Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Apartemen


__ADS_3

Moana menatap ke arah jalanan, di mana arah pulang ke rumah belok ke arah kanan. Akan tetapi, Ernest malah lurus hingga membuat Moana langsung bangkit dan menoleh ke arah kanan.


"Loh, loh. Hey, kau salah jalan Ernest!" pekik Moana, terkejut.


Ernest hanya bisa melirik dan tersenyum ke arahnya, sehingga Moana malah semakin menjadi bingung dan wajahnya terlihat begitu penasaran.


"A-ada apa dengan wajahmu? Ke-kenapa senyum-senyum begitu? Apa ada sesuatu yang sedang kau rencanakan untukku?" tanya Moana, perasaannya mulai tidak enak.


"Sudahlah, ikuti saja kemana mobil ini pergi. Lagi pula aku tidak sedang menculik orang, bukan? Jadi, tenanglah."


Ernest berusaha membuat istrinya tidak bertambah panik. Perlahan, tangannya mengusap pipi Moana sambil tersenyum.


"Huhh, baiklah. Cuman, bagaimana jika Justin mencariku? Pasti dia bisa-bisa nangis kencang, yang ada Oma dan Opanya malah jadi setres," ucap Moana, mengkhawatirkan nasib anaknya yang di tinggal olehnya.


"Tenanglah, percayakan semuanya pada Bunda. Dia sudah biasa mengurusku dari kecil, jadi tidak mungkin Bunda tidak bisa mengurus cucunya sendiri," jawab Ernest, kembali fokus pada perjalanannya.


Tidak ada lagi yang harus Moana debatkan, apa yang di katakan suaminya memang benar adanya. Hanya saja, ada sedikit rasa tidak enak dan juga khawatir jika Justin akan merepotkan kedua mertuanya.


Moana sangat tahu, jika saat bangun tidur Justin pasti akan langsung menangis mencarinya. Lantas bagaimana kalau dia tidak ada? Apakah Justin bisa baik-baik saja dengan Oma dan Opanya? Itulah, yang membuat Moana sedikit takut. Akan tetapi, dia berusaha untuk tetap tenang mengikuti perkataan suaminya.

__ADS_1


Kurang lebih 40 menit, mereka sampai di sebuah tempat yang sangat tidak di kenali oleh Moana. Walaupun begitu, Moana bisa menebak kalau tempat tersebut adalah sebuah Apartemen.


Ernest baru saja memakirkan mobilnya dengan benar, lalu mematikan mobilnya kemudian melirik ke arah istrinya yang masih pelongo karena merasa curiga dengan suaminya.



Sebuah Apartemen yang sangat mewah dengan interior indahnya berhasil membuat Moana melongo tidak percaya. Apa lagi desain dari gedung Apartemen tersebut begitu cantik, tidak terbayang berapa banyak uang yang Ernest keluarkan hanya untuk ada di tempat seperti ini.


"Ayo, kita turun!" titah Ernest tersenyum. Moana perlahan menoleh, wajahnya sedikit memerah akibat pikirannya yang sudah berkeliaran ke mana-mana.


"I-ini Apartemen siapa? Terus kenapa kita ke sini? Ki-kita 'kan punya rumah, jadi kenapa harus ke---"


Ernest langsung menutuk bibir istrinya menggunakan jarinya sambil menggelengkan kepalanya perlahan. Moana mengedipkan matanya saat melihat wajah suaminya yang sedikit menyebalkan. Bagaimana tidak menyebalkan, Ernest seperti sedang menggodanya.


Mata Ernest mulai terlihat sayu, bahkan napasnya pun sedikit tidak beraturan sampai berhasil membuat tubuh Moana langsung merinding. Semua bulu kuduknya yang sudah lama tertidur, seketik langsung bangun hingga tidak tahu bagaimana Moana akan menjawabnya.


Moana hanya bisa menganggukan kepalanya perlahan, lalu di sambut oleh senyuman lebar dari suaminya yang terlihat begitu semangat dan juga bahagia. Suasana wajah yang biasanya dingin serta datar, kini berubah hanya karena Moana memberikan izin atas dirinya untuk suaminya.


Mereka pun keluar dari mobil, dalam posisi Ernest yang membukakan pintuny dan menjulurkan tangannya bagaikan seorang Pangeran saat menyambut Tuan Putri yang cantik jelita.

__ADS_1


Perlakuan manis ini selalu berhasil membawa Moana pergi melayang di udara. Sampai dia saja tidak bisa berkata-kata selain mengikuti kemana langkah suaminya akan berpijak.


Tepat di lantai 25, Apartemen nomor 1999. Kini, Moana dan Ernest baru saja sampai di depan pintu. Ernes langsung memasukan sebuah kartu untuk akses membuka Apartemennya dan beberapa kode yang sangat rahasia.


Setelah pintu terbuka lebar, Moana lagi-lagi di kejutkan oleh desain Apartemen milik suaminya. Dimana semua warna yang ada di dalam benar-benar hanya ada warna hitam pekat dan putih, layaknya sebuah bangunan mati tanpa adanya warna lain yang menghiasinya. Berbeda sama rumah mertuanya yang terdapat banyak warna, bahkan tidak ada warna hitam. Akan tetapi, di sini malah yang lebih dominan adalah hitam.



Ernest hanya bisa terkekeh di dalam hatinya ketika melihat wajah istrinya yang terkejut. Sampai-sampai Ernest harus menutup mulut istrinya agar tidak membuat air liurnya menetes.


"Maaf ya, kalau Apartemen ini membuatmu kaget. Aku sengaja memakai warna putih dan hitam, karena dua warna itu membuatku tenang. Maka dari itu, setiap aku ada masalah aku selalu pergi ke sini tidak kembali ke rumah. Aku tidak mau membawa semua masalah ke rumah, jadi Bunda dan Ayah sudah tahu. Jika aku tidak pulang itu artinya suasanaku sedang tidak baik-baik saja."


Penjelasan Ernest yang simple ini berhasil menjawab kebingungan istrinya. Moana pun menatapnya dan menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


Kemudian keduanya berjalan masuk ke dalam melewati semuanya menuju tangga. Satu persatu anakkan tangga mereka naiki dalam posisi Moana dan Ernest saling bergandengan tangan. Ernest terus memperhatikan langkah kaki istrinya, untuk menjaga supaya gaunnya tidak sampai terinjak dan terjatuh.


.......


.......

__ADS_1


.......


...***💜💜>Bersambung


__ADS_2