
Kekuatan Doni perlahan melemah. Dia sudah tidak dapat berteriak sekuat tenaga, selain meneteskan air mata ketika hidupnya harus berakhir seperti ini.
"Sudah cukup, pergilah!" titah Thoms melihat kondisi Doni benar-benar sesuai dengan apa yang sudah diprediksi.
"Baik, Tuan. Permisi!" Bodyguard tersebut keluar dari ruangan itu membawa air keras yang ada di botol juga, gelasnya.
Selepas perginya bodyguard itu, perlahan Thoms bangun dari kursi dan berjalan mendekat ke arah Doni dengan tampang sombong, penuh percaya diri.
"Bagaimana Tuan, apakah sudah cukup? Atau kau masih tidak ingin membuka mulut, hem?" tanya Thoms berdiri tepat di depan Doni sambil melipat kedua tangan di dada. Tidak lupa mengukirkan senyuman penuh arti atas kemenangan yang dia dapatkan.
"Saya tetap akan bungkam," ucap Doni penuh penekanan sambil menahan rasa panas dan sakit di seluruh tubuh.
"Yakin, Tuan? Saya masih punya satu kejutan lagi loh, dan saya pastikan ini akan membuat mulutmu berbicara. Gimana? Apa kau ingin mengetahui kejutan itu dulu, baru membuka suara, hem?" tanya Thoms kembali, memastikan apakah Doni sudah menyerah atau tidak.
Namun, tekad Doni benar-benar kokoh pada pendiriannya untuk memilih tetap diam tanpa menceritakan bagaimana kronologi Tuan Dewa meninggal dunia.
"Dari pada kau repot-repot menghabiskan banyak waktu juga, akal sehatmu untuk bermain dengan saya, lebih baik lenyapkan saya sekarang juga!" pinta Doni, melirik tajam ke arah Thoms.
"Ohh, tidak semudah itu, Tuan. Lagi pula hari ini saya akan menghabiskan banyak waktu untuk sekedar bermain denganmu. Walaupun, tak penting tetap saya menyukai caramu yang tidak gentar akan kema*tian. Padahal, kau sangat tahu betul bagaimana sifat orang yang ada di depanmu ini. Semakin kau menantang, semakin seru untuk saya menghadapimu!" seru Thoms, mengukirkan senyum kecil sambil tangannya menekan luka yang ada di pipi Doni.
"Sstt ... La-lakukan saya apa yang ingin kau lakukan, bagi saya sekalo tidak tetap tidak!" jawab Dion berusaha menahan rasa sakitnya.
"Baiklah!" Merasa tertantang, Thoms kembali melakukan sesuatu untuk terus membuat Doni mengatakan apa yang dia inginkan.
Suara tepukan tangan Thoms bergema. Doni mencoba melihat apa yang akan diterimanya beberapa saat lagi. Jika dibilang keberaniian yang Doni miliki sangatlah besar, tentu tidak. Di dalam lubuk hati, Doni merasa sangat takut. Ingin sekali dia membuka mulut, tetapi tidak mungkin dia mengatakan tentang rasa yang selama ini disembunyikan sendiri.
Walaupun, Thoms sudah tahu kalau Doni terlibat di dalam kema*tian Tuan Dewa. Tetap saja, Thoms tidak mengetahui kronologi dengan jelas sampai Doni begitu pintar melakukan semua aksinya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.
Seorang pria datang membawa satu ember kecil beserta air di dalamnya juga, gayung. Entah dari mana mereka semua mendapatkan itu, terpenting apa yang Thoms perintahkan semua sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
"Lakukan sekarang dengan baik, kita tidak punya banyak waktu!" titah Thoms, tanpa mengulur waktu.
"Siap, Tuan!" ucap bodyguard lain dari bodyguard yang membawa air keras.
Perlahan langkah kakinya mendekat sambil membawa air di dalam ember kecil. Lalu, dia memasukan kurang lebih seperempat bubuk putih ke dalam air. Kemudian, diaduk sampai larut dan tercampur rata.
Doni memperhatikan setiap gerakan yang dilakukan oleh bodyguard suruhan Thoms, sampai dia menemukan sesuatu yang membuat matanya kembali terbuka lebar.
"I-itu ga-garam bukan ya-yang kau masukan?" tanya Doni, suaranya terdengar terbata-bata diselimuti oleh rasa takut berlebihan.
"Ya, Tuan. Kau benar sekali!" jawab Thoms, membuat bodyguard yang ada di situ langsung merinding.
