
Rasa sedih kian menghilang, tergantikan oleh candaan yang berasal dari Elice. Semua itu sengaja dilakukan Elice supaya tidak membuat rasa kecewa di hati Felix semakin mendalam.
Mereka tertawa geli membuat Ernest segera tersadar dari lamunannya dan langsung menyangkal semua perkataan sang bunda dalam keadaan wajah yang benar-benar panik.
"Aaa ... Bunda apa-apaan sih, mana mungkin Ernest jadi kakek dulu baru nikah, memangnya Bunda kira bikin anak itu gampang apa? Ernest aja buat sama Moana tiap malam enggak jadi-jadi, sekalinya jadi malah pas di tinggal, aneh 'kan!" ucap Ernest kesal.
"Salahmu sendiri, siapa suruh mencintai istrimu setelah usia Justin 4 tahun. Sekalinya merasakan langsung ketagihan, enggak ingat jam. Baru juga lagi enak-enaknya udah bikin ulah lagi, bagian di tinggal nangis gak karuan. Sampai-sampai penampilan yang biasanya terlihat rapi, tampan juga wangi malah terlihat kek orang frustasi enggak keurus. Memalukan!"
Mata Ernest membola besar ketika Elice tidak henti-henti membongkar aib yang memang itulah kenyataan. Sebenarnya semua juga udah tahu, hanya saja Elice kembali memperjelas keadaan Ernest pada saat itu sebelum Moana kembaki. Semata-mata itu adalah bentuk kekesalan Elice pada anak tersayang.
Lagi-lagi tawa mereka pecah, kecuali Elice dan Ernest. Mereka saling melontarkan tatapan tajam satu sama lain seperti memberikan sinyal peperangan antara ibu dan anak.
Beberapa menit kemudian, Sakha melihat keadaan sudah mulai tidak enak langsung meminta mereka semua untuk kembali tenang serta menyampingkan sejenak masalah tersebut agar bisa kembali meneruskan makan malam yang sempat tertunda.
"Udah, udah. Jangan ketawa lagi, kamu juga jangan meledek anakmu mulu. Ayo, duduk terus makan! Jam makan malam sudah hampir kelewat jauh, nanti dilanjut obrolannya selesai makan!" titah Sakha diangguki oleh semuanya.
Meskipun Felix terlihat tidak napsu makan karena tidak ada Justin di sana, tetap saja dia berusaha terlihat baik-baik saja demi menghargai keluarga Ernest terutama Elice dan Sakha.
Mereka kembali melanjutkan makan malam dalam keadaan sunyi, hanya terdengar suara dentingan alat makan yang saling beradu. Tidak lupa Moana tetap mengurus Barra walaupun dia kepikiran sama keadaan Justin di kamar.
Dirasa Barra sudah mulai kenyang, Moana segera membereskan tempat makan milik Barra ke wastafel. Kemudian, dia membersihkan sisa-sisa makanan di baju Barra sambil mengangkat lalu memangkunya.
Setelah itu, Moana berpamitan sejenak untuk membawa Barra ke kamar supaya bisa mengganti pakaiannya. Tidak lama dari Moana pergi, mereka semua baru saja menyelesaikan makan malam. Sakha langsung mengajak mereka untuk berkumpul di ruang tengah sambil menunggu Moana dan anak-anak.
__ADS_1
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Di dalam kamar Moana segera mencopot semua pakaian Barra sesekali mencuci wajah serta menyikat giginya sebelum tidur. Sehabis itu, Moana kembali mengambil baju Barra yang lebih tertutup agar lebih nyaman untuk tidur.
Selesai Barra mengganti baju, lalu Moana menggendongnya menggunakan kain sambil pergi ke kamar Justin. Perasaan Moana tidak tenang ketika sang anak dari tadi menyendiri di dalam kamar tanpa terdengar suara apa pun.
Sesampainya di depan pintu kamar Justin. Moana mulai mengetuk pintu secara perlahan dan berulang kali. Ya, walaupun Moana tahu jika pintu kamar Justin tidak pernah terkunci, tetap saja dia melakukan semua itu sebagai contoh baik untuk anak-anak yang lagi senang-senangnya meniru tingkah orang yang ada di sekitar.
Moana tidak ingin langsung masuk begitu saja, dikarenakan dia juga sedang menjaga mood Justin supaya lebih nyaman ketika ditemui saat ada masalah.
"Kakak, boleh buka pintunya, Sayang. Ini Mommy sama Ade mau masuk, boleh?" ucap Moana disela-sela mengetuk pintu.
