justin di atas pangkuan sesuai sama apa yang Moana ingiinkan.


"Upps, so-sorry, Justin. Kami tidak sengaja, hahah ...." Mereka bertiga tertawa puas saat melihat Justin menangis di dalam pangkuan Ernest. Di situlah emosi Ernest mulai tidak terkontrol.


"Apa-apaan ini, hahh? Apa yang kalian lakukan pada anakku? Sebenarnya apa yang kalian inginkan, hahh? Katakan!" teriak Ernest membuat mereka bertiga saling menatap satu sama lain, wajahnya terlihat ketakutan akan tetapi, kembali tertawa seakan sedang meledek mereka.


"Ma-maafkan kami, Tuan. Kami hanya ingin mengetes dirimu, apakah layak menjadi seorang ayah atau tidak, ternyata tidak. Makannya kalau punya kaki yang berguna jangan lumpuh perti itu, dasar pria lemah hahah ...."


Tawa mereka yang begitu puas benar-benar berhasil melukai hati Ernest. Dia terdiam seribu bahasa setelah mendengar kalimat Edo yang begitu menghina dirinya. Ernest tidak menyangka, apa yang Edo bilang itu memang benar.


Ernest adalah seorang ayah yang tidak berguna, hanya untuk menolong anaknya yang terjatuh saja dia tidak berdaya, dia malah merepotkan orang lain untuk membantunya bangkit.


"Cukup, Kak, cukup!" teriak Justin membuat Ernest menoleh ke arahnya.


"Aku tidak masalah kalau kalian semua ingin menjelekkanku, kalian boleh menyakitiku sepuas hati kalian. Asalkan aku tidak terima kalau kalian menghina orang tuaku, dia itu tidak lumpuh dan dia tidak lemah. Daddy adalah orang yang kuat, dan kalianlah semua yang lemah!" sambung Justin, membuat Ernest terkejut atas apa yang di katakan oleh anaknya.


"Eleehh, enggak usah sok ngebelain ayahmu yang lumpuh itu. Dia tidak berguna, lebih baik suruh mommymu ganti daddy baru yang bisa jalan jangan kaya dia!"

__ADS_1


Salah satu teman Edo menunjukkan jari telunjuknya ke arah Ernest tanpa merasa bersalah. Semua adap sopan santu yang seharusnya di tanamkan sejak kecil, kini tidak ada di dalam hidup mereka.


Ketiga anak itu seperti tidak mengerti tentang cara menghargai orang yang lebih tua, bahkan kata-katanya juga sangat jahat untuk di dengar di telinga orang yang tidak berdaya. Hinaan itu berhasil sampai di telinga Moana. Dia langsung berlari mendekati mereka untuk melihat kondisi keduanya yang habis terjatuh.


"Ada apa ini, Sayang? Kalian kenapa kok jatuh, dan anak-anak itu siapa? Apa yang mereka lakukan pada kalian?" tanya Moana begitu cemas ketika dia datang langsung menaruh semua barang-barang di tangannya ke atas kursi taman.


"Wah, mommynya cantik, ya. Sayangnya, nasib mommy Justin kurang beruntung. Dia mendapatkan suami yang lumpuh, tidak seperti mommy kita yang bisa mendapatkan daddy dalam keadaan sehat, bisa berjalan, terus juga tidak pemalas kaya dia. Kerjaannya cuman di kursi roda mulu, yang ada nanti pan*tatnya bisulan haha ...."


Kata-kata itu sungguh menyakiti hati Moana, Ernest juga Justin. Mereka tidak menyangka anak seusia Edo serta teman-temannya begitu minim tentang adap sopan santun kepada orang yang jauh lebih tua darinya.


Sebenarnya Moana kasihan melihat ketiga anak itu yang sedang asyik menertawakan dengan puas nasib malang orang lain. Seandainya nasib itu berbalik kepada mereka apakah mereka bisa menghadapi hinaan sekeji ini terhadap nasibnya?


Itulah yang membuat Moana menggelengkan kepalanya. Dia sangat bersyukur walaupun rumah tangganya di hantam oleh ombak, dia masih bisa memberikan anak-anaknya kasih sayang juga adap yang baik untuk tetap selalu menghormati dan menghargai orang yang lebih tua ataupun orang yang memiliki keterbatasan.


