
Elice dan Sakha yang sudah berada di meja makan merasa terkejut saat melihat anaknya datang dalam keadaan tergesa-gesa.
"Hahh, hahh ... Dasar istri tidak tahu malu, bisa-bisanya dia ingin memper*kosa diriku. Memang dia kira aku pria apaan, harusnya aku yang melakukannya. Ini malah dia yang menyodorkan diri, dasar gila!"
Ernest mengoceh sendiri sambil duduk dan minum air putih yang sudah berada di dalam gelas, dalam sekali tenggak. Akibat perkataan Moana, membuat tenggorokan Ernest sangat kering. Apa lagi jantungnya yang hampir saja membuatnya struk.
Tanpa Ernest sadari perkataannya terdengar sampai di telinga kedua orang tuanya. Dimana Ernest ngomel dengan suara kecil, tetapi masih terdengar jelas di telinga mereka.
Elice menoleh ke arah suaminya dan tersenyum, begitu juga Sakha. Sepertinya apa yang mereka rencanakan sudah Moana lakukan. Loh, kok bisa? Ya itulah, ternyata di balik perubahan Moana terdapat campur tangan Elice dan juga Sakha.
Pada waktu itu, saat di rumah sakit Ernest sedang pergi keluar untuk menemani Sakha ngopi di kantin. Dari situlah Elice menyampaikan apa yang harusnya di sampaikan pada Moana.
Ternyata Elice dan Sakha sudah merencanakan bahwa jika memang Moana ingin mendapatkan cinta suaminya, maka dia harus merubah sikapnya hingga 160 derajat. Semua itu bertujuan agar bisa meluluhkan kedinginan serta kegengsian suaminya yang sangat besar.
Awalnya Moana takut, bila dia akan semakin di anggap remeh oleh suaminya. Akan tetapi, berkat dukungan dan suport mertuanya akhirnya Moana bisa menerapkan rencana mereka secara perlahan. Dan benar bukan? Sedikit demi sedikit Moana sudah mulai berhasil memikat Ernest, walaupun belum menunjukan sikap apapun.
Sebenarnya jika boleh jujur, Moana juga takut bila suaminya akan benar-benar menerkamnya. Sebab ingatan akan kejadian itu pun belum sepenuhnya hilang, hanya saja Moana melawan semua itu demi mendapatkan haknya sebagai seorang istri yang di cintai oleh suaminya.
"Ekhem, kamu kenapa wajahnya ketakutan begitu?" tanya Elice sambil mengambilkan nasi ke dalam piring suaminya.
__ADS_1
"Gelisah habis melihat hantu?" sahut Sakha, menatap anaknya dengan datar.
Ernest menatap kedua orang tuanya sambil minum untuk kedua kalinya. "Ini lebih dari hantu, Yah. Menantumu benar-benar sudah gila, sepertinya saat melahirkan Justin syaraf otaknya pada putus, sehingga otaknya jadi konslet!"
"Hahh? Ko-konslet gimana maksudnya? Bunda enggak paham?" jawab Elice. Dia berpura-pura bingung, sama halnya seperti Sakha. Akting keduanya memang terlihat sangat keren dalam menjiwai perannya masing-masing.
"Dahlah, aku malas bahasnya. Pokoknya nanti aku akan carikan dokter buatnya, siapa tahu mentalnya terganggu." sahut Ernest langsung mengambil nasi gorengnya sendiri.
"Memangnya menantuku kenapa, Ernest? Apa dia sakit? Atau dia--"
"Menantumu itu sudah sangat gila, ya kali suaminya sendiri mau di per*kosa. Dia kira aku ini pria apaan, meskipun aku cuek juga aku masih normal ya. Buktinya aja semalam aku---"
"Mam*pus kau Ernest\, ma*tilah kau! Hampir saja aku membuka kartuku sendiri\, kalau saja mereka tahu apa yang aku lakukan semalam tamat sudah riwayatmu. Pasti semua itu bisa langsung bocor sampai ke tangan Moana."
"Dengan begitu, aku pasti akan kehilangan mainanku. Hyakk ... Tidak, tidak, tidak! Aku tidak mau, pokoknya aku akan melakukan cara apapun agar tidak sampai membuat Moana sampai curiga. Intinya benda keramat itu harus menjadi milikku untuk selamanya. Titik!"
Suara batin Ernest berteriak, dia tidak rela bila harus kehilangan mainan barunya yang baru saja dia miliki. Jika boleh memilih, dia ingin seperti Justin yang bisa mendapatkan semua itu setiap saat. Tidak harus dengan cara bersembunyi, hanya bermodalkan tangisan maka dia sudah mendapatkannya.
"Semalam kamu ngapain Moana, Ernest? Jawab pertanyaan Bunda!"
__ADS_1
"Apa kamu sudah lupa, istrimu itu jahitannya belum kering. Masa iya udah main sodok aja, apa tidak bisa kamu tahan sampai 2 bulan dulu atau minimal jahitannya keringlah. Baru kalian bisa main setiap malam, siapa tahu dengan begitu Bunda bisa dapet cucu lagi. Kalau perlu Bunda titip perempuan yang kembar. Oke?"
Perkataan Elice berhasil membuat Ernest langsung tersadar dan refleks menggebrak meja sambil berdiri. Dia tidak terima bila di tuduh seperti itu, jelas-jelas semalam dia hanya menikmati susu yang murni langsung dari sumbernya.
Akan tetapi, Elice malah seolah-olah mengira bila dia tidak memiliki hati dan tega menyakiti istrinya sendiri yang baru saja melahirkan, hanya demi sebuah napsu.
"Cukup ya, Bun. Walaupun Ernest tidak mencintai Moana, tapi Ernest masih punya hati terhadap dia. Jikalau pun Ernest menginginkan semua itu, tepay di saat Ernest sudah mencintai Moana. Bukan dalam keadaan terpaksa. Ngerti!"
Tatapan tajam Ernest langsung tertuju pada Elice yang sedikit tersontak kaget. Begitu juga Moana yang baru saja datang menggendong Baby Justin yang baru terdiam dari tangisnya.
Elice sedikit terkejut, hingga Sakha langsung turun tangan untuk membela istrinya di depan anaknya sendiri.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1