Beberapa detik tidak ada jawaban, Moana kembali mengetuk dan tetap berusaha berbicara kepada Justin penuh kelembutan. Moana berharap Justin bisa membukakan pintu untuk dia masuk, kalau tidak berarti Moana tidak diperbolehkan masuk atau menganggu Justin. Jika ketakutan itu benar terjadi, otomatis Moana akan lebih susah mendekati Justin.
"Kakak sayang, buka dong, pintunya. Izinin Mommy sama Ade masuk ke dalam ya, massa Kakak tega sih, Mommy lagi gendong Ade loh, kalau Mommy capek berdiri terus jatuh gimana?" ucap Moana, suaranya terdengar sangat sedih demi mendapatkan perhatian atau simpati dari putra sulungnya.
Benar saja, hanya berselang beberapa menit Justin langsung berdiri lalu berjalan dengan wajah datar, bibir cemberut serta tatapan yang dipenuhi oleh rasa marah bercampur kecewa.
Mendengar tanda-tanda Justin akan keluar dari kamar, membuat Moana tersenyum. Drama kecil itu telah berhasil dilakukan, Moana benar-benar sangat tahu bagaimana cara menaklukkan hati putra pertamanya tersebut. Dalam hitungan ketiga, Justin membukakan pintu dengan satu tangannya.
Perlahan pintu terbuka lebar bersamaan munculnya Justin yang saat ini wajahnya terlihat sangat kusut, persis seperti pakaian yang baru saja diangkat dari jemuran. Moana bisa merasakan kekecewaan juga kemarahan yang Justin rasakan sekarang, wajar apabila anak kecil belum bisa menerima semua ini.
Jangankan Justin, orang dewasa juga terkadang banyak yang seperti itu. Mereka akan sangat sulit menerima kenyataan pahit, dikarenakan tidak ada satu pun seorang anak yang rela menggantikan sang ayah dengan ayah lainnya.
__ADS_1
Padahal sudah dari kecil mereka telah mengenal siapa ayah mereka, tetapi ketika mereka mulai beranjak dewasa barulah misteri kehidupannya mulai terungkap. Mereka terpaksa harus mengetahui tentang kebenaran jati diri sendiri, kalau ternyata ayah yang selama ini bersamanya bukanlah ayah kandung, melainkan ayah sambung.
"Hai, Kakak. Ade kangen nih, boleh Ade main di kamar, Kakak?" ucap Moana sambil melambaikan tangan mungil Barra ke arah Justin. Di mana Barra menatap intens wajah Justin yang sedang kurang bersemangat, tidak seperti biasanya.
Justin hanya menganggukan kepalanya, lalu membuka pintu dengan lebar mempersilakan Moana masuk tanpa berbicara. Ketika Moana sudah masuk, Justin berjalan lebih dulu meninggalkan pintu yang tertutup sendiri karena menggunakan sensor magnet tertentu. Moana berusaha menahan semua pertanyaan di dalam isi kepalanya, sampai Justin benar-benar sudah bisa diajak berbicara.
Moana kira Justin akan duduk di atas ranjang, tetapi Moana salah. Justin malah duduk di bawah sambil menyandar di sisi ranjang dalam pandangan lurus ke arah depan menatap meja belajarnya.
Tanpa berkata apa-apa, Moana mulai mengikuti apa yang Justin lakukan. Hanya saja, semua itu tidak bertahan lama lantaran Barra menangis karena tidak ingin Moana duduk. Barra hanya ingin Moana berdiri sambil mengayun-ayunkan badannya.
Moana kembali berdiri bersamaan dengan Justin yang membantunya, meskipun menggunakan tangan satu lalu duduk kembali. Begitu perhatiannya Justin terhadap Moana, dalam keadaan marah juga dia tetap bersikap baik. Inilah yang membuat Moana takjub sekaligus bangga, ternyata dia telah berhasil membesarkan Justin dengan sangat baik.
Saat Moana sudah menemukan titik kelemahan Barra yang menangis akibat ngantuk, dia langsung menyusuinya lalu duduk tepat di sebelah putra sulunya.
"Kak, kakak kenapa diam aja, hem? Apa Kakak marah dengan Paman Felix? 'Kan Mommy sudah pernah menjelaskan siapa Paman Felix, terus kenapa Kakak harus marah? Mau bagaimanapun, Paman Felix adalah Ay----"
.......
.......
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...
__ADS_1