"Stop menghina daddyku! Kata-kata kalian sangat menyakitinya, mau daddyku lumpuh, normal atau cacat sekalipun aku tetap akan menyayanginya dan aku bangga memiliki daddy seperti dia. Walaupun daddy memiliki kekurangan, dia selalu berusaha membuat keluarganya bahagia, dia selalu berusaha melakukan yang terbaik buat kita. Jadi, kalian tidak boleh menghinanya karena kalian tidak jauh lebih baik darinya!"


"Apa-apaan ini, hahh? Kalian mau ngapain? Cepat lepakan tanganku!" ucap Edo berusaha untuk melepaskan tangannya.


"Sakit, woi! Lepasin, enggak atau aku gigit!" pekik salah satu teman Edo. Dia menggigit tangan bodyguard Justin sekeras mungkin, tapi tidak membuat mereka gentar untuk melepaskannya. Seakan-akan mereka sudah kebal untuk merasakan kesakitan, lantaran mereka tidak berteriak kesakitan sedikit pun.


"Dasar peng*ecut! Beraninya sama anak kecil, bagian ketemu sama ayahku habis kalian semua!"


Ancaman yang Edo berikan tidak membuat para bodyguard melepaskan tangan mereka. Genggaman tangannya begitu keras hingga tanpa sadar akibat Edo dan kedua temannya memberontak, pergelangan tangan mereka mulai memerah.


Mereka bertiga menangis sambil terus mencoba melepaskan dengan cara apapun, tetapi semua gagal. Mereka tidak bisa lepas jika bukan Moana atau Justin yang meminta mereka. Akan tetapi, kalau pun Moana dan Justin meminta mereka di lepaskan, para bodyguard tetap tidak akan melepaskan sebelum ada perintah langsung dari Thoms.

__ADS_1


"Panggil yang lain, untuk menggantikan kami. Kami akan kembali setelah urusan selesai!" titah bodyguard Barra untuk menyampaikan pesan tersebut pada bodyguard Moana.


Setelah mendapatkan kode tersebut, bodyguard Barra juga Justin segera berbalik menbawa ketiga anak itu entah ke mana. Hanya baru melangkah, Moana langsung berlari dan menghentikannya.


"Stop, Pak! Hentikan semua ini, mereka hanya anak kecil yang masih labil. Lepaskan saja, saya---"


"Tidak, Nyonya. Baik oramg dewasa, bahkan anak kecil sekalipun jika mereka sudah membahayakan majikan kami. Kami akan menuntaskan pekerjaan kami sesuai prosedur, Nyonya tahu itu, bukan?"


"Ya, saya tahu, Pak. Tapi---"


"Saya mohon, Nyonya. Jangan halangi pekerjaan kami, atau nyawa kami beserta keluarga kami yang akan menjdi taruhannya kalau kami melepaskan mereka detik ini juga. Semua ini sudah di bawah kendali Tuan Thoms, jadi saya mohon pengertiannya!"


Moana sedikit berdebat bersama bodyguard Justin. Akan tetapi, jika jawaban mereka sudah seperti itu Moana tidak bisa berbuat apa-apa. Dia tidak bisa melewati batasan yang malah akan membahayakan nyawa keluarganya.


"Baiklah, saya tidak akn menghalangi pekerjaan kalian. Cuman berikan saya waktu 5 menit saja untuk berbicara pada mereka, boleh?"


Kedua bodyguard tersebut saling menatap satu sama lain, lalu dalam hitungan detik mereka mengangguk secara bersamaan. Pertanda kalau mereka telah menyetujui apa yang Moana minta.


Edo beserta kedua temannya sudah menangis karena ketakutan saat kedua orang berbadan besar, tinggi, sangar juga menyeramkan ingin membawanya. Segala cara sudah mereka lakukan, tetapi tetap saja tidak pernah membuat kedua bodyguard tersebut berniat untuk melepaskannya. Genggaman tangan mereka benar-benar kuat, sehingga mereka bertiga tidak akan bisa kabur begitu saja tanpa mempertanggung jawabkan apa yang mereka sudah lakukan.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2