Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Mengetahi Persembunyian Moana


__ADS_3

Moana menangis sambil berlari mengejar anaknya, rasanya hati Moana langsung hancur ketika melihat anaknya berada di dalam bahaya. Sementara Barra tidak sedikit pun merasa takut, dia malah tertawa senang.


Mungkin, bagi Barra itu bukanlah hal yang membahayakannya. Sebab, dia belum mengerti sesuatu yang membahayakan atau tidak.


Justin berlari sekuat tenaga, sampai dia terjatuh lalu di tolong oleh salah satu yang bertugas untuk menjaganya kemanapun Justin pergi. Sedangkan Moana, dia terus berlari tanpa melihat Justin yang jatuh.


Fokusnya saat ini hanya pada Barra, jika Justin terjatuh hanya luka kecil. Bagaimana nasib Barra yang ada di stroller ketika jatuh, pasti lukanya berkalo-kali lipat dari apa yang Justin rasakan.


Bukan berarti Moana pilih kasih pada kedua anaknya, karena setiap ibu akan berusaha sebisa mungkin untuk menyelamtkan semua anaknya.


Namun, di sini berbeda. Posis Justin sudah di tolong oleh bodyguardnya. Lalu, Barra? Dia masih terus berada di dalam bahaya ketika strollernya terus berjalan mundur tanpa berhenti.


"Barra!"


"Siapapun yang memiliki hati nurani, tolong bantu saya selamatkan anak saya. Saya mohon!"


Moana berteriak penuh tangisan ketika dia melihat anaknya semakin menjauh dari jangkauannya. Para bodyguard yang sudah berusaha keras menggapai Barra, tetap saja kalah cepat sama jalan yang semakin menurun.


Maklum saja, jalanan taman itu seperti bukit atau puncak. Jadi, semakin ke atas semakin indah pemandangannya dan masih banyak lagi.


Stoller Barra terus berjalan mundur menuju sebuah semak panjang sebagai pembatas. Apa bila stoller menabrak tersebut, bisa di pastikan Barra akan mental bersama stollernya dan itu bisa membahayakan nyawa Barra.


Namun, entah keajaiban dari mana. Stroller Barra bisa langsung berhenti tepat di tangan seseorang. Tidak tahu dari mana orang itu berada, tiba-tiba saja dia langsung muncul dan menyelamatkan Barra dari bahaya.


Kini, keadaan Barra baik-baik saja. Dia pun tidak merasa trauma akan kejadian tersebut. Barra malah tertawa saat melihat wajah orang itu dengan tatapan mendalam.


Pada bodyguard langsung membuat pria itu menjauh, sejauh-jauhnya agar Moana bisa langsung mendekati anaknya. Moana segera bergegas melepas sabuk pengaman Barra dan menggendongnya.


Orang tersebut sedikit bingung lantaran dia sudah menolong tapi, kenapa seolah-olah dia adalah orang yang akan menculik Barra. Sehingga, harus diamankan untuk memberikan ruang pada Moana.

__ADS_1


Hanya saja, dibalik rasa bingungnya. Mata orang itu langsung membola, ketika melihat orang yang selama ini dia rindukan berada tepat di depan matanya.


"Mo-moana? Ju-justin? Be-benarkah ini mereka? Ji-jika benar, itu artinya waktu itu aku tidak bermimpi atau halusinasi. Itu memang anak kecil yang aku temui di toilet Resto, dan dia beneran Justin?" gumam orang itu di dalam hatinya, yang tidak lain adalah Ernest.


"Sayang, maafin Mommy. Karena Mommy kamu hampir saja terluka, maafin Mommy. Maaf hiks ...."


Moana menangis memeluk Barra dan menciuminya tanpa henti. Wajah Barra malah terus menatap ke arah Ernest yang berada di antara bodyguardnya.


"Ma-maafkan, Kakak, Dek. Maaf, karena Kakak tidak bisa menjaga kamu. Kakak malah asyik main tanpa memastikan keamananmu. Pahadal, Mommy sudah menitipkan kamu sama kakak. Cuman, kakak malah lalai. Maafkan kakak, belum bisa jadi kakak yang baik. Maaf, hiks ...."


Justin menangis di dalam gendongan bodyguardnya. Rasa sakit yang ada di kedua lutut serta lengannya tidak sebanding sam rasa sakit akibat penyesalannya.


