
Hubungan Naya dan Thoms kini sudah membaik. Pertengakaran yang diakibatkan oleh kesalah pahaman dan kurangnya komunikasi di antara dua pihak sudah berlangsur membaik. Mereka mengakui kesalahan satu sama lain yang masih sedikit labil untuk menjalani hubungan pertama kali di dalam hidup mereka.
Tak lupa Naya mengucapkan kata terima kasih atas hadiah yang diberikan oleh sang kekasih supaya memudahkan mereka berkomunikasi. Keduanya saling berpelukan satu sama lain sebagai bukti bahwa, hubungan sudah kembali damai tanpa ada amarah di mata keduanya seperti tadi.
Setelah suasana hati Naya membaik, masuklah seseorang yang tidak lain adalah suster. Dia berjalan sambil memdorong troli makan malam untuk Naya dan kedua pasien lain yang ada di kamar VVIP.
"Permisi, Tuan, Nona, semuanya. Selamat malam, maaf apabila kedatangan saya mengganggu waktu kalian. Saya ke sini hanya ingin mengantarkan makan malam serta obat untuk Nona Naya. Sebelumnya maaf jika telat, soalnya ada sedikit kendalan," ucap suster tersenyum.
Thoms langsung berdiri dari bangkar Naya, kemudian melihat suster dengan tatapan datar. Sementara itu, Naya menyambut suster begitu ramah meskipun, sedikit gugup karena suster itu sepertinya melihat sang kekasih mencium dahinya.
"Ma-malam, Sus. I-iya gapapa, terima kasih." Naya tersenyum canggung, membuat salah satu bodyguard bergerak cepat untuk membenahi meja kecil yang menyatu dengan bangkar.
Setelah itu, makanan untuk Naila disusun serapi mungkin di atas meja kecil. Selesai semuanya, suster berpamitan untuk kembali mengerjakan tugas lainnya dan berpesan supaya Naya memakan semua makanan serta obat yang sudah disiapkan. Dengan begitu kesembuhan gadis itu akan jauh lebih cepat, jika dia memakan serta meminum obat secara teratur.
Seperginya suster dari ruangan Naya, sang kekasih kembali duduk di pinggir ranjang dan mengambil alih untuk menyuapini wanita kesayangannya.
"No! Biarkan aku yang menyuapimu, kamu tinggal buka mulut aja. Oke?" Thoms langsung menyingkirkan tangan Naya dari piring, kemudian dia langsung membuka plastik yang menutupi semua makanan di atas meja kecil.
"Aku makan sendiri aja, lagian aku udah gede loh, masa iya, disuapin. Malulah, sama anak buahmu itu," ucap Naya melirik ke arah dua bodyguard yang ada di sekelilingnya satu persatu.
Bodyguard langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain seolah-olah tidak melihat ke arah mereka berdua, tetapi setelah mengetahui bahwa Naya tidak nyaman akan keberadaan kedya bodyguard. Thoms segera mengambil alih untuk menyuruh mereka keluar dari kamar.
__ADS_1
Tanpa bertanya apa-apa, kedua bodyguard bergegas pergi dari ruangan sambil memberikan penghormatan dengan cara membungkukkan sedikit badannya. Naya tersenyum menatap sang kekasih yang sudah mulai mengerti apa yang dia inginkan.
"Kenapa senyum-senyum gitu, apa kamu baru sadar kalau aku ini tampan, hem?" tanya Thoms sambil mengambil lauk dan memotong kecil supaya masuk di dalam mulut sang kekasih yang kecil itu.
"Isshh, ge'er sekali Kakak ini. Lagi juga siapa yang bilang Kakak tampan, orang aku senyum karena Kakak udah peka sama apa yang aku inginkan. Bosen tahu, tiap detik harus dikhawal bahkan dijaga terus. Udah kaya Tuan Putri aja," jawab Naya, cemberut sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Udah jangan banyak ngomong, sekarang makan dulu. Nanti kalau udah habis baru diterusin lagi ngomelnya."
Thoms mengarahkan sendok ke dalam mulut sang kekasih. Naya hanya mendengus kesal sambil membuka mulut untuk menerima nasi yang masuk ke dalam. Perlahan Naya mengunyah nasi tersebut dengan tatapan mendelik.
