Terjerat Noda Hitam Pernikahan

Terjerat Noda Hitam Pernikahan
Moana Menodongkan Senjata


__ADS_3

Semua orang berteriak kencang ketika melihat Barra terjun bebas dari lantai atas ke lantai bawah. Thoms sengaja melepaskan Barra dari pelukannya, meakipun dia harus menahan rasa sakit karena membun*nuh keponakan sendiri.


Namun, siapa sangka akibat kejadian ekstream tersebut suatu keajaiban tiba. Di mana Ernest bisa berlari begitu kencang sampai berhasil menangkap Barra yang ada di dalam dekapannya.


Mereka langsung terkejut bukan main. Satu sisi mereka syok karena keadaan Barra yang hampir saja terluka akibat ulah pamannya sendiri, dan di sisi lainnya mereka tidak menyangka kalau Ernest bisa langsung sehat demi menyelamatkan nyawa sang anak dalam jarak waktu yang sangat singkat.


"Syukurlah, Sayang. Daddy benar-benar berhasil menyelamatkan kamu, rasanya Daddy senang banget. Maafkan Daddy, Nak. Daddy hampir gagal menjadi seorang ayah untuk kamu, maafin Daddy hiks ...."


Ernest yang belum menyadari atas dirinya sendiri, hanya bisa memeluk erat sambil menenangkannya karena Barra terus menangis akibat terkejut atas teriakan semua orang.


"Aarrghhh ... Si*al! Kenapa kau menyalamatkannya, hahh? Anak itu harus ma*ti hari ini juga!" pekik Thoms dengan suara yang sangat menggelegar seisi rumah.


Penjaga rumah, pembantu bahkan Elice saja tidak kuat melihat kejadian tadi. Di mana rumah ini selalu bersih dari kejahatan, kini harus menyaksikan pembu*nuhan anak sekecil Barra yang hampir tewas ditangan pamannya sendiri.


Untung saja kedua mata, serta telinga Justin ditutup oleh kedua bodyguard atas perintah dari Thoms. Loh, kenapa Barra sendiri yang menjadi tumbal? Kenapa Justin tidak ikut serta untuk dijadikan tumbal? Maka jawabannya hanya satu. Barra mengandung da*rah dari keturunan Sakha yaitu, Ernest yang melekat jelas. Sementara Justin, anak kecil itu berasal dari darah daging Felix yang tidak ada sedikit pun da*rah Sakha mengalir di dalam da*rahnya.


"Cukup, Tuan! Hentikan kekejamanmu ini, jangan sakiti cucu-cucuku serta anakku. Biarlah semua dosa itu saya yang menanggungnya, jangan mereka semua!" teriak Sakha berusaha berdiri dan langsung mendapatkan lirikan tajan dari mata Thoms.


Ingin rasanya Thoms menembak lepas peluru yang ada di dalam senjatanya, tetapi dia tidak boleh gegabah. Kompleks yang ditempati keluarga Ernest sangatlah padat, sehingga sekali saja mereka mengeluarkan suara ledakan maka dalam hitungan detik semua warga sudah mengepung rumah tersebut.


"Cihhh ... Peng*ecut! Kau tidak ingin cucumu terluka, tapi yang berusaha keras untuk menyelamatkannya anakmu. Dasar pria lemah! Kau hanya bisa berlindung dibawah ketiak istrimu, sampai kau lupa betapa kejamnya sifatmu dulu ketika menghabisi semua pengawal keluargaku tanpa memikirkan nasib keluarga mereka satu persatu!"


Thoms terus mengoceh sambil menuruni anak tangga dengan lirikan mata tidak lepas dari pandangan Sakha. Dalam hitungan detik, Thoms sudah berada tepat di depan Ernest. Mereka berdua saling menatap satu sama lain, hingga terjadilah pertikaian. Kemudian, Thoms memberikan salah satu kode pada anak buahnya untuk memegangi Ernest karena Thoms akan mengambil Barra kembali.


"Jangan sentuh aku! Lepaskan aku, jangan ambil anakku, aku mohon, Tuan. Jangan sakiti dia. Barra tidak bersalah dalam hal apa pun, ini semua tidak ada kaitannya masa lalu ayahku dengan masa depan anakku. Aku mohon, Tuan. Jangan sakiti dia, aku mohon hiks ...."

__ADS_1


Ernest menangis terus berusaha melepaskan diri dari kedua bodyguard Thoms yang lain. Sayangnya, tubuh Ernest semua terkunci erat sampai tidak memiliki celah sedikit saja untuk bisa kembali menyelamatkan putra kecilnya.


