Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Menyadari Kesalahan


__ADS_3

"Ma-maafkan aku, a-aku benar-benar telah menyesal karena sudah menyakiti kalian. A-aku janji, a-aku akan berubah jadi suami sekaligus Daddy yang baik, asalkan kalian bisa membuka mata kembali. Aku mohon, sayang. Aku mohon!"


"Jujur, bukan seperti ini yang aku inginkan, tapi aku hanya mau melihat kalian menangis meminta maaf beulang kali padaku. Setelah aku puas, maka aku akan mencoba untuk melupakan apa yang terjadi, setidaknya aku tidak kehilangan kalian!"


"Maka dari itu aku selalu menahanku agar tidak bisa pergi dariku, meski aku harus mengancammu dengan berbagai cara. Itu artinya, aku masih mencintai kalian. Akan tetapi, aku tidak bisa mengendalikan rasa egoi yang selama ini selalu melekat di dalam pikiranku. Aku tidak sanggup, apa bila harus merasakan kehilangan kalian untuk selamanya. Aku tidak rela, aku tidak rela!"


"Maafkan Daddy, Justin. Maaf! Daddy sudah banyak membentakmu dan selalu menolak kebaikanmu. Daddy juga tidak tahu, kenapa Daddy malah seakan-akan membencimu. Semua ini terjadi akibat keegoisan yang Daddy pelihara selama ini!"


"Daddy janji, kalau kalian bangun nanti Daddy akan meminta maaf sebanyak mungkin, bahkan di hukum pun Daddy siap. Daddy akan tetap berusaha untuk berubah jadi yang lebih baik lagi. Asalkan kalian tidak pergi meninggalkan Daddy, Daddy mohon. Please!"


Ernest menangis sambil memeluk mereka dengan perlahan secara bergantian. Air matanya mengalir deras ketika hatinya sangat rapuh melihat semua ini.


Tidak ada satu pun jawaban dari Justin ataupun Moana, hanya terdengar suara alat monitor yang saling beradu satu sama lain untuk tetap mengecek kesehatan detak jantung keduanya.


Penyesalan yang teramat menyakitkan bagi Ernest ketika dia tidak bisa mengendalikan egonya sendiri, sehingga apa yang dia lakukan lebih cenderung untuk menyakiti demi membalaskan rasa kecewa di hatinya tersebut.


Felix yang mendapatkan kabar dari karyawan kantor Ernest langsung meluncur ke rumah sakit. Niat awalnya dia ingin memberikan satu bukti agar mata hati Ernest bisa secepatnya terbuka lebar untuk menyadari kesalahannya.

__ADS_1


Hanya saja, Felix malah mendapatkan kabar mengenai kondisi anaknya yang terbaring lemah tidak berdaya. Dalam keadaan cemas dan panik, Felix datang ke rumah sakit. Di mana dia melihat kedua orang tua Ernset berada di depan ruangan ICU.


"Om, tante? Bagaimana keadaan Moana dan Justin? Mereka baik-baik saja 'kan? Mereka selamat 'kan?" tanya Felix berulang kali, matanya terlihat berkaca-kaca.


Sakha dan Elice benar-benar terkejut atas kehadiran Felix di rumah sakit. Sebab mereka tidak memberitahukannya atas kejadian yang menimpa cucu serta menantunya.


"Felix? Ngapain kamu ada di sini? Dan tahu dari mana kami di rumah sakit?" tanya Sakha, kembali.


"Aku tahu dari sekretaris Ernest yang bernama Dinda, awalnya aku ingin menemui Ernest untuk memberikan bukti kalau ini murni kesalahanku bukan Moana ataupun anakku! Saat aku ada di kantor, sekretaris itu mengatakan kalau Ernest pergi ke rumah sakit akibat istri sama anaknya mengalami kecelakaan ketika pulang liburan. Di situ saya langsung meluncur ke sini untuk memastikan semua kebenarannya," jawab Felix, penuh kepanikan yang mendalam.


Betapa terkejutnya Felix ketika dia harus mengetahui bahwa hidup anaknya berada di ambang antara hidup dan juga ma*ti. Anak sekecil itu harus merasakan kejadian yang begitu menyedihkan.


Satu sisi keberadaan Justin selalu di tolak antara kedua Ayahnya, dan menjadi sumber petaka bagi Ernest. Lalu sekarang, Justin harus mengalami penderitaan yang cukup menguras mental orang-orang yang menyayanginya.


Sehabis Felix mendapatkan penjelasan tentang anaknya, dia langsung melihat ke arah kaca besar yang menunjukkan bagaimana kondisi mereka sesungguhnya.


Lagi-lagi Felix merasa hancur karena melihat kondisi Moana yang cukup mengerikan, di tambah kondis Justin yang terasa pilu. Tidak lupa, di situ juga ada Ernest yang sedang berusaha berinteraksi dengan anak dan istrinya.

__ADS_1


Entah, Felix harus senang atau sedih melihat Ernest yang berusaha menyadari kesalahannya. Ketika Felix juga ingin melihat anaknya dari dekat, Sakha langsung melarangnya. Sakha tidak ingin terjadi ke ributan di dalam ruangan akibat dua pria yang egois akan dirinya sendiri.


"Aku ingin menemui anakku, Om! Jadi, tolong izinkan aku sekali saja bisa memeluk dan menciumnya. Aku benar-benar rindu padany, aku mohon, Om, Tan, berikan aku kesempatan sekali saja! Aku janji, aku tidak akan membuat keributan di dalam saja!"


Felix berusaha kerasa untuk memberikan penjelasan kepada Sakha serta Elice yang terus menahannya masuk. Bila di bilang, kesal. Ya, mereka kesal sama kejantanan Felix yang tidak mau bertanggung jawab. Hanya saja, mereka tidak ingin keributan mereka di dalam akan mengganggu ketenangan pasien.


Apa lagi Sakha sangat tahu, betapa antusias dan khawatirnya Felix dengan Justin. Sehingga, mereka tidak ingin ambil resiko, lantaran hubungan antara Felix dan Ernest belum bisa di katakan baik. Mereka takut, di saat seperti ini malah akan menambah kekusutan hubungan mereka yang belum membaik.


Beberapa saat Felix mencoba untuk mengerti, lalu dia hanya berdiri di depan cermin dengan pandangan teeus ke arah Justin. Perlahan tangannya mulai terangkat seakan sedang membelai wajah anaknya yang tampan dan mengfemaskan itu. Tidak lupa air mata Felix terus menetes tanpa suara terisak.


.......


.......


.......


...***💜💜>Bersambung

__ADS_1


__ADS_2