Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Kejujuran Thoms


__ADS_3

Moana benar-benar sangat terkejut dan syok, saat tahu kalau Enza sudah tiada atas ulah sang kakak. Betapa kejam dan kejinya Thoms, saat melakukan aksi balas dendamnya demi membalas semua rasa sakit yang Moana rasakan.


Padahal, sepenuhnya bukan kesalahan Enza. Jika bukan karena Enza, kemungkinan sampai detik ini Moana tidak akan tahu bila orang yang sudah dianggap sebagai kakak, ternyata adalah orang yang selama ini telah mengkhianatinya .


"Ja-jadi, E-enza me-meninggal karena kakak?" ucap Moana tubuhnya bergetar hebat, saat dia mengetahui semuanya.


"Ma-maafkan kakak, Na. Kakak tahu kakak salah, tapi kakak tidak bisa menghentikan rasa dendam di dalam hati kakak ketika kakak tahu kalau wanita yang kakak cintai adalah wanita yang membuatmu ada di posisi itu!"


Thoms terus meyakinkan Moana agar dia tidak sampai membencinya atas perlakuan kejamnya terhadap Enza.


Entah Moana harus senang atau sedih, dia tidak tahu. Meskipun Moana kecewa sama Felix, karena sudah menghancurkan hidupnya. Akan tetapi, satu sisi Moana senang Enza sudah mendapatkan balasan walaupun dari perlakuan kakaknya.


Namun, di sisi lain. Moana juga tidak tega setelah mendengar berita kematian Enza yang sangat tragis, dia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Enza pada saat itu.


"Kak, Kakak tahu tidak! Berkat Enza meskipun dia melakukan hal yang tidak baik padaku dan Justin, tanpa di sengaja dia membongkar semua kebusukan Felix. Dialah orang yang harusnya bersalah atas semua kehidupanku saat ini!"


"Aku harus menjauh dari keluarga suamiku demi menyelamatkan mental anak-anakku, sememtara aku masih sangat mencintainya!"


"Terus kenapa yang kakak bunuh malah Enza? Kenapa bukan Felix sekalian, hahh?"


"Dia yang sudah menghancurkan hidupku, dia yang sudah menjebakku dan dia juga yang membuat hidupku ada di posisi ini! Jadi, silakkan bu*nuh dia tepat di hadapanku!"


Thoms yang tidak tega melihat tubuh Moana bergetar langsung memeluknya begitu erat. Berulang kali Thoms meminta maaf atas semua kesalahannya, hanya saja dia tidak bisa mengendalikan emosi di dalam dirinya.

__ADS_1


Kesatu, dia kecewa karena wanita yang dia cintai pertama kali ternyata bukanlah wanita baik yang dia kira. Dan terkahir, Enza juga ikut serta atas penyebab adiknya bisa mengalami kondisi seperti ini.


"Tidak, Dek. Tidak! Kakak tidak mau membuatmu ketakutan seperti ini, kakak sayang sama kamu. Kakak tidak mau kehilangan kamu!"


"Awalnya kakak ingin berencana membu*nuhnya, tapi kakak ingat lagi. Kalau suatu saat nanti kakak membu*nuhnya, bisa jadi kakak akan di benci seumur hidup oleh Justin. Keponakan kakak sendiri, dan kakak tidak mau itu terjadi. Maafkan kakak, Dek. Maaf!"


Moana menggelengkan kepalanya sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Thoms. Hanya saja, Thoms tidak mau melepaskan Moana ketika tubuhnya masih trauma saat mendengar semua rangkaian cerita yang menguras air mata mereka.


Malam yang seharusnya menjadi malam kebahagiaan karena mereka bis memluapkan rasa rindubyang tidak bisa di jelaskan. Semua akibat pekerjaan Thoms yang jarang sekali menetap, dia harus bolak-balik naik pesawat demi menuntaskan pekerjaannya. Sehingga, satu minggu lebih ini tidak bertemu.


Kembalinya bertemu, bukannya melepas rindu malah melepas semua beban yang ada di pundak Thoms dan beralih ke pendak Moana. Tatapan Moana memang penuh kekecewaan terhadap sikap Thoms yang seenaknya. Akan tetapi, pada dasarnya Thoms hanya tidak ingin melihat penderitaan adiknya yang selama ini tidak dia ketahui.


Mungkin, caranya saja yang salah. Sampai-sampai Moana sangat terkejut ketika mengetahui semua pekerjaan sang kakak, kehidupannya, kema*tian Enza juga kema*tian kedua orang tuanya.


Di saat mereka lagi berusaha menenangkan hatinya. Tiba-tiba pintu kamar Thoms terbuka bersamaan munculnya Justin yang mengucek kedua matanya.


"Justin cari-cari, ternyata Mommy ada di kamar Papah?" ucap Justin, suaranya terdengar berat dan masih sedikit mengantuk.


Moana dan Thoms langsung refleks menghapus sisa air matanya dan tersenyum kecil untuk menyapa Justin yang sudah berjalan mendekatinya.


"Loh, kenapa kakak bangun? Ini masih malem, kita bobo lagi, yuk! Mommy temenin, mau?" tanya Moana, memeluk Justin sambil mencium pipinya.


"Justin mau bobo sama Papah, boleh?" ucap Justin, menatap lekat ke arah Thoms.

__ADS_1


"Boleh dong, apa sih yang enggak boleh. Sini-sini naik di kasir Papah, kita bobo bareng," ucap Thoms penuh semangat. Tangannya melambai ke arah Justin seraya menganjak untuk mendekatinya.


"Makasih, Pah. Justin, bobo sama Papah ya, Mom. Mommy bobo sama Ade aja, kasihan Ade bobo sendiri loh," jawab Justin menatap Moana.


"Kenapa enggak bobo sama Mommy aja? Kasihan Papah capek loh, 'kan baru sampai ke rumah tadi jadi pasti Papah mau bobo nyenyak. Kalau ada Justin nanti Papah tidurnya terganggu, gimana?"


Meskipun Moana kecewa atas sikap Thoms, dia tetap memperhatikan tentang kesehatan badannya. Hanya saja, Thoms malah salah mengartikannya. Thoms kira Moana begini seakan sedang memberikan jarak kepada mereka agar tidak terlalu dekat.


Justin menoleh ke arah Thoms, di mana Thoms kembali menjelaskan pada Moana agar memperbolehkan Justin tidur bersamanya. Setidaknya Thoms memiliki teman tidur agar dia tidak kembali merasakan ketakutan akibat traumanya.


Moana tidak bisa lagi membantah semua itu, walaupun maksudnya baik. Tatapan yang Thoms berikan membuat Moana paham, jika saat ini Thoms membutuhkan teman agar sedikit melupakan kejadian di dalam mimpinya.


Setelah itu, Moana pun pergi dari kamar Thoms tidak lupa memberikan sedikit nasihat pada anaknya agar tidak nakal atau sampai mengganggu tidur pamannya yang sering dia panggil Papah.


Saat mendapatkan jawaban Justin yang cukup menenagkan hati Moana, barulah dia bisa meninggalkan mereka berdua saja di kamar. Untungnya, Justin tidak mengetahui kalau wajah Moana sedikit sembab akibat menangis.


.......


.......


.......


...💜💜>Bersambung<💜💜...

__ADS_1


__ADS_2