Bagaimana tidak, Justin merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Barra. Dia terus menyalahkan dirinya, meski ini bukan sepenuhnya atas kesalahan Justin. Melainkan, ini hanyalah musibah yang harus dijadikan pelajaran agar mereka bisa lebih berhati-hati lagi dan tidak cereboh.


Moana mencoba menengkan Justin, dia terus menggelengkan kepalanya. Sebab, ini bukan kesalahannya. Moana tidak ingin membuat Justin merasa gagal menjadi seorang kakak, lantaran ini sebuah musibah yang terjadi pada Barra.


Moana tidak tega melihat luka yang ada di tubuh Justin, karena dia berusaha untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi pada adiknya.


"Mo-moana? Ju-justin? Ka-kalian masih hidup? A-aku tidak lagi mimpi 'kan? I-ini benar-benar kalian, 'kan?"


Ernest berbicara dengan bibir bergetar, air mata mulai runtuh ketika rasa kerinduan yang sangat dia pendam langsung tumpah begitu saja.


Moana dan Justin terkejut bukan main, saat tahu orang yang menyelamatkan Barra ternyata ayah kandungnya sendiri bukan orang lain.


Dunia memang sempit, sudah 1 tahun lebih mereka berusaha untuk menghindari Ernest dan menghilang agar tetap dianggap sudah meninggal dunia. Akan tetapi, sekarang persembunyian mereka telah di ketahui oleh Ernest tanpa di sengaja.


"E-ernest?" gumam Moana kecil, ketika matanya langsung menatap mata Ernest.


"Da-daddy?" ucap Justin, terkejut.

__ADS_1


"A-aku tidak menyangka kalian ternyata benar-benar masih hidup. Sungguh! Aku tidak percaya semua ini, aku kira mimpi. Namun, inilah kenyataannya. Kenapa kalian tega membohongi keluargaku dengan berpura-pura meninggal, kenapa Moana? Kenapa!"


Ernest menangis, menumpahkan semua perasaannya yang selama ini dia pendam sampai membuat hidupnya tidak beraturan. Di mana semangat Ernest telah menghilang, dan gairah untuk mencintai pun telah ma*ti bersamaan dengan hancurnya perasaan Ernest yang di penuhi oleh penyesalan mendalam.


Moana tidak bisa berkata apa-apa ketika semua orang sudah berkumpul untuk menyaksikan apa yang telah terjadi diantara mereka. Susah payah para bodyguard untuk membubarkan aksi pengunjung, tetapi tetap saja mereka tidak kunjung pergi dari tempat kejadian.


Akhirnya, Moana mengajak Ernest untuk menepi ke tempat yang lebih aman. Semua demi kemanan mereka agar apa yang terjadi di masa lalu tidak sampai terdengar di telinga banyak orang.


...🌟🌟🌟🌟🌟...


Ketika mereka sudah berada di tempat yang lebih aman, mereka semua duduk. Di mana Moana meletakkan Barra duduk sambil memberikan mainannya, sementara Justin dia duduk berselonjor sambil di obati oleh Moana.


Ernest hanya bisa duduk sambil melihat ke arah Barra yang tidak dia kenal sama sekali. Kehadiran Barra membuat Ernest merasa jauh lebih hancur dari sebelumnya.


Ernest mengira Moana sudah menikah lagi bersama pria lain dan menghasilkan Barra sebagai bentuk cinta mereka. Akan tetapi, semua itu hanya pikiran negatif yang mengganggu isi kepala Ernest.


"Jelaskan padaku, apa alasan kamu pergi dariku? Lalu, apa tujuan kamu berbohong dengan mempalsukan kema*tian kalian? Apa semua itu karena kamu selingkuh? Jadi, setelah memalsukan semuanya. Kamu bisa menikah dengan ayah dari anak itu, gitu?"


Moana menoleh melihat wajah Ernest begit datar, meski tertutup oleh brewok yang sudah bersarang di rahang indahnya. Pertama kali Moana melihat suaminya berpenampilan seperti ini, seolah-olah Ernest sudah tidak memperdulikan soal penampilan semenjak mereka tidak bersama.


Baru Moana ingin menjawab semua itu, Justin langsung membela Moana. Akan tetapi, Moana berusaha menahan Justin dengan menggelengkan kepalanya agar dia tidak ikut campur sama urusan orang dewasa.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2