
Saat Ernest sudah keluar dari ruangan bersalin, Elice dan Sakha langsung mendekatinya. Mereka terlihat senang penuh kebahagiaan, saat mendengar suara cucu pertamanya telah lahir.
"Selamat, Sayang. Sekarang kamu sudah menjadi seorang Daddy, Bunda seneng dengernya. Sekali lagi selamat, Nak."
Elice langsung memeluk Ernest begitu erat sambil menangis bahagia, inilah hari dimana mereka sudah menunggu kelahiran anak dan juga cucu pertama.
Setelah itu bergantian dengan Sakha yang juga mengucapkan selamat serta di selingi oleh pertanyaan yang membuat Elice menjadi kesal.
"Selamat, Ernest. Kamu sudah menjadi Daddy, bagaimana cucuku? Apakah dia laki-laki atau perempuan?"
"Ayah!"
Elice sedikit membentak suaminya. Dia terlalu antusias untuk memiliki cucu laki-laki, sehingga wajahnya tidak bisa di bohongi.
Ernest yang melihat wajah Sakha terlalu senang bila mendapatkan cucu laki-laki, malah langsung di patahkan oleh perkataan yang sedikit mengurangi ekspresi wajah bahagianya.
"Cucu kalian perempuan, dia sangat cantik seperti Moana. Kulitnya putih, bersih, bibirnya tipis dan juga sangat manis." ucap Ernest, menatap wajah kedua orang tuanya.
"Wahh ... Bunda mau lihat, boleh?"
Wajah Elice begitu senang, mendengar kalau cucunya seorang wanita. Dia tidak terlihat sedih sedikitpun, karena baginya perempuan atau laki-laki semuanya sama. Berbeda sama Sakha, wajahnya terlihat sedikit sedih, sebab semua itu tidak sesuai dengan harapannya.
"Moana lagi nyusuin anaknya, nanti kalau udah di pindahkan kamarnya baru boleh. Jadi, Bunda tunggu aja." jawab Ernest, sambil melirik wajah Sakha.
"Kenapa sama wajah Daddy, perasaan tadi senang banget. Terus kenapa sekarang, murung? Kecewa sama kenyataan?" ucap Ernest kembali.
Elice yang mendengar semua itu langsung menatap suaminya, dia mencoba untuk menasihatinya secara perlahan agar mengerti. Tidak semuanya apa yang kita inginkan bisa terwujud, tetapi kita harus siap menerima kenyataan yang di luar ekspetasi.
__ADS_1
"Sudahlah, Ayah. Mau bagaimana pun, baik perempuan atau laki-laki semua tetaplah cucu kita sampai kapanpun. Lagian nanti juga Moana bisa hamil lagi 'kan, jadi kita tunggu cucu berikutnya saja. Gimana?"
"Woke, kita tunggu sampai kita punya cucu laki-laki. Kalau perlu 11 laki-laki, 5 perempuan gimana? 'Kan ada yang bilang, banyak anak banyak rezeki. Bahkan tiap anak beda-beda rezekinya, jadi---"
"Hyaakk ... Ayah kira istriku ini pabrik anak, apa? Baru juga di jahit udah ngomongin jumlah anak!"
Elice dan juga Sakha langsung tertawa bersama saat melihat ekspresi wajah anaknya yang kesal terhadap mereka.
Tidak ada lagi rasa sedih di wajah Erice, akan tetapi tawa mereka hilang ketika melihat ada yang berubah dari Ernest.
"Tunggu, Ayah. Sepertinya ada yang aneh dari wajah Ernest, apa dia habis nangis ya?"
Sakha yang mendengar perkataan istrinya, langsung menatap wajah Ernest. Dimana dia terlihat gugup dan juga malu. Akan tetapi, dia tetap berusaha untuk terlihat cool.
"Ohya, jangan bilang di dalam kamu nangis karena--"
Ernest yang sudah kalang kabut merasa malu, seketika pergi begitu saja meninggalkan kedua orang tuanya. Elice dan Sakha hanya bisa terkekeh melihat anaknya sudah mulai bucin terhadap istrinya, meskipun gengsinya masih cukup tinggi.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
Sore hari, Moana sudah berada di dalam kamarnya. Mereka hanya tinggal menunggu kedatangan Baby Boy yang masih berada di ruang bayi.
"Akhh .. Bunda tidak sabar mau gendong cucu pertama, kemana sih susternya kok lama banget. Bunda penasaran sama wajahnya, mirip siapa ya?" ucap Elice, duduk di samping bangkar Moana.
"Hehe ... Nanti juga jago--"
Belum juga selesai berbicara, Ernet langsung menyogok mulut Moana dengan jeruk yang sudah dia kupaskan.
__ADS_1
Semua itu demi menutupi apa yang sedang dia kejutkan untuk kedua orang tuanya. Sementara Moana, dia tidak tahu apa yang lagi di rencanakan oleh Ernest.
"Jago? Maksudnya?" tanya Sakha, bingung.
"Ja--"
"Udah jangan banyak omong, makan buah yang banyak biar kondisimu cepat pulih. Biar enggak usah lama-lama di rumah sakit, biaya mahal!"
Lagi-lagi Ernest terus berusaha untuk menahan Moana agar tidak sampai memberitahu kepada kedua orang tuanya. Sakha yang bingung, merasa sedikit curiga. Berbeda sama Becca yang terlihat linglung menatap anaknya.
Moana hanya bisa pasrah atas perlakuan suaminya yang tidak membiarkannya untuk berbicara sama sekali mengenai anak mereka. Sehingga, tidak lama pintu kamar pun terbuka bersamaan dengan masuknya seorang suster yang menggendong Baby Boy.
"Hallo, semuanya. Baby Boy sudah datang, maaf ya lama menunggunya. Tadi, Baby lagi di periksa dulu. Dan sekarang sudah selesai, silakan yang mau melihat."
Sang dokter tersenyum menatap semuanya. Wajah Moana dan Ernest terlihat begitu bahagia, walau di tutupi oleh kedataran Ernest. Akan tetapi, berbeda sama Elice dan juga Sakha.
Mereka terlihat begitu syok saat tahu bila cucu pertamanya adalah seorang laki-laki. Semua itu membuat tanda tanya tersendiri di dalam pikiran mereka. Tanpa basa-basi lagi, mereka berdua langsung mengambil alih untuk menggendong cucunya.
Tatapan tajam dari Sakha membuat Moana menjadi bingung. Seharusnya dia itu bahagia karena cucu pertamanya sesuai sama apa yang dia inginkan, hanya saja reaksi menatap Ernest berhasil mengejutkan Moana.
.......
.......
.......
...***💜💜>Bersambung
__ADS_1