Elice, Sakha, Justin dan semua yang melihat itu berlomba-lomba untuk memohon ketika Thoms kembali menaiki satu persatu anak tangga. Hanya saja tidak ada satu orang yang berhasil membuat mata hari Thoms terbuka.


Suara tangisan Moana selaku adik kendung, bahkan ibu kandung Barra tidak digubris sama sekali. Apalagi Justin selaku kakak dari Barra, serta ponakan kandung Thoms juga tidak bisa melarang sang paman untuk tidak menyakiti adiknya.


Tidak hanya itu, Kanaya pun ikut serta melarang Thoms. Akan tetapi, Thoms berusaha keras melawan hati demi menuntaskan semua balas dendam yang sudah lama dia simpan rapat-rapat beberapa tahun lamanya.


Sampai dipertengahan anak tangga, terdengar suara yang membuat Thoms langsung menghentikan kedua kakinya. Segera mungkin Thoms berbalik dan melihat apa yang telah terjadi.


"Nyonya, saya mohon dengan sangat lepaskan Nona Nay!"


Bodyguard itu meminta pada Moana untuk melepaskan Nay. Moana berhasil melepaskan diri ketika memiliki celah, serta tidak lupa dia juga berhasil mengambil senjata dari salah satu bodyguaed itu. Kemudian, dengan cepat Moana langsung menodongkan pistol tepat dikepala Nay sambil mengunci lehernya.


"Kalau aku tidak ingin melepaskannya kenapa, hah? Apa yang akan kalian lakukan padaku? Ingin membun*uhku juga, gitu? Ayo, silakkan! Cepat, bun*uh aku. Dengan senang hati aku akan sangat bahagia jika wanita ini ikut bersamaku ke akhirat!"


"Silakkan, saya tidak takut dan saya tidak peduli! Jika Tuan kalian tidak melepaskan seluruh keluargaku, serta mengembalikan Barra pada suamiku. Maka, dia akan kehilangan 2 wanita yang dia sayangi sekaligus selama hidupnya!"


Degh!


Thoms benar-benar tidak menyangka, semua ini akan terjadi. Di mana adiknya sendiri berani mengancam seluruh bodyguard, serta dirinya yang jelas-jelas ketua Mafia.


Namun, bukan itu yang Thoms takutkan. Dia bisa saja meminta bodyguard untuk segera mengamankan Moana, hanya saja Thoms sendiri takut kalau sampai sang adik nekat menggunakan senjata yang sama sekali tidak dia gunakan. Maka, semua itu akan fatal akibatnya untuk nasib Nay yang ada ditangan Moana.


"Menjauhlah! Jangan ada yang bertindak tanpa arahan dari saya, mengerti!" pinta Thoms, membuat semuanya bodyguard menjauh sambil melepaskan satu persatu anggota keluarga yang ada di rumah itu.

__ADS_1


"Baik, Tuan!" jawab mereka semua serentak sambil terus memperhatikan gerak-gerik semua orang, sesekali melihat Thoms yang perlahan kembali menuruni anak tangga.


"Mo-mommy? Mo-mommy ngapain me-megang senjata i-itu? A-apa Mommy ju-juga h


Jahat se-seperti Papah?" tanya Justin, syok melihat Moana menodongkan senjata yang tidak pernah dipegangnya sama sekali.


"Nanti Mommy akan jelaskan, Sayang. Larikan ke arah Daddymu, cepat!" pinta Moana membuat Justin bingung.


"Tapi, Mom ...."


"Cepatlah, Sayang! Larilah ke arah Daddymu, jangan sampai orang jahat itu kembali menyakitimu. Ayo, Justin!"


Moana terus meminta Justin untuk berada disamping Ernest supaya jauh lebih aman, daripada Justin berdiam diri yang nantinya akan menjadi sasaran mereka atas kelemahan Moana.


"Cepat, Sayang. Kemarilah!" Ernest menyetujui apa yang Moana lakukan. Hanya dengan seperti itu Ernest bisa kembali memeluk anaknya satu persatu. Walaupun, Ernest sangat takut akam nasib sang istri.


Namun, dia sangat percaya apa yang Moana lakukan itu tidak akan berakibat fatal. Dikarenakan Moana adalah satu-satunya keluarga Thoms yang tidak mungkin disakiti.


Tanpa berpikir panjang, Justin berlari ke arah Ermest dan memeluknya berkat suruhan dari semua orang yang meminta Justin untuk berada didekat sang ayah demi keselamatannya. Moana tidak ingin mengambil resiko berat atas masa depan sang anak yang masih sangat panjang.


.......


.......


.......

__ADS_1


...💜💜>Bersambung<💜💜...


__ADS_2