Sang kekasih tersenyum sedikit tertawa akibat melihat wajah kesal Naya yang begitu lucu. Selama makan, Naya hanya terdiam mengutak-ngatik ponsel terbaru miliknya untuk menghapalkan di mana letak menu dan lain sebagainya. Tidak lupa semua itu juga atas bimbingan dari Thoms yang mengajarinya sesekali menyuapkan nasi ke dalam mulut.
Kurang lebih 20 menit, Naya selesai menghabiskan makan malam beserta buah yang sudah disiapkan. Selang 10 menit, Naya langsung meminum obatnya sambil terus memaonkan ponselnya yang baru download games seru.
Mereka terlalu asyik memainkan permainan tersebut, sampai akhirnya Naya ketiduran membuat Thoms tersenyum. Perlahan tangannya mengambil ponsel Naya dan menaruh di meja samping bangkar. Setelah itu, sang kekasih membenarkan posisinya menyamping dan mencium kening gadis kesayangan, lalu membenarkan selimut serta memeluknya.
Mereka berdua tidur dalam keadaan berpelukan, di mana Naya dan Thoms sangat nyaman tertidur dalam keadaan seperti ini. Tanpa di sangka, tengah malam Thoms terbangun akibat terkejut ketika bertemu dengan kedua orang tuanya di dalam mimpi.
Orang tua Thoms menyampaikan pesan, bahwa mereka sudah bahagia melihat perubahan Thoms sedikit demi sedikit setelah hadirnya Naya. Mereka berdua meminta Thoms untuk tetap berada di jalan yang baik bersama kekasihnya dan secepatnya meresmikan hubungan mereka supaya dampak baik yang ada pada gadis tersebut tertular padanya.
...🌟🌟🌟🌟🌟...
__ADS_1
Pagi hari, Naya baru saja selesai sarapan pagi dan Thoms selesai membersihkan diri. Keadaan keduanya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Keceriaan, semangat, dan senyuman di antara keduanya terus bertambah membuat hati semakin berbunga-bunga.
Akan tetapi, di saat mereka sedang mengobrol sambil bercanda. Seorang bodyguard masuk dan memberitahu apabila ada keluarga Ernest yang ingin membicarakan tentang masalah mereka, berhubungan dengan bukti yang ada di tangan Sakha.
Thoms terdiam sejenak memikirkan apakah sudah siap mengetahui semua fakta yang ada, atau hatinya masih menyimpan dendam yang besar terhadap Sakha. Namun, berkat kehadiran Naya di samping sang kekasih membuatnya berusaha menahan semua rasa di dalam hati untuk mengontrol emosi.
"Izinkan mereka masuk ke sini, Kak. Semakin kita tunda, masalah itu semakin membuat hidup kita menjadi tidak tenang. Bukannya Kakak mau mengakhiri semua ini? Terus, kenapa Kakak seakan menghindari itu? Apa Kakak takut kalau kenyataan yang dikatakan Tuan Sakha merupakan kebenaran yang sesungguhnya, iya?"
Pertanyaan-pertanyaan yang terus keluar dari mulut Naya membuat Thoms hanya melirik. Dia tidak tahu harus bagaimana menjelaskan tentang isi hatinya saat ini. Satu sisi sang kekasih ingin segera menyudahi semua dendam yang tidak ada ujungnya dan satu sisi lain pria itu masih tidak percaya kalau Sakha bukan orang yang sudah melenyapkan salah satu dari orang tua Thoms.
Tidak ada cara lain untuk menghindari semua itu. Apa pun yang terjadi nantinya, Thoms harus menghadapi semua itu. Baik benar ataupun salah, pria tersebut tidak boleh terus menerus menghindar. Dengan sigap, Thoms meminta bodyguard untuk menyampaikan pesan kepada keluarga Ernest supaya mereka ke ruangan Naya untuk memberikan penjelasan sedetail-detailnya.
Naya tersenyum bangga karena sang keksih sudah menurunkan ego demi hubungan mereka semua. Apalagi, keluarga Ernest adalah keluarga mertua dari sang adik sehingga apa pun itu mereka harus secepatnya menyelesaikan ini agar tidak menimbulkan efek yang semakin besar.
Tak lama Elice, Sakha, dan Ernest datang tanpa Moana dan kedua cucu mereka. Dikarenakan ini urusan orang dewasa, juga kondisi Barra dan Justin masih butuh pemulihan hingga Moana hanya memantau semua itu melalui video call dari ponsel suaminya yang direkam oleh salah satu bodyguard di sana.
.......
.......
.......
__ADS_1
...💜💜>Bersambung<💜💜...