Sumpah, ini benar-benar adegan yang sangat kejam pertama kali Thoms lakukan. Biasanya, Thoms hanya akan menyiksa dalam artinya memberikan sedikit pelajaran. Akan tetapi, kali ini Thoms terlihat seperti seorang spikopat yang haus akan kepuasan menyakiti seseorang.
"Sa-saya mohon, Thoms. Ja-jangan la-lakukan itu pada saya. Sudahi semua permainan ini, lebih baik kau lenyapkan saya sekarang juga. Dengan begitu kau akan puas!"
"Oh, tidak bisa begitu, Tuan. Saya puas ketika mendengar teriakan berulang-ulang kali. Jika sekali teriakan, saya sudah terlalu sering mendengarnya dan tidak seru juga. Jadi, saya akan menghabiskan waktu untuk terakhir kalinya bermain denganmu, sebelum saya mengakhiri semua dan mengubur dalam-dalam bisnis kakek!"
Thoms tertawa lepas karena apa yang akan dilakukan sebentar lagi berbuah hasil. Semua memang sudah sesuai rencana yang sudah Thoms susun dengan baik.
Tidak adamasalah juga untuk Thoms, apabila Doni terus mengucapkan kata-kata kasar padanya. Terpenting, Thoms dapat jawaban apa yang memang dia inginkan sejak beberapa jam lalu.
Kode lirikan mata Thoms langsung membuat bodyguard itu melakukan aksinya. Perlahan air garam mulai disiram dari kepala Doni sampai mengair ke ujing kaki.
Teriakan demi teriakan yang keluar dari mulut Doni berhasil membuat semua bodyguard ikut merasakan penderitaan yang dirasakan olehnya. Mereka mengerti, bahwa tidak selamanya orang yang terlihat setia akan tegap setia. Jadi, jangan pernah memandang seseorang hanya dari luarnya saja. Apabila sudah mengetahui isi dalamnya, pasti akan sangat kecewa. Sama seperti apa yang Thoms rasakan saat ini.
Perlahan air tersebut dikucurkan dari atas kepala membuat Doni dapat merasakan sensasi yang jauh lebih pedih dari apa yang dia rasakan sebelumnya.
Kali ini Doni benar-benar sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit di tubuhnya, sehingga Doni tidak sadarkan diri yang membuat semuanya mengira Doni telah tiada.
__ADS_1
Namun, tidak segampang itu Doni pergi tanpa memberikan penjelasan pada Thoms bagaimana semua itu dapat terjadi pada sang kakek. Sementara, beberapa dokter dan meneliti mengatakan itu benar-benar murni akibat komplikasi penyakit.
"Bagaimana, Tuan. Apakah Tuan Doni sudah meninggal?" tanya salah satu dari kelimat bodyguard.
"Cek napasnya, apakah dia sudah ma*ti!" titah Thoms diangguki oleh bodyguard yang menyiram air garam ke tubuh Doni
"Belum Tuan, napasnya masih jelas. Hanya fisiknya yang lemah." jawabnya setelah mengecek keadaan Doni.
"Ck ... Menyusahkan! Cepat siram dia pakai air murni supaya bangun!" pinta Thoms, segera diambilkan oleh salah satu bodyguard.
Dalam waktu kurang lebih 5 menit, Thoms menyiram air tepat di wajah Doni dengan penuh tenaga. Tanpa hitungan menit, Doni kembali bangun sambil berteriak hingga menangis karena merasakan tubuhnya sudah tidak kuat lagi untuk bertahan.
Thoms tersenyum lebar menyaksikan penderitaan Doni. Kasihan sih, cuma tidak ada jalan lain. Kalau Thoms tidak melakukan ini Doni tidak akan jera.
"Gimana? Sudah ***---"
"Cu-cukup, Thom. Cukup! Saya tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini. Lebih baik, kau lenyapkan saja sekarang!"
"Jika kau ingin ma*ti baiklah, tapi berikan saya penjelasan terlebih dahulu bagaimana kau bisa merencanakan kema*tian Kakek sebersih itu!"
"O-oke, saya akan ceritakan bagaiman saya melakukn semua itu! Setelah itu, lenyapkan saya karena saya sudah tidak kuat menahan semua ini. Kalaupun saya masih bisa hidup, tetap saya akan memilih ma*ti!"
"Ya, ya, ya ... Terserah kau saja! Cepat katakan bagaimana semua itu terjadi!"
"Pada saat itu ...."
.......
.......
__ADS_1
.......
...💜💜>Bersambung<💜💜...