
Tidak terasa air mata Moana kembali menetes perlahan saat dia merasa kasihan terhadap anaknya sendiri. Entah, kesalahan apa yang sudah dia perbuat di masa lalu sampai akhirnya menerima takdir yang begitu perih.
Selama ini Moana telah berjuang untuk menghidupi dirinya sendiri, setelah dia kehilangan keluarganya. Jadi, bagi Moana menghadapi situasi seperti ini tidaklah sulit. Hanya saja, dia sedang memikirkan bagaimana caranya menjelaskan kepada Justin, bahwa Ernest memang bukan Ayah kandungnya.
Mungkin, saat Justin tahu siapa Ernest maka dia tidak akan menyalahkan dirinya sendiri seperti ini. Sakit rasanya, ketika mendengar anak sekecil Justin harus di benci oleh pria yang selama ini menjadi Ayahnya.
Justin tidak salah sedikit pun atas kejadian yang menimpa kedua orang tuanya, tetapi kehadirannya seakan-akan telah menyakiti banyak orang.
"Mommy minta maaf ya, Sayang. Kalau Mommy belum bisa membuat Justin bahagia, tapi Mommy janji. Mommy akan selalu menyayangi Justin lebih dari diri Mommy sendiri. Justin tidak perlu khawatir, suatu saat nanti Daddy tetap tidak bisa menerima kamu di dalam hidupnya, maka sudah saatnya kita harus pergi!"
"Untuk saat ini, Mommy tidak bisa melakukan apa pun. Sebab, Daddymu tidak membiarkan Mommy lepas darinya. Jika dia bisa memperlakukan Mommy seenaknya, maka Mommy juga bisa membuatnya menyesal seumur hidup atas ulahnya sendiri!"
"Mommy hanya minta sama Justin, tumbuhlah menjadi seorang pria yang dewasa, baik, pintar, hebat, sopan-santun dan juga bisa menghormati wanita. Terlepas dari dia salah atau tidak, kamu wajib untuk menjaga perasaannya. Jangan seperti Daddymu, walaupun dia balik. Hanya saja, keegoisannya menutup semua kebaikannya selama ini!"
Moana berbicara di dalam hatinya sambil mencium kepala Justin berulang kali, sambil mengelap air mata yang sudah jatuh di pipinya. Tanpa terasa, Moana ikut tertidur bersama anaknya akibat kelelahan menghadapi sifat suaminya.
Sementara Ernest baru saja kelar mandi, dia langsung turun ke bawah untuk menuju ruang makan. Di sana dia tidak menemukan siapa pun, saat nanya ke pembantu Ernest tidak menemukan jawaban.
Jadi, tanpa harus pusing-pusing berpikir. Ernest segera duduk di kursinya, kemudian mengambil makanan ke piringnya dan memakannya cukup lahap seperti seseorang yang tidak adanya beban pikiran sama sekali.
__ADS_1
Padahal, istrinya sendiri tertidur tanpa memakan apa pun setelah mengurus anaknya. Lalu, kedua orang tuanya masih harus menetralkan rasa sakit hatiya saat melihat perubahan anaknya. Sedangkan Ernest, dia terlihat baik-baik saja dengan segala pemikirannya.
Sungguh, kata-kata yang pantas untuk memberikan julukan pada Ernest adalah pria yang tidak memiliki hati. Hatinya telah mati hanya karena rasa kesalah pahaman dan juga kecemburuannya pada Felix.
15 menit berlalu, saat Ernest sudah selesai dengan makan paginya dan ingin bangkit dari kursinya. Tiba-tiba kedua orang tuanya datang dan duduk di kursinya masing-masing tanpa mengatakan apa pun.
"Bun, kenapa wajahnya pecet? Bunda sakit? Mau Ernest anter ke rumah sakit?" tanya Ernest saat menatap wajah Elice yang sedikit lesu.
"Tidak perlu repot-repot membawaku ke rumah sakit, cukup siapkan lahan kosong untuk jasadku nanti!" jawab Elice, datar.
"Bunda apaan sih, kalau ngomong yang benerlah jangan kaya gini. Mau sampai kapanpun Ernest tidak akan membiarkan Bunda sama Ayah sakit. Kalian harus tetap sehat, kalau perlu Ernest duluan yang akan pergi untuk selamanya!" sahut Ernest, kesal.
Elice hanya terdiam mendengarkan perkataan suaminya, karena apa yang dia ucapkan memang benar. Dari pada mereka hidup hanya untuk melihat perubahan anak kesayangannya yang semakin gila, lebih baik mereka tiada untuk selamanya agar tidak bisa melihat semua ini.
"Cukup, Ayah, Bunda! Ernest sudah tidak tahu lagi harus ngomong apa sama kalian. Ernest tidak mau menyakiti hati kalian lagi!"
Ernest berdiri dari kursinya sambil sedikit menggebrak meja menggunakan kedua tangan sambil menatap satu persatu mata mereka secara bergantian.
"Kalian itu kenapa sih, selalu saja membela Moana dari pada diriku? Apa yang sudah dia katakan sama Ayah dan Bunda, sehingga kalian sudah tidak berpihak padaku? Katakan, Ayah, Bunda. Katakan!"
__ADS_1
"Selama ini Ayah dan Bunda selalu mendukung apa pun yang akan Ernest lakukan, tapi kenapa sekarang berbeda? Apa kalian hanya bisa mengerti perasaan Moana dari pada anak kalian sendiri, iya? Kalau begitu, pantas saja Moana sudah mulai seberani itu padaku, sementara dulu dia tidak pernah melawanku sama sekali!"
"Apa kalian tidak mengerti, sedikit aja tentang perasaanku, bagaimana hancurnya aku, dan juga kecewanya diriku ketika wanita yang telah berhasil membuatku jatuh cinta untuk pertana kalinya, ternyata adalah wanita pembohong besar!"
"Sakit\, Bun\, Yah. Sakit banget hati ini mengetahui siapa Justin yang sebenarnya. Rasanya aku benar-benar terpukul\, pada saat itu sang dokter mengatakan\, bahwa golongan da*rahku dan Justin berbeda. Malahan golongan da*rah Felix yang akurat 99 persen hampir mendekati sempurna. Di situ Aku langsung syok parah\, maka dari itu pikiran dan hatiku masih belum bisa terima semua kenyataan ini!"
"Maaf, kalau sekarang-sekarang Ernest sudah terlalu sering menyakiti kalian, dan membuat kalian setres. Satu hal yang harus kalian tahu, rasa cinta dan sayang Ernest kapanpun tidak akan memudar terhadap kalian!"
Saat sudah selesai mengatakan semua itu, Ernest pergi dari ruang makan menuju kamarnya sendiri dalam keadaan kesal. Kekecewaan terhadap Moana malah semakin membesar, lantaran kasih sayang kedua orang tuanya sudah di renggut olehnya.
Sakha yang melihat istrinya ingin menangis kembali, segera mengelus punggungnya sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
Elice menatap suaminya, matanya mulai berkaca-kaca tetapi harus tetap di paksa buat kuat agar mereka selalu sehat supaya bisa membantu Moana menyelesaikan masalahnya.
.......
.......
.......
__ADS_1
...***💜💜>Bersambung